Tulisan ini terkait dari pengalaman menangani buku dan dokumen kertas lain yang rusak terendam air banjir awal November kemarin. Baca tulisan banjir dan tulisan terkait lainnya dulu ya sebagai pengantar.

Waktu kembali menengok rumah yang terkena bencana banjir dan setelah terendam selama tiga malam, maka perasaan tidak enak muncul. Terlebih setelah masuk ke dalam rumah dan melihat langsung kondisi yang terjadi. Berbagai barang berserakan di genangan air di dalam rumah dan di dalam kamar. Sementara beberapa perabotan bekas terendam air tampak rusak. Pada saat itu mengingat prioritas maka penyelamatan hanya pada barang-barang yang berharga. Buku dan jurnal yang sudah tampak terendam lama pun terpaksa dibiarkan terendam lagi karena waktu itu tidak mampu membawa barang banyak.

Misi penyelamatan barang berharga, buku prioritas berikutnya.

Kondisi komplek perumahan setelah banjir surut.

Setelah kembali keesokan harinya barulah buku dan jurnal ikut ditangani. Untuk jurnal dan dokumen lain, dengan pertimbangan masih ada file elektronik atau soft copynya maka dengan berat juga dibuang karena memang terlihat hancur. Untuk buku karena ada yang pinjaman dari perpustakaan, hasil beli dengan harga yang cukup mahal atau dari sumber lain, maka harus diselamatkan. Saya juga sebenarnya sempat mengkoleksi majalah Laman, majalah tentang dekorasi taman dan tumbuhan, saat itu ada dua edisi yang ikut hancur remuk. Mungkin karena bahan kertas majalah yang memang tidak tahan air.

Buku-buku itu dibawa secara bertahap dengan air yang masih menetes keluar. Kemudian di tempat yang aman buku-buku itu dijemur di bawah sinar matahari. Setelah agak kering, satu per satu buku harus ditangani dengan hati-hati. Halaman demi halaman perlu dibuka dan sambil dirapikan sehingga ada udara masuk di sela-sela halaman. Dengan demikian halaman nanti setelah kering tidak akan lengket. Pekerjaan yang menjemukan sebenarnya tetapi mau bagaimana lagi. Setelah itu buku dijemur lagi sampai agak kering dan buku kemudian dirapikan jilidannya. Kalau masih lemas, bentuk jilidan masih dimungkinkan kembali lagi. Setelah rapi barulah buku dijemur kembali sampai kering.

Untuk buku yang jilidannya terlepas karena lem hancur terendam air, maka tentu saja harus dijilid ulang. Ada juga yang sampulnya harus diganti.

Sebenarnya kalau buku yang dari kertas HVS tebal, dapat juga buku dijemur begitu saja. Untuk buku seperti ini biasanya masih dapat diperoleh kembali tampilan yang baik. Untuk buku yang mengandung halaman dengan kertas majalah atau kertas print warna maka saat terkena air akan menempel erat. Hal ini karena seperti terdapat lem yang dilapiskan pada permukaan kertas tersebut, sehingga begitu terkena air malah tidak bisa lepas lagi.

Ramai-ramai menjemur buku.

Dijemur di berbagai tempat, yang penting kena panas sinar matahari.

Digantung pun boleh...

Satu lagi yang menyebalkan adalah soal bau yang tidak enak akan tertinggal dari buku yang terkena rendaman air banjir ini. Bau lumpur terasa masih menyebar saat buku ini dibuka kembali. Wah harus pakai masker nih…

Hal yang lain lagi adalah sisi tepi buku yang warnanya berubah jadi kecoklatan. Air banjir yang mengandung lumpur memang meninggalkan kesan endapan yang mengubah warna buku khususnya di bagian tepi yang terbuka tersebut.

Kalau sisi positifnya apa ya ? Sepertinya tidak ada. Kalau dipaksa-paksakan biar ada, ya kira-kira terdapat kesan bahwa buku telah sering dibaca dan dipelajari berkali-kali. Hal ini karena susunan buku yang tidak rapi lagi menandakan bahwa buku telah sering dibuka. Tapi jangan tanya sudah paham isinya apa belum lho ya….

Iqmal Tahir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s