Seorang peneliti penemu harus punya pemikian yang visioner dimana dapat melihat atau membayangkan sesuatu yang akan terjadi di masa mendatang sehingga dia akan berkeinginan untuk menciptakan hal itu dalam pekerjaan risetnya. Bahkan jika hal itu pada masa sekarang dianggap sebagai sesuatu yang absurd sangat boleh jadi di masa datang akan menjadi kenyataan. Kita boleh belajar dari film-film sains fiction (sci-fi) yang kemudian membuktikan bahwa peranti-peranti dalam film yang kelihatannya seperti tidak masuk akal pada masanya tetapi kemudian terbukti bisa dibuat pada beberapa waktu berikutnya. Ada beberapa situs yang memuat contoh dari hal ini, misal dari film Flash Gordon, Star Trek, dan lain-lain.

Untuk hal serupa saya kadang mencontohkan seorang peneliti penemu harus dapat meniru seperti Broery Pesolima. Lha ini kan seorang penyanyi, bukan seorang peneliti. Tetapi betul kita harus punya pemikiran seperti dia.

Dalam salah satu syair lagu “kau begini, aku begitu” disebutkan tentang buah semangka yang berdaun sirih. Kalau dilihat secara teliti itu merupakan suatu terobosan yang harus dicoba. Orang sekarang melihatnya buah semangka harus dihasilkan dari tanaman semangka, tetapi Broery sudah memikirkan untuk memproduksi buah semangka dari tanaman lain.

Semangka berdaun sirih.

Bayangkan saja bagaimana inovasinya hal itu jika benar dapat terjadi. Produksi buah semangka akan dapat meningkat untuk konsumsi buah-buahan manusia. Jika mau buah semangka yang berbiji juga dimungkinkan untuk pemasok makanan ringan kwaci atau saya yakin juga dapat digunakan sebagai bahan baku biodiesel jika jumlahnya layak. Buah ini tumbuh dari tanaman sirih. Tanaman sirih jauh lebih mudah tumbuh dengan bibit dari setek. Pertumbuhan tanaman sirih juga lebih mudah dan tahan penyakit daripada tanaman semangka itu sendiri. Daun sirih dapat dipetik juga untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku herbal untuk antiseptik dan kesehatan intim para wanita. Dari sini dapat dibayangkan beberapa produk dapat dimanfaatkan dari tanaman jenis baru ini.

Tetapi tentu saja penelitian akan memakan waktu dan berjalan satu langkah demi langkah. Ide yang revolusioner itu tidak dapat langsung direalisasikan dengan cepat. Untuk itu memang diperlukan sinergi dan kerjasama antar peneliti yang saling mendukung. Diskusi ilmiah perlu digalakkan terus dengan kontribusi yang nyata. Dari sini tentu saja akan keluar hasil penelitian yang semakin maju dan bermanfaat. Lakukan saja tugas kita sebagai peneliti dengan selalu belajar, mendalami ilmu kita, berpikir terobosan-terobosan baru, dan ujudkan hal itu di laboratorium untuk kemudian diterapkan di masyarakat.

Memang ideal sekali hal itu. Tapi kalau kita tidak bisa membuat buah semangka yang berdaun sirih, siapa tahu kita bisa membuat buah semangka yang berumbi bengkoang. Selamat berkarya.

ps. Sudah pernah dengar lagunya Broery dinyanyikan versi ngapak-nya belum ? “Inyong  ngeneh, kowe nganah, padha baen……!!

Iqmal Tahir

Iklan

2 responses »

  1. Endang S berkata:

    Kalo ditempat saya ada pohon mangga berdaun sirih… Iya juga… Kita memang harus punya keberanian berinovasi sehingga bisa menghasilkan sesuatu yang baru dan bermakna bagi perkembangan teknologi. Perlu orang2 idealis dalam penelitian inovatif ini….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s