Di blog anak saya (baca ini) pernah ditulis tentang semaraknya bunga pohon bungur yang indah. Memang sangat indah kalau pohon bungur sedang dalam keadaan berbunga, seluruh ujung ranting akan ditumbuhi bunga-bunga yang berwarna cerah. Kalau pada tulisan ini saya menulis sisi lain yang berbeda bahkan mungkin kontradiktif dengan tulisan di blog anak saya itu.

Tulisan ini menceritakan tentang sebatang pohon bungur yang ternyata dimanfaatkan pihak tertentu yang kurang semestinya. Jika pohon bungur ini tumbuh di sepanjang jalan sebagai pohon peneduh, tetapi kemudian dimanfaatkan untuk keperluan lain.

Pohon bungur yang menjadi bahan kisah ini tumbuh sebagai tanaman peneduh yang berada satu deret dengan pohon bungur yang lain di sepanjang jalan di seputaran kampus UGM. Tepatnya adalah di jalan lingkungan di selatan tempat parkir kendaraan komplek fakultas Kedokteran Gigi UGM. Pohon ini berada di sisi utara jalan tersebut dan berjajar cukup rapi di bagian trotoar jalan tersebut. Dengan keberadaan pohon yang diduga sudah berumur puluhan tahun ini maka terlihat sangat cantik dan membuat teduh suasana. Usian pohon yang tua ini terbukti dari batang pohon yang kokoh dan terlihat keras.

Deretan pohon bungur ini kalau sedang musim bunga akan memperindah jalan lingkungan tersebut. Bunga bungur yang cantik ini akan memperlihatkan semarak warna ungu yang cantik dan kemudian berubah menjadi putih kecoklatan saat layu. Memang semarak ini berlangsung singkat tidak lebih dari dua minggu, namun tentu saja akan menarik banyak perhatian banyak orang. Setelah kelopak bunga rontok maka akan diiringi dengan munculnya bakal buah dari tangkai bunga yang ada. Pertumbuhan pohon ini selanjutnya akan diiringi dengan perontokan daun untuk kemudian bertunas kembali pada periode pertumbuhan berikunty. Proses seperti ini akan berulang dan yang paling menarik perhatian tentu pada saat pohon ini berbunga.

Soal nasib malang dari sebatang pohon bungur yang ingin saya ceritakan ini karena terkiat dengan oluh oknum pegawai PLN. Di deretan pohon bungur di lokasi tersebut kalau diamati secara sekilas tidak ada yang aneh, seperti halnya deretan pohon peneduh di tempat lain. Tetapi pada satu bagian sebenarnya terdapat tumpukan tiang listrik yang mestinya adalah milik Perusahan Listrik Negara atau PLN. Tidak mungkin tiang listrik ini dimiliki oleh pihak lain yang tidak berkepentingan dengan tiang listrik. Di bawah salah satu pohon tersebut tergeletak tumpukan tiang listrik yang siap pasang. Sekilas tidak ada yang salah dalam hal situasi tersebut.

Tumpukan tiang listrik menunggu diangkut, lokasi selatan FKG UGM.

Tiang listrik ini saya cermati terkadang sering teronggok di lokasi itu sampai beberapa bulan. Kemungkinan tiang listrik itu diangkut oleh pihak PLN untuk didistribusikan lebih lanjut pada lokasi pemasangan yang telah ditentukan. Dari sisi pengangkutan yang efektif , tiang listrik ini umumnya dibawa dari tempat produksi dalam jumlah besar dan mungkin berlebih menyesuaikan dengan kapasitas alat angkut yang digunakan. Dengan pertimbangan jumlah atau karena lokasi tak dapat diakses dengan kendaraan besar maka tiang listrik ini perlu diturunkan terlebih dahulu di suatu tempat. Salah satu tempat yang dipilih ternyata adalah di bilangan kampus UGM tersebut, yaitu di bawah salah satu pohon bungur.

Pada proses pemindahan berikutnya dengan menggunakan truk kecil oleh PLN inilah yang kemudian melibatkan peran pohon bungur ini. Tiang listrik yang berat dan berukuran panjang ini tidak mungkin diangkat atau dipindahkan dengan tenaga manusia biasa. Untuk itu diperlukan alat derek atau katrol. Dari beberapa kali kejadian yang kebetulan saya lihat, ternyata oknum pegawai PLN ini tidak menggunakan piranti derek atau katrol yang dibenarkan. Mereka justru menggunakan katrol kecil yang disangkutkan pada batang pohon bungur yang ada di atasnya. Tiap-tiap batang tiang listrik itu diangkat ke bak truk dengan menggunakan katrol tersebut.

Pihak PLN mestinya menyediakan peralatan yang lebih memadai dan standar untuk keperluan tersebut. Jadi proses pengangkatan tiang listrik lebih dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan yang perlu dimiliki di setiap wilayah kerja PLN ini berupa alat katrol yang standar. Jadi bukan berupa alat katrol sederhana yang digantungkan pada sebatang pohon bungur yang tumbuh di tepi jalan.

Jika memang dirasa menjadi suatu beban untuk pemindahan alat katrol ke lokasi di bilangan kampus UGM itu, mungkin akan lebih bijak jika PLN tidak menjadikan wilayah umum untuk lokasi penyimpanan tiang listrik sementara. Pihak PLN dapat menjadikan wilayah hak milik mereka sendiri, sebagai contoh kalau untuk di dekat wilayah kampus UGM adalah di daerah gardu listrik Banteng, jalan Kaliurang km 8. Dari sisi jarak saya kira relatif tidak terlalu jauh.

Dengan demikian tentunya diharapkan fungsi bahu jalan tetap berfungsi sebagai trotoar untuk tempat orang berjalan kaki. Dari sisi keindahan, tumpukan tiang listrik ini tentunya akan mengurangi keindahan estetika lingkungan. Dari sisi peri-kepohon-bunguran, tidak ada pemerkosaan batang pohon bungur untuk menjadi gantungan katrol saat pengangkatan tiang listrik ke dalam truk.

Pihak PLN hendaknya dapat mengatur teknis di lapangan ini untuk tidak sewenang-wenang. Pihak UGM sebagai pengelola tempat di mana kejadian ini berlangsung juga mestinya dapat mengingatkan kembali dengan bijak. Semoga ada pembenahan dan kebijakan yang akan dilakukan.

Iqmal Tahir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s