Waktu pulang kemarin, pohon srikaya di belakang rumah meranggas dan daun-daunnya rontoh berjatuhan ke bawah. Batang pohon yang selama ini jadi tempat rambatan anggrek ini pun terancam tumbang. Memang anggrek yang tergantung di batang pohon itu adalah anggrek biasa dan bukan anggrek hasil silangan khusus. Salah satu anggrek yang ada adalah anggrek merpati (pernah saya tulis di sini dan ada juga tulisan di blog isteri di sini). Soal anggrek ini terus terang saya suka karena memang kalau sedang berbunga berbau harum.

Melihat jumlah tanaman anggrek merpati ini yang terus tumbuh maka perlu juga dipindah. Ternyata pertumbuhan vegetatif anggrek ini juga cukup cepat, terbukti dari munculnya banyak tunas anakan di tiap-tiap batang anggrek yang besar. Biasanya tunas anggrek seperti ini saya potong atau saya bawa ke batang pohon yang lain. Kali ini karena batang pohon srikaya ini sudah dianggap terlalu banyak dan pohonnya sendiri meranggas, akhirnya saya gunakan pertimbangan lain.

Tunas anakan anggrek ini saya biakkan saja ke tembok. Lagipula tembok ini dapat juga disiram air dengan mudah. Untuk keperluan ini, tunas anakan diikat dengan tali plastik dan berjulur ke bawah beberapa tunas. Jadi dalam satu tali sepanjang 1 meteran lebih terdapat beberapa tunas anakan anggrek. Kemudian ujung atas anggrek ini saya pakukan ke tembok sehingga anakan diharapkan dapat menempel ke tembok nantinya. Akar anggrek ini aktif di udara dan kalau terkena angin mengenai tembok atau kayu biasanya nanti akan melekat dan menjalar di sana.

Tunas anakan anggrek siap ditanam.

Tunas anakan anggrek siap ditanam.

Anakan anggrek diikat tali untuk ditempelkan ke tembok.

Anakan anggrek diikat tali untuk ditempelkan ke tembok.

Anggrek memang tanaman epifit, jadi memerlukan nutrisi dari inang batang kayu yang ditempelinya. Tapi kalau di tembok maka nutrisi ini tentunya dapat diperoleh dari siraman air dan pupuk yang diberikan. Mudah-mudahan tetap dapat tumbuh dan membesar. Kalau sudah membesar tentunya akan  berbunga dan mengeluarkan keharumannya kembali.

Jadi harapan saya, tidak ada akar rotan pun jadi, eh…tidak ada batang kayu, tembok pun jadi. Siapa tahu nanti jadi tembok ratapan, eh salah lagi… tembok hamparan anggrek.
Iqmal Tahir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s