Malam hari setelah pameran Biomalaysia usai hari kedua di KLCC, saya bersama beberapa teman berkesempatan berjalan-jalan sekedar mencari makan malam dan cuci mata. Kalau dua malam sebelumnya hanya mencari makan malam yang dekat hotel di lokasi jalan P Ramlee yang banyak tempat hiburan malam, maka malam itu pindah ke lokasi lain.

Kalau dua malam sebelumnya di lokasi yang di dekat hotel walaupun makanan kaki lima dengan harga yang standar, tetapi ada bonus tambahan lain berupa pemandangan gadis-gadis thai dan cina yang ‘miskin’. Arti miskin di sini tentu saja bukan bermakna harfiah, melainkan untuk mengungkapkan jenis pakaian yang relatif minim. Mereka yang sebagian besar dapat diduga bekerja atau beraktivitas di bar-bar tempat hiburan malam yang memang banyak tersebar di sekitar lokasi itu. Jadi mata pengunjung relatif dapat dimanjakan dengan suguhan gratis yang ada.

Malam ketiga itu, kami pergi ke areal Bukit Bintang. Kawasan ini juga sebenarnya merupakan kawasan turis juga dengan dominasi pertokoan, pusat makan dan juga daerah yang banyak menyajikan jasa pijat refleksi. Tujuan kami ke sana tentu saja bukan untuk pijat, melainkan untuk makan malam.

Suasana malam di bukit bintang - KL

Ada satu tempat yang masuk jalan kecil berupa deretan tempat makan yang terbuka. Di Bukit Bintang Resto itulah kami duduk dan memesan makan. Hal yang menarik untuk memilih tempat tersebut adalah karena dapat menikmati sajian alunan musik live. Kelompok pemusik ini menggunakan peralatan band yang cukup lengkap dengan lima orang personel yang bertugas memainkan drum, gitar, bas gitar, organ dan sebagian berperan rangkap sebagai vokalis.Kelompok ini relatif cukup baik dalam memainkan alat musik dan menyajikan lagu-lagu yang dibawakan. Lagu yang disajikan cukup beragam. Ada lagu dari barat seperti Power Of Love, Lemon Tree, My Heart Will Go On, Cassablanca, dan beberapa  lagu dari jepang yang aku tidak tahu judulnya. Selain itu kelompok ini juga membawakan lagu-lagu pop dari Indonesia seperti lagu dari Kangen Band dan Wali. Yang membuat kejutan adalah kelompok itu tidak lupa membawakan lagu keroncong Bengawan Solo, yang dinyanyikan bukan dengan perangkat musik keroncong, tetapi penyanyinya dapat membawakan dengan cengkok keroncong yang baik. Wah jangan-jangan kelompok penyanyi itu juga berasal dari Indonesia nih…

Hal ini kemudian berlanjut setelah pelayan yang bertugas di meja kami ternyata juga orang Indonesia. Ya tidak apa-apalah kalau mereka mencari nafkah di negeri orang, asalkan tetap bekerja yang halal dan legal. Kalau memang di negeri sendiri lapangan kerja itu terbatas, maka kesempatan kerja di negeri orang pun dapat ditempuh.

Iqmal Tahir

Iklan

2 responses »

  1. Endang S berkata:

    Nggak apa2 juga sekolah di negeri jiran… Yang penting berprestasi… dan dapat medali emas…

    • Iqmal berkata:

      wah kalau yang ini asli komentar yang dituliskan dari tepian bengawan solo beneran…
      (ps. dah dikirim lho via email, jumlahnya sesuai kan?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s