Tulisan ini terinspirasi dari melihat poster penyuluhan dalam bentuk baliho di suatu daerah asal saya di daerah Banyumas. Hal ini tentu saja akan selalu mengingatkan saya bahwa kadang penyuluhan masyarakat tidak efektif kalau dilakukan dengan menggunakan bahasa ilmiah yang tinggi dan muluk-muluk. Banyak hal justru perlu disampaikan melalui komunikasi efektif dengan menggunakan bahasa sederhana yang dikenal khalayak luas. Tidak saja untuk penyuluhan masyarakat dalam hal kehidupan sehari-hari seperti masalah kesehatan, perilaku sosial atau bahkan juga peningkatan keterampilan lain misal bidang pertanian, peternakan atau yang lainnya. Jika penyampaian dilakukan dengan bahasa yang mudah dan tentu saja disertai contoh yang memasyarakat, niscaya tujuan penyuluhan akan tercapai dan ditiru oleh masyarakat.

Penyuluhan dan pendampingan pada masyarakat semestinya adalah bentuk kewajiban dari pemerintah dan hal ini diaplikasikan oleh petugas dari dinas terkait di masing-masing daerah. Dari pihak perguruan tinggi pun ikut bergerak dengan mendukung pola serupa dalam bentuk program pengabdian pada masyarakat. Dosen pun harus turun untuk menularkan pengetahuan dan keterampilan tepat guna yang dimilikinya untuk ikut membantu mengentaskan kemiskinan dan menaikkan taraf hidup masyarakat. Bahkan mahasiswa pun dari berbagai perguruan tinggi diwajibkan ikut berpartisipasi dalam program pengabdian pada masyarakat ini melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN). Program ini pun menjadi salah satu unggulan dan ciri khas dari universitas tempat saya mengabdi di UGM ini. Tujuan penyuluhan dan pendampingan masyarakat ini mestinya memerlukan interaksi dan kegiatan aksi turun langsung dengan masyarakat di berbagai daerah.

Penyuluhan dapat dilakukan dalam berbagai macam bentuk. Kesemuanya jika mungkin harus melibatkan interaksi langsung dengan masyarakat sasaran, misal dengan mendatangi pada daerah yang menjadi tempat tinggal masyarakat yang bersangkutan. Bentuk penyuluhan dapat dilakukan dalam model ceramah, praktek atau pendampingan. Jika kegiatan berlangsung seperti ini tentu saja memerlukan sarana pendukung seperti leaflet informasi, poster atau alat peragaan lainnya. Bahkan jika perlu dibuat suatu contoh untuk praktek langsung. Poster dan leaflet perlu ilustratif dengan gambar visual dan contoh sehingga dapat diketahui dengan mudah dan sederhana.

Untuk penyuluhan dan praktek terkadang masyarakat  sebenarnya sudah banyak mengetahui atau memahami hal-hal tertentu yang diberikan. Hanya saya memang pemahaman masyarakat mungkin berbeda dalam hal persepsi dan penilaian. Pada kondisi seperti inilah diperlukan penyuluhan yang bersifat memotivasi dan pendampingan bukan untuk menggurui masyarakat. Apabila masyarakat sudah menerima pemahaman yang berlaku sebenarnya atau sudut pandang lain yang lebih baik, mungkin resistensi masyarakat akan rendah dan justru akan menerima atau bahkan melakukan apa yang diberikan dalam materi penyuluhan.

Di dalam penyampaian materi, apabila dikemas dengan bahasa sehari-hari para pendidik atau mahasiswa yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, mungkin menjadi suatu yang ilmiah. Akan tetapi hal ini juga akan menjadi materi penyuluhan juga akan tidak tersampaikan. Hal ini karena masyarakat menjadi tidak paham dengan banyak istilah akademik yang kurang dikenal dalam pergaulan masyarakat sehari-hari. Untuk itu, hal seperti inilah yang diperlukan dengan bahasa yang sederhana.

Penggunaan bahasa sederhana dan jika mungkin menggunakan bahasa setempat  sebagai ilustrasi akan membantu penangkapan materi. Suasana penyuluhan juga pasti akan cair tanpa ada suasana formal. Bentuk aktivitas seperti ini tentu akan membantu dalam hal alih materi untuk diterima masyarakat peserta.

Contoh penggunaan bahasa sederhana dan bahkan dilakukan dengan bahasa setempat selain dilakukan saat praktek penyuluhan, ternyata juga dilakukan dengan media baliho yang terpasang di jalan-jalan. Pada poster yang umum dilakukan dengan teks menggunakan bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia, ternyata juga dapat dan telah dilakukan dengan bahasa setempat yang terkesan kurang formal. Tanpa mengurangi keformalan poster, tujuan penyampaian materi yang ingin disampaikan akan lebih tercapai. Hal ini tentu saja karena target yang menjadi sasaran adalah masyarakat setempat bukan para pejabat atau pengunjung yang lewat di jalan tersebut.

Aja padha ngising saenggon-enggon.

Aja padha ngising saenggon-enggon (Jangan buang air besar di sembarang tempat).

Seperti yang saya sebutkan di bagian atas, bahwa ada baliho poster yang menarik perhatian karena berbeda dari poster yang biasa terlihat. Teks pada poster tersebut “Aja pada ngising saenggon-enggon”. Baliho ini terpasang di simpang pertigaan jalan di desa Limpakuwus, kecamatan Baturaden, kabupaten Banyumas. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa dengan logat Banyumas yang medok yang memang digunakan di masyarakat setempat.

Maksud poster itu adalah untuk peningkatan kesadaran masyarakat setempat untuk melakukan aktivitas buang air besar di toilet atau WC yang dibuat dengan memenuhi standar kesehatan. Aktivitas buang air besar yang biasa dilakukan masyarakat setempat seperti di sungai, di bawah pohon atau di kolam ikan agar ditinggalkan. Maksud yang ingin disampaikan itu disajikan dalam gambar visual yang sesuai dengan pengantar teks sederhana seperti tertulis di atas. Tentu saja materi juga diberikan dengan bentuk kegiatan lain seperti penyuluhan langsung, kunjungan langsung ke rumah, pembuatan contoh WC yang sehat dan memenuhi aspek sanitasi yang baik. Pada akhirnya memang cara seperti ini dapat membantu tujuan yang ingin dicapai untuk mengubah pola kebiasaan sehari-hari. Hal yang tadinya terlihat sulit untuk diubah, lama kelamaan dapat diubah dengan pendekatan yang sesuai.

Siapa ya yang mau logonya saya promosikan saat presentasi ?

Powerpoint boleh pakai bahasa resmi, penyampaian yang perlu dengan lebih komunikatif.

Mungkin hal ini besok bisa ditiru oleh para calon pemimpin atau anggota dewan saat kampanye. Daripada membuat poster yang memuat gambar foto diri yang narsis atau slogan-slogan hiperbolik serta janji muluk-muluk yang lebih banyak terkesan gombal, mungkin perlu dibuat dengan teks sederhana dan lebih merakyat. Saya yakin pemilih akan lebih memerhatikan calon yang lebih dikenal dan dipahami meskipun hanya mengenal dari poster yang merakyat.

Salam penyuluhan…

Iqmal Tahir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s