Perjalanan pulang ke Yogyakarta menjelang Idul Adha kemarin harus ditempuh secara bersambung. Hal ini terjadi karena pengaruh letusan gunung merapi yang dimulai akhir bulan Oktober dan berlanjut selama 2 minggu berikutnya. Akibat penutupan bandara di Yogyakarta, maka rute harus dialihkan. Selain perbedaan rute dan bentuk perjalanan, ternyata suasana perjalanan juga berbeda. Hal yang juga terasa adalah keterlibatan masker pelindung nafas dalam perjalanan kali ini.

Perjalanan kali ini berbeda daripada yang biasanya yakni yang biasa berupa perjalanan bis selama 8 jam dari Kangar – Kuala Lumpur, disambung bis shuttle ke bandara selama 1 jam, barulah sambung pesawat Airasia selama 2,5 jam. Kali ini setelah dalam perjalanan menuju KL, sudah diliputi kebimbangan karena kabar airport Yogyakarta dan Solo yang tidak boleh digunakan.

Sewaktu menit terakhir sebelum keberangkatan masih sempat menengok website airasia bahwa penerbangan tidak dibatalkan. Walaupun sebenarnya berita di tanah air menunjukkan bahwa penutupan bandara diperpanjang sampai tanggal 20 November.  Mengingat tiket bis juga sudah dibeli, maka tetap berangkat saja. Meskipun tiket bis didiskon sebesar 5 ringgit dari harga normal sebesar 43 ringgit, tetaplah tidak memberi sedikit tenang. Sampai di airport malam hari barulah ada informasi bahwa pesawat memang dibatalkan. Loket informasi airasia saat itu sudah tutup, sehingga diputuskan harus menunggu pagi harinya.

Setelah semalaman membuang waktu dengan makan dan akses internet gratis di bandara LCCT, akhirnya pagi pun beranjak menuju loket informasi. Dari sana langsung disuruh tetap menuju loket cek in ternyata untuk diberi alternatif ke tujuan lain. Ada pilihan Jakarta, Bandung, Surabaya atau bahkan ke Denpasar, tanpa harus membayar lagi. Berdasarkan pilihan penerbangan yang tercepat tanpa harus menunggu akhirnya dipilih yang ke Jakarta. Akhirnya sudah kamipun terbang ke Jakarta.

Menunggu bus ekspress yang katanya eksekutif ternyata tidak ekspres dan malahan bau pesing..

Sesampai di Jakarta, pilihan ke Yogyakarta jelas harus jalan darat. Sebenarnya ada alternatif ke Semarang dan dilanjutkan dengan bis atau dijemput. Tetapi menengok harganya relatif cukup mahal, hehe… Akhirnya waktu yang semakin beranjak pilihan menggunakan kereta api atau bis. Terakhir malah diputuskan meminta adik untuk mencari tiket bis dari Bogor dan diperoleh bis untuk pukul 2 petang. Sepertinya ini pilihan yang terbaik guna mengejar kesempatan shalat Idul Adha di Yogyakarta.

Dari bandara ke Bogor dilakukan dengan menggunakan bis Damri langsung ke terminal di bilangan Boker (Botani Square). Setelah makan dulu kami ke rumah adik untuk transit naik trans pakuan disambung ojek. Lepas mandi dan makan siang, akhirnya kami pun menuju agen. Ini yang payah, karena harus ditempuh dalam suasana hujan lebat, sehingga baju dan jaket yang dikenakan agak basah kuyup. Ternyata sampai di agen, bis yang ditunggu terlambat sampai 1,5 jam lebih. Ini pun masih harus mengambil penumpang lain di agen-agen sepanjang jalan raya Bogor-Jakarta. Baru masuk Jakarta setelah jam 6. Hebatnya lagi ternyata bis harus berganti dengan bis cadangan karena bis yang pertama kurang baik. Baru keluar Jakarta itu sudah jam 8 malam wah bisa dibayangkan jam berapa itu sampai di Yogya. Dan akhirnya memang terbukti, kami harus ketinggalan sholat Idul Adha yang untuk hari Rabu itu, karena sampai di Yogya sudah pukul setengah sembilan.

Kalau di judul, disinggung soal masker pelindung, memang dalam perjalanan ini melibatkan masker. Kalau di pertengahan tahun 2009, masker harus dipakai untuk pencegahan SARS. Kalau sekarang agak berbeda, ceritanya dibaca di bagian berikut.

Untuk solidaritas bencana merapi kamipun membawa beberapa kotak masker. Pembelian masker yang mendadak pun berakibat pemilihan toko yang salah sehingga harganya agak kemahalan sedikit. Dengan dikemas dalam kardus dan terpisah dari bagasi mengakibatkan jumlah barang jinjingan bertambah. Selama perjalanan awal sih tidak masalah, baru pada saat kondisi kehujanan tergesa-gesa mengejar bis terjadi masalah. Kotak masker itu ketinggalan di tempat tunggu. Untung adik saya cekatan dengan turun kembali ganti pakai angkot dia mengambil kotak masker itu. Akhirnya terbawa lah barang itu.

Di dalam bis mendekati Yogyakarta, ternyata masker itu harus diperlukan untuk dipakai kami. Tetapi jangan salah sangka dulu, bukan untuk menghindari debu dari gunung merapi. Masker ini harus dipakai untuk menghindari bau pesing yang keluar dari toilet di dalam bus. Kebetulan tempat duduk kami berada di bagian belakang sehingga dekat dengan lokasi toilet bus. Mungkin banyak penumpang yang jorok sehingga bau pesing dari toilet pun muncul dan menyebar dalam bus. Padalah ini bis ber-ac tentu saja bau pesing ini cukup awet bertahan. Daripada pusing menahan nafas, maka pilihan untuk menggunakan masker pun diambil. Jadi kalau mirip pengungsi merapi ya bolehlah dikatakan seperti itu.

Pakai masker biar bebas debu merapi, eh... bebas bau pesing dalam bus.

Bernafas lega setelah bebas dari siksaan bau pesing dalam bus.

Iqmal Tahir

Iklan

6 responses »

  1. ulty berkata:

    perjalanan pulang yg seru!
    jangan kapok yah kalo ke bogor deui…

  2. bang ical berkata:

    wah…jadi ketauan deh gak solat idul adha…ehehe

  3. Endang S berkata:

    Masih harus disyukuri tuh… Alhamdulillah… bisnya gak macet2….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s