Hujan pun akhirnya bikin aku nelangsa. Setelah menulis dua artikel tentang dampak hujan pada petani tembakau dan petani melon, aku yang bukan petani pun akhirnya merasakan dampaknya juga. Hal ini aku alami saat areal wilayah Perlis terkena banjir dengan daerah yang terendam hampir sekitar separuh wilayah negeri, bahkan sampai ke Kedah dan Kelantan. Banjir ini yang sebelumnya tidak diduga sama sekali pun ikut merambah ke areal tempat tinggal saya sementara di Kangar.

Peristiwa yang terjadi awal bulan November 2010 itu terjadi justru saat saya juga tidak berada di lokasi. Untuk diketahui pada hari minggu tanggal 31 Oktober itu saya harus ikut beserta rombongan peserta pameran BioMalaysia 2010 di Kualalumpur.

Cuaca saat pemberangkatan relatif cerah demikian juga sewaktu perjalanan menuju KL. Namun sesampai di hotel waktu malam ada kabar bahwa Perlis mulai dilanda hujan lebat. Hujan lebat ini ternyata berlangsung berturut-turut sampai hari Rabu pagi. Di KL, perasaan semakin tidak enak antara ingin pulang kembali ke Kangar atau tetap bertahan untuk menyelesaikan agenda acara pameran. Senin pagi mendapat kabar kembali bahwa air sudah menggenangi ke berbagai wilayah di Perlis. Sementara kabar ketinggian air masih simpang siur, acara presentasi pameran Biomalaysia yang berlangsung di KLCC mulai dilakukan. Pada sore hari kontak lagi ke sang pemilik rumah sewa untuk anjuran segera pulang ke Kangar untuk mengungsikan barang-barang karena air terus naik merata ke seluruh Perlis. Semakin kalutlah perasaan hari itu.

Pulang ke Kangar pada sore hari itu sudah jelas tidak mungkin. Perjalanan darat secara normal jelas akan memakan waktu 7 jam ditambah dengan waktu untuk lain-lain mungkin bertambah 5 jam lagi. Tentu saja baru Selasa pagi akan sampai di Kangar. Kalau perjalanan udara tentu saja akan memerlukan biaya tiket yang tidak sedikit, itupun hanya sampai Penang atau Alor Setar saja. Akhirnya diputuskan tetap di KL saja.

Suasana kota Kangar yang terendam banjir.

Selasa pagi ada kontak lagi bahwa Kangar sudah terendam banjir. Meskipun belum dapat kepastian soal rumah tinggal, tetapi dapat diduga kalau dalam kota sudah terendam maka perumahan sudah pasti terendam lebih tinggi lagi. Perumahan yang disebut sebagai Taman Bukit Khayangan ini terletak di balik bukit kapur dan di tepian sungai besar. Mengingat wilayah cukup rendah maka daerah ini cenderung akan menjadi daerah tujuan air. Saat dapat kontak dengan pemilik rumah memang kemudian dipastikan bahwa rumah sudah terendam dan barang-barang tidak dapat diselamatkan lagi.

Rumah sewa yang ditinggali ini disewa oleh tiga orang dari Indonesia, yang kesemuanya pelajar dari UniMAP. Satu orang yakni pak Wahyu sedang pulang ke Bandung. Saya dan Pak Jak yang ada di Malaysia saat itu di KL. Pemilik rumah yang meskipun tinggal bersebelahan ternyata juga tidak sempat menyelamatkan rumah kami, termasuk juga rumah dia sendiri. Pak Jak ini paling stress karena laptop dia ditinggal di kamar.

Saya pada saat itu juga pikiran bercabang tiga. Jika sebelumnya masih stress untuk ikut menyiapkan presentasi produk riset yang ditampilkan, maka setelah selesai tinggal dua masalah lagi. Kondisi banjir di Kangar serta kondisi gunung Merapi di Yogyakarta yang menjadikan pikiran semakin kalut, mau menentukan pergi kemana. Sempat terpikir juga untuk langsung balik ke Indonesia karena saat itu paspor dan dokumen perjalanan lengkap dibawa ke KL. Akan tetapi kemudian diputuskan untuk tetap di Malaysia dan pulang bersama rombongan ke Kangar pada hari Rabunya.

Perjalanan pulang ke Kangar berjalan normal, bahkan sampai di Kedah yang hanya berjarak kurang dari 1 jam dari Kangar. Barulah memasuki areal wilayah Perlis, terlihat banyak genangan di persawahan dan daerah rendah yang berada di tepian sungai. Selanjutnya rute bis berubah tidak mengikuti jalur biasa menuju kompleks klaster yang menjadi awal keberangkatan. Hal ini ternyata karena jalan menuju lokasi sudah tidak dapat dilalui lagi. Akhirnya sang pemandu dengan enggan mencoba jalan lain lewat arah belakang untuk menuju lokasi klaster. Sebagian anggota rombongan turun di beberapa tempat untuk dijemput keluarganya. Bis harus menembus genangan air di sepanjang jalan sekitar 5 km.

Kondisi klaster yang relatif tidak terendam air sehingga kami dapat meletakkan barang di sana. Tetapi untuk bepergian ke tempat lain dengan menggunakan sepeda motor maka tidak dimungkinkan. Teman yang akan pulang terpaksa harus diantar ke lokasi terdekat untuk kemudian harus berjalan kaki menembus genangan air, itupun kemudian tidak diperbolehkan masuk ke kawasan rumahnya. Akhirnya saat itu terpaksa bermalam di lab, setelah sebelumnya mencari perbekalan seperti mi dan air minum di toko dalam stasiun minyak. Saat itu juga digunakan untuk mencari makan malam sekedarnya pada warung makan yang masih buka dan ramai dengan pengunjung yang kesulitan mencari makanan.

Berikut beberapa gambar foto banjir di Kangar yang saya ambil dari Flickr dan sumber lainnya.

Genangan air di jalan menuju kota Kangar.

Stasiun minyak pun ikut terendam.

Rumah sakit pun ikut terendam.

Salah satu kantor UniMAP yang terkena banjir.

Salah satu pertokoan yang terkena banjir.

Kondisi kota sangat semrawut dan jalur jalan terputus di banyak bagian. Di banyak wilayah aliran listrik juga padam sehingga kondisi sangat gelap. Di lab kamipun tidur sekedarnya sambil sebelumya hanya bisa mengakses internet untuk mengetahui kondisi banjir, sekaligus untuk mengetahui kondisi letusan Merapi terakhir.

Jalan highway dengan kondisi yang relatif tinggi memang tidak terjangkau air. Hal ini menyebabkan jalan ini dijadikan tempat pengungsian mobil. Banyak mobil diparkir di sepanjang tepian jalan terutama jembatan flyover. Jumlah mobil yang terparkir sangat banyak sehingga pemandangan terlihat seperti showroom atau bahkan pameran mobil yang beraneka jenis dan warna mobil.

Pagi hari usaha untuk masuk ke rumah pun tetap terhalang genangan air yang masih tinggi di beberapa ruas jalan menuju rumah. Akhirnya kamis petang, dengan menembus genangan air secara hati-hati dan dilanjutkan dengan menggunakan jalan kecil sepanjang tepian sungai kami dapat mencapai batas daerah air yang boleh dimasuki. Dari sini kami harus berjalan kaki menembus air setinggi lutut lebih sejauh kurang lebih setengah kilometer untuk mencapai rumah kami.

Saat memasuki komplek perumahan hati semakin ciut dengan melihat situasi rumah-rumah yang terendam. Kami berjalan perlahan mengikuti jalan aspal yang terendam dan kemudian sewaktu ada traktor yang melintas kami diperbolehkan membonceng di traktor itu. Sesampai di ujung gang kami merasakan bagaimana gitu sewaktu melihat rumah kami yang masih dimasuki air setinggi 10 cm. Di dalam rumah terdapat jejak sisa genangan sebelumnya di tembok yang mencapai hampir 1 meter di dalam rumah.

Pintu yang rupanya tidak dikunci oleh pemilik rumah sebelumnya, begitu dibuka, memperlihatkan aneka barang yang terapung di permukaan air. Sepatu, sendal dan kertas berserakan terapung di air. Satu hal yang lucu, tampak banyak baju cucian termasuk software milik pak Wahyu yang sebelum banjir terletak di ember. Saat itu sudah berserakan dan kotor terkena lumpur. Kulkas yang sebelumnya berdiri kokoh tumbang dan mengapung di air. Meja setrika yang biasa terletak di pojok, saat itu tergeletak patah dan rusak. Mesin cuci juga terendam. Satu yang terlihat selamat adalah televisi, dimana tampak batas air hanya menyentuh bagian meja penyangganya saja. Selain itu perabotan berupa meja makan, rak alat dapur dan alat lain yang terbuat dari papan partikel semuanya rusak terendam air.

Bergegas kami masing-masing membuka pintu kamar untuk mendapati kondisi kamar yang mirip kapal pecah. Buku dan fotokopi jurnal terapung basah. Lemari baju terlihat masih terendam di bagian bawah dan menyisakan baju yang tergantung dalam kondisi basah dan kotor. Kasur di tempat tidur basah sewaktu diangkat menyisakan air yang masih menetes. Teriakan yang melegakan terdengar dari kamar pak Jak yang mendapati laptopnya ternyata malah kering karena berada di atas kasur yang mungkin saat air masuk membuat kasur mengapung. Kalau kondisi buku dan berbagai peralatan miliknya pun rusak berantakan mirip seperti yang ada di kamar saya.

Untung cuma punya tas 3 saja, kalau ada lagi mungkin lebih banyak yang bergantungan.

Gak jelas lagi, mana jalan, mana sungai, mana tanggul. Eh... motornya tadi diparkir dimana ya ?

Segera kami mengambili barang penting secukupnya untuk dibawa pergi ke tempat pengungsian sementara. Saya hanya sempat membawa beberapa lembar baju dan celana ganti, uang simpanan dan beberapa peralatan elektronik seperti harddisk eksternal, modem dan kamera saku. Kami pun bergegas kembali berjalan ke luar menuju tempat parkir motor sebelumnya.

Selama dua hari berikutnya kami hanya bisa mengandalkan baju yang dibawa saat pergi ke KL sambil menunggu baju hasil cucian yang terendam yang diambil hari kamis itu. Untuk makan saat itu sudah tidak masalah lagi karena sudah ada beberapa warung makan yang buka. Kegiatan pagi itu hanya diisi dengan bersih-bersih di lab dan kemudian pergi sholat jumat. Ternyata setelah selesai sholat Jumat, Prof bersedia membantu ikut mengambil barang-barang terutama baju yang basah untuk diangkut ke tempat teman. Mobil berupa toyota hilux yang tinggi relatif mudah saja saat harus menembus genangan air di sekitar komplek perumahan, kebetulan air di dalam rumah juga sudah mulai surut. Semua baju milik saya dan pak Jak dapat diangkut langsung dan diantar ke rumah kawan.

Kegiatan berikutnya adalah mencuci baju secepatnya dengan menggunakan mesin cuci. Yang paling malas tentu saja adalah menggosok  baju supaya rapi.

Setiap hari kami disempatkan untuk pergi keluar sambil melihat kondisi banjir yang berangsur-angsur surut. Di daerah lain saya dengar ada yang sampai ketinggian atap rumah. Saat itu juga ada isu bahwa akan ada banjir periode ke dua. Namun untungnya hal ini tidak sampai terjadi.

Lahan sawah padi yang hancur karena terendam air banjir.

Salah satu sudut taman bukit khayangan yang porak poranda.

Berhubung kondisi rumah yang tidak memungkinkan untuk tidak ditinggali lagi dalam waktu singkat karena perabotan yang rusak semua, kemudian kami memutuskan untuk pindah tempat tinggal. Sekarang saya tinggal di lokasi daerah Taman Muhibah yang pada saat kondisi banjir ini nyaris tidak terkena dampaknya. Meskipun relatif agak jauh dari lab, namun hal ini dapat diambil sebagai pilihan yang lebih baik.

Iqmal Tahir

Dokumentasi dan foto-foto banjir Perlis dapat diakses di blog lain di : http://dahasry.blogspot.com/2010/11/perliss-flood-update.html.

Iklan

3 responses »

  1. […] di saat bersamaan terkena bencana banjir. Tulisan tentang banjir di Kangar ini dapat dibaca di sini. Rumah yang ikut terendam air sehingga berakibat baju, buku, fotocopy jurnal, peralatan rumah, […]

  2. […] Di balik suatu bencana selalu ada saja upaya katarsis untuk sarana menghibur diri sendiri dari kejenuhan atau mencari sedikit kompensasi dari bencana tersebut. Hal ini juga seperti yang saya amati saat melihat kejadian bencana banjir di daerah Kangar, Perlis, Malaysia ini. Tulisan terkait banjir ini dapat dibaca juga di sini. […]

  3. […] menangani buku dan dokumen kertas lain yang rusak terendam air banjir awal November kemarin. Baca tulisan banjir dan tulisan terkait lainnya dulu ya sebagai […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s