Awal November setiap tahunnya di Malaysia ikut terasa suasana Hindu dalam rangka peringatan keagamaan yang dikenal dengan Deepavali. Di negeri jiran ini suku bangsanya terdiri dari bangsa multi etnis, dengan bangsa melayu yang mendominasi serta ada orang India dan Cina. Setiap etnis akan melaksanakan peringataan keagamaan sesuai dengan agama yang dianutnya. Jadi kalau pertengahan November ada hari raya Idul Adha buat umat Islam, maka sebelumnya di awal bulan tersebut dimeriahkan terlebih dahulu oleh umat Hindu.

Ini di KLCC Petronas - Kualalumpur. Mumpung ada ornamen deepavali, boleh untuk lokasi foto.

Berikut diulas uraian Deepavali seperti dikutip dari detik.com. Peringatan ini kalau di negeri asalnya yakni di India maka seluruh daerah akan bersolek dengan seluruh areal yang dihiasi lampu-lampu, kembang api dan petasan. Tahun 2010 ini peringatan deepavali dirangkai sesudah perayaan Dussehra dalam bulan Asvin menurut penanggalan India dan jatuh pada hari Amavasyaa. Hari dimana bulan sedang tidak bersinar dan kegelapan ada di mana-mana. Oleh karena itu pada hari itu dinyalakanlah lampu-lampu untuk menerangi yang dimaknakan sebagai energi positif dan harapan.Diwali atau disebut juga Divapali, Divali dan juga Deepawali adalah perayaan yang dilaksanakan selama lima hari. Selama lima hari tersebut semua perkantoran, bank, pabrik tutup atau libur. Mereka merayakan hari besar ini. Pada saat perayaan ini mereka memakai baju baru (seperti orang Melayu kalau merayakan lebaran), menyajikan manisan, bertukar kado dan menyalakan lampu-lampu untuk menerangi rumah mereka dan menghias dengan lampion-lampion. Lampu yang digunakan biasanya lampu dari minyak kelapa yang ditaruh di mangkuk kecil berbahan tanah liat ataupun terkadang lilin-lilin kecil yang bisa terapung di kolam-kolam.

Semarak kerlap-kerlip lampu hias untuk peringatan Deepavali.

Adapun lima hari perayaan Diwali mempunyai istilah tersendiri di tiap-tiap harinya. Untuk hari pertama dinamakan Dhan Trayodashi atau Dhanteras. Hari kedua dinamakan Narak Chaturdashi atau lebih terkenal dengan nama Chhoti Diwali. Hari ketiga dinamakan Badi Diwali dimana hari itu adalah hari perayaan yang sesungguhnya dimana orang-orang berdoa untuk memohon kekayaan dan kesehatan. Hari keempat adalah hari yang diperuntukkan bagi Dewa Govardhan Parvat. Sedangkan hari kelima adalah Bhai Dooj, yang diperuntukkan untuk menghargai hubungan kakak beradik.

Ada sebuah legenda di balik perayaan Diwali ini, yaitu tentang Prabu Rama. Berdasarkan legenda yang ada, Ravan (kalau di Indonesia disebut Rahwana) menculik Sita (negeri kita mengenalnya dengan nama Sinta) dari hutan dimana mereka tinggal. Mereka tinggal di hutan atas perintah dari ayahanda Prabu Rama yaitu Raja Dasharatha. Setelah tau isterinya diculik, Prabu Rama menyerang Lanka dan membunuh Ravan serta membebaskan Sita. Dia akhirnya kembali ke Ayodhya bersama Sita dan adiknya Lakshamana. Berdasarkan hal ini orang-orang di Ayodhyaa menyalakan lampu-lampu kecil (diya) untuk menyambut kedatangan Shri Rama dan Devi Sita.

Selain legenda di atas juga masih ada lagi yang menyangkut Perayaan Diwali ini. Ada juga yang tentang kembalinya Pandavas (Pandawa) dalam epic Mahabharata setelah mereka tinggal selama 13 tahun di hutan karena kalah bermain dadu dengan Kauravas (Kurawa). Saat Pandavas kembali, bertepatan dengan hari Amavasyaa, rakyat dari kerajaannya merayakannya dengan menyalakan lampu sebagai tanda ucapan selamat datang.

Saya yang orang muslim tentu saja tidak akan mengikuti perayaan ini. Hanya saja yang menarik perhatian adalah memang melihat persiapan umat Hindu untuk  menghormati perayaan ini dalam bentuk penyiapan hiasan dan dekorasi. Selain itu bagi fasilitas umum seperti mal, hotel atau perkantoran lain ikut mensukseskan dengan berhias juga. Aneka warna-warni dekorasi terutama dalam bentuk lukisan mosaik dari beras atau kristal yang dipasang di lantai lobby atau pintu kedatangan.

Lukisan ornamen dari beras warna-warni (1)

Lukisan ornamen dari beras warna-warni (2)

Selain dekorasi yang terletak di tempat terbuka, perayaan ini juga khas dengan ketersediaan makanan khusus berupa manisan. Manisan di sini kalau di Indonesia adalah kue-kue dan gorengan-gorengan. Ada Badam Phirni, Gulab Jamun, Gajar Ka Halwa, Besan Ke Ladoo, Karanji dan Jalebis, barfi, rasgulla. Umat Hindu banyak berkumpul dengan keluarga besar untuk bertukar kado. Ada juga yang berpesta dengan membunyikan petasan atau kembang api. Selain itu tentu saja mereka selalu menyiapkan diri dengan baju baru yang memang disiapkan khusus dalam rangka hari raya ini.

Kalau di Penang, peringatan ini juga diadakan dengan sajian khusus berupa rangkaian festival arak-arakan. Karnaval ritual ini diikuti oleh berbagai kalangan. Salah satu acara yang ditunggu-tunggu dalam festival ini adalah karnaval dengan ritual menyakiti diri sendiri yang terkesan sadis, mungkin seperti acara debus dari daerah Banten. Peserta ada yang memukul-mukulkan pecut ke tubuhnya, menyabetkan pedang tajam ke tubuhnya atau atraksi lain. Ada juga yang menusukan batang besi atau pisau ke pipi dan kulit perut. Kalau dipikir hal ini kadang tidak nalar, tetapi dengan didukung oleh pemimpin spiritual mereka maka hal tersebut dapat berlaku tanpa ada kejadian serius.

Berhias untuk acara deepavali.

Seni musik Hindu dalam rangkaian suasana memperingati Deepavali.

Karnaval Deepavali dengan acara penyiksaan diri.

Bagi saya selain menikmati suasana deepavali ini, maka lebih suka menikmati dekorasi yang tersaji dalam rangka perayaan ini. Seperti contoh pada gambar yang di atas pertama kali, lumayan dekorasi ini dapat digunakan sebagai latar untuk ajang narsis. Hehe…

Iqmal Tahir

Iklan

3 responses »

  1. ageng berkata:

    Wah bagus-bagus banget fotonya haha keren 🙂

  2. myun berkata:

    nice post…
    terima kasih postingannya ya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s