Kalau pergi makan ke warung makan, tentu saja harus memesan minuman guna pendamping makanan besar agar tidak kehausan. Salah satu minuman yang biasa kupesan adalah es jeruk atau jeruk panas. Kalau siang hari biasanya pesan es jeruk, kalau pagi atau malam hari barulah pesan jeruk panas. Memang yang sering saya pesan minuman jenis ini, minimal sebagai asupan minimal dari vitamin C ke dalam tubuh.

Sewaktu berpindah ke Malaysia sini, baru tahu kalau di sini digunakan istilah limau ais untuk es jeruk dan limau suam untuk jeruk panas. Jadi kalau dulu ada humor yang mengisahkan orang cedal yang diejek tidak bisa order minuman es jeruk, karena harus menyebut es jeyuk, maka dia di sini tidak merasa kesulitan order minuman ini.

Ada hal lain yang ingin saya tuliskan di artikel ini sebenarnya, yakni kebiasan yang khas orang sini. Setelah datang pesanan minuman yang kuminta, baik kalau limau ais ataupun limau suam, ternyata selalu ada irisan jeruk yang sudah diperas di dalam gelasnya. Ini yang membuat saya heran karena itu kan irisan perasan sisa yang dapat disebut sebagai sampah. Kalau hanya sekedar isi dalam jeruk itu tidak masalah, karena itu memang dapat dimakan. Kalau hanya sekedar biji buah jeruk terbawa, saya akan maklum karena itu memang akan sangat terbawa. Untuk menghindarinya boleh saja menggunakan penyaring saat jeruk diperas. Tetapi hal yang sangat saya herankan adalah irisan buah jeruk yang habis disaring bisa separuh atau sepertiga ukuran buah.

Yang hijau dalam gelas es jeruk itu irisan jeruk yang habis diperas.

Di minuman juice untuk standar rumah makan kelas atas kadang dibuat hiasan irisan jeruk yang dipasang di bibir gelas saat dihidangkan. Irisan ini lebih bersifat sebagai ornamen. Irisan jeruk yang digunakan adalah jeruk baru. Jika ingin meniru ini boleh-boleh saja. Tetapi memang menjadi sangat aneh jika melakukan hal yang serupa tetapi irisan jeruk yang digunakan adalah hasil sisa perasan. Irisan jeruk ini dimasukkan ke dalam air minuman lagi. Wah memang aneh.

Irisan jeruk untuk ornamen hiasan minuman.

Memang sih lama kelamaan saya jadi terbiasa. Pada awalnya memang saya selalu menyingkirkan irisan jeruk itu dan membuangnya. Ternyata memang hal ini menjadi kebiasaan untuk seluruh tempat makan yang aku kunjungi. Saya tidak tahu persis alasan apa yang menyebabkan mereka melakukan hal ini.

Jeruk untuk minuman memang tersedia di pasaran berupa jeruk limau dan jeruk peras. Kalau untuk menunjukkan pada pemesan bahwa jenis jeruk yang mereka gunakan dengan menggunakan sisa perasan tersebut, mungkin menjadi alasan yang masuk akal. Namun caranya mungkin menjadi kurang elegan walaupun sudah diterima oleh konsumen lokal di sini. Untuk menunjukkan jenis jeruk yang mereka gunakan, sebenarnya dapat dipajang di tempat penjualan. Bagi para konsumen sebenarnya sudah tahu jenis jeruk yang digunakan dari cita rasa minuman jeruk yang mereka minum. Rasa antara jeruk limau dan jeruk peras tentu akan berbeda.

Meniru kebiasaan penyajian minuman di rumah makan atas, kebiasaan meletakkan jeruk kadang juga diperlukan untuk menyesuaikan dengan selera pengunjung. Jika pengunjung merasa ingin menambahkan rasa jeruk, maka dapat memeras irisan jeruk yang tersedia itu ke dalam minuman. Kalau di sini, apabila kita ingin menambah rasa asam, maka sia-sia saja kita melakukan hal yang serupa. Hal ini karena irisan jeruk yang tersedia adalah sisa perasan yang telah digunakan penjualnya.

Jadi saya tidak tahu alasan apa dan mengapa ada potongan jeruk hasil perasan dalam minuman limau saya. Yang jelas jadi mubadzir nih, ada sampah kok disajikan ke pembeli. Padahal pembeli adalah raja. Halah… biar saja, pokoknya minum saja, yang penting segar….

Iqmal Tahir

Iklan

2 responses »

  1. ratih berkata:

    wah
    begitu yah
    terimakasih atas informasinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s