Kasus penyalahgunaan formalin kembali terkuak baru-baru ini yakni untuk pengawet usus ayam ayng diolah sebagai bahan makanan. Seperti dikutip dari berita di kompas.com (25/11/2010) bahwa polisi telah menangkap oknum yang menjalankan usaha usus ayam berformalin. Produk usus ayam yang diawetkan dengan formalin ini biasa dipasarkan di Pasar Tambora, Jakarta Barat. Mereka memproduksi dan menjalankan aktivitasnya ini di daerah Pamulang.

Pelaku ditangkap karena dalam menjalankan usahanya itu adalah sengaja mencampur formalin dengan air untuk dituangkan ke usus ayam agar awet. Bahan baku usus ayam diperoleh dari rumah pemotongan ayam. Selanjutnya usus dibersihkan dan kemudian direbus, lalu dimasukkan ke dalam bak air yang sudah dicampur formalin. Usus kemudian direndam sehari semalam. Setelah itu usus dibungkus dalam kantong plastik, disimpan di lemari es, dan esoknya siap dijual. Untuk pemrosesan ini relatif hanya diperlukan bahan pengawet formalin saja.

Usus ayam goreng. Ada formalinnya gak ya ??

Untuk diketahui usus ayam adalah bahan organ dalam dari tubuh ayam yang bersifat basah dan harus dibersihkan dengan baik pada saat pengolahannya. Mengingat asalnya itu maka tingkat kerusakan usus ayam akan sangat tinggi. Penjualan usus ayam mentah harus dilakukan segera setelah ayam dipotong. Bagi pedagang, maka hal ini akan menjadi kendala dalam proses penjualannya dan bisa jadi akan berakibat kerugian akibat proses pembusukan usus. Untuk itu mereka kemudian mencari cara lain yang ternyata malah mengabaikan resiko kesehatan yang mungkin dihasilkan.

Memang keuntungan yang diperoleh dengan jalan ini adalah memperlama usia produk, yang berarti kemungkinan barang terjual juga lebih besar. Dengan demikian resiko kerugian akibat kerusakan bahan menjadi rendah. Hal inilah yang membuat banyak pelaku usaha tergiur untuk terjerumus melakukan jalan pintas seperti ini tanpa memperhitungkan resiko bagi para konsumennya.

Formalin, ada simbol bahaya dan tulisan poison-nya lho... Waspadalah... waspadalah...

Dari sisi konsumen maka bahaya kesehatan sangat mungkin terjadi. Formalin yang biasanya digunakan untuk pengawetan mayat, dalam hal ini digunakan untuk pengawetan bahan yang dimakan. Meskipun formalin boleh jadi dapat hilang saat proses pencucian, tetapi residu di dalam bahan akan tetap ada. Hal ini bisa jadi ikut termakan dan tertelan masuk ke dalam tubuh.

Kegiatan penggunaan bahan kimia berbahaya untuk digunakan pada bahan pangan sebenarnya telah melanggar hukum. Namun sosialisasi bagi banyak pelaku usaha sering tidak didengar dan masih banyak pelanggaran akan hal ini. Pelaku yang tertangkap dapat dijerat engan Pasal 55 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara atau denda Rp 600 juta.

Alternatif bagi pedagang adalah dengan tidak menjual usus ayam dalam keadaan mentah. Usus ayam ini dapat dijual setelah diolah terlebih dahulu. Usus dapat dibuat menjadi kerupuk kering dengan bumbu dan digoreng matang. Produk kerupuk usus juga sebenarnya banyak memiliki konsumen tersendiri. Cara lain adalah dengan membuat produk setengah jadi seperti model kerupuk tetapi belum diberi bumbu lengkap, jadi hanya dikeringkan dan diberi pengawet garam. Contoh produk seperti ini adalah berupa kerupuk rambak kulit yang setengah jadi.

Bagi konsumen perlu kewaspadaan tinggi dan kepedulian untuk menghindari bahan makan termasuk usus ayam mentah yang diolah dengan menggunakan formalin. Pengenalan ciri-ciri usus yang telah diproses dengan formalin dapat dikenali dengan mudah. Ciri yang umum adalah usus berwarna cerah dan bersih, tidak ada lalat yang mau hinggap di bahan, dapat awet selama beberapa hari serta bau yang agak khas.

Apabila menjumpai produk bahan makan dengan ciri-ciri seperti itu jauh lebih baik untuk tidak membelinya. Kecuali anda ingin seolah-olah menjadi mayat yang hidup….
Iqmal Tahir

Iklan

2 responses »

  1. wealah, apa perlu nih MUI mengeluarkan fatwa bahwa formalin itu haroomm? Tapi bagaimana ya mengawetkan bahan mentah seperti usus ayam ini? kalo pakai garam seperti ikan asin tentu cita rasanya bakal lain dan belum tentu seawet pakai formalin. Kalo pake asap cair ala Prof. Bambang Setiadji kira-kira rasanya bakal lain tidak ya pak? Ibu saya pernah pakai larutan pemutih diencerkan untuk mengawetkan daging, entah efeknya apa, tapi sudah saya minta stop melakukan hal itu, bayangkan, cairan untuk pakaian kok digunakan untuk bahan pangan hahahahaha……………ibu yang kreatif.

    • Iqmal berkata:

      Kalau penjual yang omzet ayam potongnya sedikit ya langsung rebus dan dijual dalam bentuk dikemas plastik. Kalau harus menyediakan pendingin ya harus keluar modal besar ya ?
      Untuk yang pedagang omset besar, mungkin paling baik adalah mengalihkannya pada usaha tambahan (atau kerjasama dengan pihak lain) berupa produksi keripik usus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s