Di dekat laboratorium tempat saya bekerja saat ini ada satu kios burger yang menurut saya dapat menjadi contoh. Bukan dari menu yang disajikan, melainkan dari latar belakang para penyaji yang bertugas di kios itu. Mereka berasal dari kalangan anak muda yang memiliki keterbatasan fisik yakni tuna rungu dan tuna wicara. Meskipun demikian mereka cukup terampil dan tidak memiliki rasa rendah diri sewaktu menjalankan tugas untuk melayani pembeli.

Pertama kali saya datang ke tempat itu terdorong rasa lapar setelah seharian beraktivitas di laboratorium. Saya hanya ingin makan yang tersaji secara cepat untuk memenuhi para penghuni perut yang telah keroncongan atau mungkin tepatnya lagi berdiscoan saking laparnya waktu itu. Saya yang memang tidak terbiasa makan sejenis fast food akhirnya berhenti di warung burger itu.

Begitu turun dari motor dan mendatangi kios. Terus ada salah satu yang siap di depan menu yang dipajang di depan kios. Dia tersenyum tapi tanpa berbicara hanya dengan isyarat tangan untuk menunjukkan menu itu. Saya yang belum tahu bilang saja burger daging dua buah (hehe… sudah dibilang sedang lapar sekali waktu itu). Terus dia dengan mantapnya memberi kode pada temannya pakai isyarat tangan yang kemudian menindaklanjuti pesanan saya. Dari cara berkomunikasi seperti itulah terus saya baru ngeh kalau mereka itu tuna rungu dan tuna wicara.

Tempat jual burger dari tampak depan.

Sambil menunggu pesanan dan menunggu beberapa pembeli yang telah terlebih dulu datang, saya mengamati aktivitas di kios itu. Mereka cukup terampil dalam menyiapkan burger. Sebenarnya ada tiga orang yang berada di kios itu, namun karena tempatnya tidak memungkinkan saya lihat hanya ada dua orang yang aktif di situ. Salah satu menyiapkan membelah dan memanaskan roti, ada yang membakar daging, kemudian menyiapkan roti dalam kemasan untuk ditaburi sayuran, saus dan daging yang telah matang. Setelah itu mereka membungkus rapi dan menyerahkan ke pembeli.

Untuk informasi harga maka dia segera menuju daftar menu yang terletak di depan. Dia menunjuk harga pesanan itu sehingga pembeli dapat membayar sesuai harga itu. Untuk pesanan yang berlipat, dia menggunakan kalkulator yang sudah dihitung berapa harga yang harus dibayarnya. Setelah menerima uang, dengan cekatan pula dia membuka laci dan menyerahkan uang kembalian dengan sikap yang berterima kasih.

Siap membuat burger yang dipesan.

Gesit dan terampil pokoknya, tidak kalah dengan penjual burger lainnya.

Wah sangat menarik nih kios ini. Paling tidak mereka tergolong dalam usia yang produktif, meskipun memiliki kekurangan, tetapi dapat disalurkan pada kegiatan yang positif. Salut juga buat perintis dan pengelola warung itu. Ternyata satu orang lagi yang berada di belakang itulah yang menjadi pemilik warung itu. Dia sendiri tidak memiliki kekurangan seperti para anak buahnya itu.

Hayo siapa mau ? tapi beli sendiri ya, yang ini buat saya saja yang sudah kelaparan dari tadi.

Kalau anda ingin datang, melihat dan membeli di kios saja, datang saja di kios Pengkalan Asam, Kangar, Perlis, Malaysia. Jauh ya? Kalau begitu lihat saja foto-foto di artikel ini. Untuk mengetahui enaknya burger ini, bayangkan saja saya yang sedang makan dua buah burger dengan lahapnya sampai habis tak tersisa, paling tersisa ceceran saos di kemasan wadahnya.

Iqmal Tahir

Iklan

4 responses »

  1. FAISAL berkata:

    wah kya na enak tuh …:D
    Datang kblog ane ya
    http://pitaxxx.wordpress.com/

  2. ro berkata:

    waduh,..cm ngepingin2i saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s