Ada satu iklan kecil di harian lokal Yogyakarta yang cukup menarik perhatianku. Iklan tersebut adalah dikeluarkan dari pembeli kertas bekas untuk didaur ulang kembali. Bunyi iklan tersebut adalah kesanggupan untuk menjaga kerahasiaan dan privacy dari penjual. Hal yang menarik adalah tadi mengapa harus ada unsur kerahasiaan penjual dalam transaksi tersebut ?

Iklan jual beli kertas bekas di harian lokal Yogyakarta.

Tentu saja akan muncul banyak pertanyaan bagi orang awam yang tidak terbiasa dalam kasus jual beli kertas bekas. Pertanyaan serupa akan menjadi tanda tanya besar. Rahasia apa yang harus dijaga ? Mengapa privasi dari penjual juga harus dijaga ? Apakah akan ada sesuatu hal yang menjadi kasus jika kerahasiaan tidak terjaga ? Apakah ada sesuatu kejahatan jika terjadi transaksi jual beli kertas bekas ?

Ditinjau dari obyek yang diperjualbelikan dalam penawaran iklan tadi adalah berupa kertas bekas. Kertas ini bisa berujud kertas bekas pakai, kertas sisa, kertas yang sudah tidak dipergunakan lagi atau mungkin kertas rusak. Dari sisi bentuknya bisa jadi berupa kertas koran bekas, kertas karton bekas hasil sisa pembungkus atau kemasan, kertas dokumen atau kertas lainnya. Kertas-kertas ini akan dikumpulkan berdasarkan jenisnya untuk didaur ulang di pabrik. Pada skala kecil kertas juga ada yang didaur ulang untuk dibuat bahan dasar kerajinan tangan. Tetapi lebih banyak lagi kertas yang dipergunakan untuk memenuhi keperluan pasokan pabrik kertas yang mengolah kertas daur ulang.

Pemungut dan pengumpul kertas bekas dalam skala kecil biasa dilakukan oleh para pemulung. Pemulung mengambil kertas koran dari tempat sampah dari berbagai sumber, terutama yang berlokasi di perkantoran atau sekolah. Hasil pengumpulan kertas bekas ini kemudian disetor ke pengepul untuk kemudian ditampung sampai jumlah banyak dan pada akhirnya akan lari ke pabrik pendaur ulang kertas.

Tumpukan kertas bekas yang sudah tidak dimanfaatkan pemiliknya lagi.

Dalam perkembangannya, kertas bekas dinilai sebagai sampah yang memiliki nilai jual tersendiri. Penghasil sampah kertas mulai berpikir untuk mengumpulkannya terlebih dahulu. Sampah kertas yang biasanya setiap hari atau setiap waktu akan dibuang, saat ini kemudian ditampung terlebih dahulu dan ditumpuk di suatu tempat. Setelah terkumpul banyak, dapat dijual kepada pemulung. Kalau di rumah tangga, sampah kertas bisa saja berupa kertas koran, majalah, kertas pembungkus, kertas sisa pekerjaan atau sekolah, buku tulis dan lain-lain. Di rumah, pengumpulan kertas bekas dilakukan oleh ibu atau siapa saja yang disuruh mengumpulkan. Kalau dari kantor, kertas bekas berupa kertas-kertas bekas sisa dokumen yang sudah tidak dipergunakan lagi, dari dokumen draft, amplop ataupun catatan. Di sekolah, kertas bekas dapat berupa kertas bekas catatan administrasi, tugas sekolah yang sudah dinilai, buku bekas dan lain-lain. Untuk kantor dan sekolah ini biasanya kertas dikumpulkan oleh petugas kebersihan. Ada lagi sampah kertas dari pertokoan yang umumnya berupa sisa kemasan atau pembungkus alat berupa kertas karton.

Kertas ini biasanya disortir berdasarkan jenisnya untuk kertas karton, kertas hvs putih, buku, kertas koran dan majalah. Masing-masing dipilih untuk ditimbang dan dihitung harganya berdasarkan berat dan jenis kertas bekas tersebut. Ada juga yang dibeli dengan standar harga borongan. Untuk pengepul biasanya sudah ditentukan berdasarkan jenis-jenisnya. Ada beberapa jenis kertas yang kurang begitu laku seperti kertas hvs warna, kertas terlaminasi dan plastik mika.

Hasil yang diperoleh dari penjualan kertas bekas ini terkadang lumayan dapat memberi tambahan uang saku bagi para pengumpulnya. Kalau di rumah, hasil penjualan kertas tentunya digunakan untuk tambahan uang belanja sehari-hari. Kalau penjualan kertas oleh petugas kebersihan di kantor atau sekolah, hasil penjualan kertas bekas akan menjadi hak dari petugas yang mengumpulkan ini. Hal ini dapat menjadi rejeki tambahan bagi petugas yang mengumpulkan dan menjual sampah kertas ini.

Dengan diketahuinya ada nilai ekonomis dari kertas bekas ini, maka kemudian pengumpulan sampah kertas ini menjadi hal yang umum. Dalam perkembangannya tentunya berbagai macam jenis kertas yang sudah tidak dimanfaatkan lagi cenderung akan dibuang saja daripada disimpan begitu saja. Kertas-kertas ini tentu akan dikumpulkan untuk kemudian dijual. Pada beberapa kasus hal ini menjadi sorotan tersendiri apabila dilakukan secara terbuka dan tidak selektif.

Sebagai contoh adalah di suatu kantor atau perusahaan, berbagai dokumen baik itu sebagai draft, naskah surat, catatan administrasi dan lain-lain, bisa jadi merupakan suatu hal yang masih harus dijaga dan tidak boleh dibocorkan. Namun apabila hal itu sudah menjadi sampah dan kemudian dijual sebagai kertas bekas, maka bisa jadi hal ini dapat disalahgunakan oleh pihak yang tidak berkepentingan.

Contoh lain adalah di sekolah, salah satu jenis sampah kertas yang biasa dihasilkan adalah kertas bekas ulangan atau ujian. Dokumen seperti ini tentunya tidak boleh dibuang begitu saja. Jika kemudian harus dijual, maka diperlukan kerahasiaan untuk tidak disalahgunakan. Sebenarnya akan lebih baik lagi jika kertas hasil ulangan dikembalikan lagi ke siswa daripada hanya sekedar dijual kiloan. Masih terkait dengan kertas bekas di sekolah atau di kampus adalah kertas tugas seperti laporan praktikum atau tugas karya tulis mahasiswa. Tugas yang sudah dinilai ini kalau terkumpul banyak akan menghasilkan tumpukan kertas bekas. Bisa jadi hal ini akan teronggok dan mendorong orang untuk mengumpulkannya menjadi sampah yang dapat dijual. Kalau penjualan kertas bekas ini dilakukan secara terang-terangan mungkin dapat menjadi sorotan bagi penjualnya oleh pihak sekolah atau ada kesan negatif dari para siswa dan mahasiswa. Jadi memang penjual perlu untuk memperoleh kerahasiaan saat menjual kertas bekas ini.

Pada beberapa harian surat kabar pernah diberitakan terjadinya kasus penjualan kertas bekas yang berakibat dengan tindakan pelanggaran hukum. Laporan karya ilmiah berupa skripsi atau tesis diketahui telah dijual sebagai barang bekas. Kalau skripsi tersebut dijual sendiri oleh penulis maka hal ini tidak menjadi masalah, tetapi jika kemudian dijual oleh oknum dari suatu perpustakaan atau fakultas maka hal ini berarti tindakan penyalahgunaan. Bisa saja skripsi tersebut suatu dokumen yang telah diberi status kedaluwarsa mungkin karena ada koleksi dokumen yang ganda. Saat ini juga banyak pembuatan digitalisasi karya ilmiah sehingga koleksi dalam bentuk hard copy skripsi sudah tidak diperlukan lagi. Namun tentu saja tidak berarti skripsi tersebut kemudian dapat dijual bebas dalam bentuk sampah kiloan. Mungkin penjualan sampah kertas seperti inilah yang memerlukan kerahasiaan ketat dari pihak penjualnya.

Untuk diketahui saat ini, ada beberapa pihak yang memang menyediakan dan memperjualbelikan skripsi di pasar gelap. Sebagai contoh di kompleks Shopping Yogyakarta, penjual tertentu dapat menyediakan keperluan contoh dokumen skripsi dalam berbagai bidang ilmu. Skripsi yang berupa copy dokumen yang hanya distaples saja dapat diperoleh, bahkan yang berupa skripsi yang sudah terbundel rapi juga ada. Dokumen seperti ini sangat besar peluangnya berasal dari hasil pengumpulan para penjual sampah kertas bekas yang memilah-milah kertas ini. Terkait dengan kerahasiaan penjual kertas bekas itu, tentunya tidak dapat ditelusuri siapa para penjualnya.

Ada satu hal lain yang mungkin memerlukan kerahasiaan dari penjualnya adalah jika seseorang merasa malu untuk diketahui melakukan transaksi penjualan kertas bekas. Hal ini mungkin dipengaruhi karena keberadaannya atau soal latar belakang lingkungannya. Alasan ini boleh jadi memang memerlukan kerahasiaan dan privasi untuk penjualan kertas bekas.

Dari sisi pembeli atau penampung kertas bekas ini, kerahasiaan dapat dijamin. Hal ini boleh jadi karena mereka komitmen untuk mengolah kertas bekas ini langsung tanpa dicek lagi untuk kemudian dipilah-pilah berdasarkan jenisnya dan disetorkan ke pabrik untuk didaur ulang. Namun tentu saja akan sangat besar peluang bagi para pegawainya mungkin untuk mengambil jenis dokumen atau kertas tertentu untuk dipilih tanpa diketahui oleh pengawas. Penyalahgunaan sampah seperti ini masih bisa saja terjadi.

Sebenarnya ada cara lain untuk pencegahan terjadinya kebocoran dokumen ke pihak yang tidak bertanggung jawab. Caranya adalah dengan penghancuran dokumen secara fisik, misal dengan cara dicacah lewat mesin penghancur dokumen. Hasil potongan inilah yang kemudian dijual kiloan sebagai sampah. Hanya saja belum banyak pengepul yang mau menerima sampah kertas dalam bentuk cacahan seperti ini karena menganggap sampah bercampur berbagai jenis kertas.

Alat penghancur kertas atau paper shredder.

Dari uraian ini, maka sebenarnya peluang menjaga kerahasiaan dokumen kertas yang sudah dianggap sebagai sampah dan akan dijual, tetap ditentukan oleh pihak penjual. Walaupun pihak pembeli sudah meyakinkan untuk menjaga kerahasiaan, sangat boleh jadi hal ini akan tetap dapat merugikan karena tidak ada jaminan yang kuat. Oleh karena itu cobalah selalu selektif dan jika perlu ada tindakan pencegahan seperti pencacahan terlebih dahulu untuk dokumen-dokumen tertentu.

Saran lain, kalau yang akan dijual dalam bentuk buku, mengapa tidak dicoba saja untuk menyumbangkan buku-buku bekas tersebut kepada berbagai pihak yang mungkin lebih memerlukan ? Untuk buku-buku pelajaran sekolah yang setelah kenaikan kelas, mungkin hal ini sudah tidak diperlukan lagi. Daripada buku pelajaran dibuang, maka dapat disumbangkan ke keluarga yang memiliki anak dengan kelas yang sama. Manfaat dari penyumbangan buku ini mungkin jauh lebih besar daripada sekedar uang yang diterima kalau dijual begitu saja sebagai kertas bekas.

Demikian juga kalau ada yang mau membuang buku referensi kimia bekas, bolehlah kontak saya saja, daripada dikilokan….

Iqmal Tahir

Iklan

10 responses »

  1. lintas-oto berkata:

    Mantaf artikelnya gans… senang bisa berkunjung ke situsnya :)…
    Numpang promo :
    Motor Listrik dengan Pendaur Ulang Energi KERS…

  2. abenk berkata:

    gan punya koran bekas ga ane butuh banyak per hari kalau ada 1-2 ton tol kabarin ke email ane atau sms 081288461954 serius

  3. Robbyobby berkata:

    memang kalo limbah kertas nisa dijual dengan harga berapa gan untuk 1 kilonya?? trus jika kertas koran gitu dijual laku berapa??mohon info ya , karena saya ada lahan luas dulu digunakan percetakan. karena sudah tidak jalan.bangunan saya gunakan utk menimbun kertas2x bekas dan kardus2x..total mungkin banyaknya serumah ukutan tipe 45..mohon balas ke email saya ya gan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s