Beberapa waktu lalu saya membaca tulisan di blog kompasiana yang menulis tentang opini penulis artikel tersebut yang menghubungkan suatu bentukan awan lurus di langit di Kalimantan (lokasi antara Balikpapan-Babulu) sebagai pertanda adanya gempa bumi. Penulis teringat dengan beberapa tulisan di blog yang sering menghubungkan awan vertikal ini dengan kejadian gempa sebelum terjadi gempa. Setelah itu yang bersangkutan memperoleh gambaran berita tentang terjadinya gempa bumi berkekuatan 7,6 pada skala richter yang mengguncang dari kedalaman laut dangkal dekat Vanuatu di Pasifik Barat. Pusat gempa berjarak 135 kilometer barat Isangel, pulau Tanna di Vanuatu, dan 200 kilometer utara Tadine di pulau Loyalty, Kaledonia Baru.

Awan lurus (pertanda gempa ???) di Yogyakarta.

Awan lurus (pertanda gempa ???) di Yogyakarta.

Memang patut juga kita selalu berusaha mencermati tanda-tanda alam yang dapat menjadi peringatan buat kita semua untuk selalu waspada. Terkait dengan bencana alam, saya kira juga patut selalu waspada khususnya untuk daerah-daerah tertentu yang memang rawan dengan kejadian bencana alam. Kearifan lokal sudah mengajarkan akan tanda-tanda seperti ini. Bahkan binatang liar pun sering sudah tanggap akan terjadinya situasi bencana yang akan terjadi. Bencana banjir dapat diduga dengan  kondisi hujan yang berterusan di daerah hulu. Tanah longsor pun sebenarnya kalau dicermati diberikan tanda-tanda sebelumnya. Bencana tsunami juga dapat dilihat dengan anomali permukaan air sesaat sebelum terjadi bencana itu. Termasuk juga bencana angin ribut sebenarnya bagi orang yang peka mungkin sudah dapat diketahui. Untuk penduduk yang berada di kawasan bencana ini mestinya sudah paham akan tanda-tanda seperti ini. Namun terkadang memang hal ini seperti dilalaikan. Yang jelas tanda-tanda seperti apakah yang harus dikenali pasti untuk mengindikasikan gejala yang akan datang ini.

Khusus untuk gempa bumi, saat ini masih menjadi bahan kajian tanda-tanda yang mendahuluinya. Peristiwa gempa bumi memang terjadi pada daerah-daerah tertentu saja dengan struktur geologi yang memang masih labil dan terus bergerak.

Gempa bumi akibat proses vulkanik jelas hanya terjadi kalau suatu gunung api menunjukkan tanda-tanda aktivitasnya. Jadi dengan pemantauan aktivitas gunung api, maka gempa bumi vulkanik sudah dapat dipastikan. Gunung api yang akan aktif dapat ditandai dengan kenaikan temperatur udara dan hal ini dapat dirasakan oleh hewan liar di sekitar gunung yang kemudian akan berlarian turun pindah ke bawah. Dengan adanya pemantauan modern menggunakan seismograf maka tanda-tanda aktivitas juga akan diketahui secara cepat dan pasti.

Gejala yang berbeda adalah untuk gempa bumi tektonik. Gempa bumi diakibatkan oleh aktivitas pergerakan lempeng bumi yang berada di kedalaman permukaan tanah atau bahkan di bawah dasar samudera. Tanda-tanda alam mungkin sangat tidak kentara yang mendahului peristiwa ini. Mungkin dari sisi awal proses sampai puncak gempa bumi yang terjadi itu sangat cepat sehingga tidak dapat memberikan tanda-tanda tertentu yang langsung diketahui manusia. Jika terjadi peristiwa yang mengikuti gempa bumi itu mungkin juga dapat dicermati. Jadi apabila terjadi gempa bumi, maka kemudian bencana susulannya inilah yang harus diwaspadai. Sebagai contoh adalah untuk gempa bumi yang terjadi di dalam laut, maka hal ini dapat berpotensi meneybabkan bencana susulan berupa tsunami besar.

Mitos Awan Vertikal

Kembali pada masalah tanda-tanda alam yang dicurigai mengindikasikan terjadinya gempa bumi berupa awan vertikal. Memang hal ini sempat menjadi isu yang hangat dengan peristiwa gempa bumi Kobe di Jepang ataupun gempa bumi di Bantul Yogyakarta. Saat itu ada awan vertikal yang kemudian dianggap sebagai pertanda terjadinya peristiwa gempa bumi ini. Telaah akan keberadaan awan vertikal ini kemudian menjadi isu yang memancing pro kontra sebagai pertanda bencana gempa bumi. Saya cenderung menganggap hal itu bukan sebagai pertanda akan terjadinya gempa bumi.

Awan vertikal (mitos pertanda gempa ?) di Kobe Jepang.

Awan vertikal (mitos pertanda gempa ?) di Kobe Jepang.

Coba saja kita tengok untuk argumentasi penulis yang diposting di Kompasiana. Dari sisi lokasi ada kecenderungan yang sangat jauh dan sepertinya tidak terkait sama sekali. Awan vertikal terjadi di belahan wilayah pulau Kalimantan, sementara gempa bumi yang terjadi jauh di belahan bumi lain yang berlokasi di daerah samudera Pasifik dengan jarak puluhan ribu kilometer. Dari sisi waktu, juga ada hal yang relatif tidak terkait. Awan gempa tampak pada Jum’at, 24 Desember 2010 sekitar pukul 3 sore. Berita gempa disajikan merujuk pada kejadian hari Sabtu malam. Dari sisi ilmiah, tentu saja sangat tidak ada hubungan sama sekali antara kedua peristiwa tersebut.

Beberapa bacaan yang mungkin mendukung hal ini juga dapat dibaca di blog dongeng geologi di situs ini. Kalau di sini dibahas tentang ketidakmungkinan hubungan antara awan vertikal dan proses gempa bumi ditinjau dari sisi jarak pandang pengamat terhadap posisi awan relatif dibandingkan dengan pusat gempa (episentrum). Beberapa pendukung teori awan vertikal terhadap indikasi gempa menyebutkan bahwa pergerakan lempeng bumi dapat menyebabkan keluarnya uap yang kemudian menimbulkan fenomena awan vertikal itu. Oleh karena itu berdasarkan teori mereka ini mestinya awan vertikal muncul dari titik episentrum ini. Jika kemudian merujuk pada gambar yang saya kutip dari blog itu, tentu saja hal ini tidak mungkin terjadi. Seringkali awan vertikal ini muncul terlihat oleh pengamat di suatu lokasi dan kemudiaan ternyata terjadi gempa, dalam kenyataannya seringkali episentrum gempa berada di lokasi yang sangat jauh. Apabila memang gempa akan menghasilkan awan vertikal maka seharusnya awan vertikal ini terjadi oleh orang-orang yang berada di dekat episentrum ini bukan oleh orang yang berlokasi jauh dari sana. Penjelasan lebih detail silakan langsung ke blog tersebut atau pernah juga diulas ulang di kompasiana ini.

Permasalahan yang sering terjadi lagi adalah jika episentrum terjadi di dasar laut. Tentu saja fenomena pembentukan awan vertikal tidak mungkin terjadi. Apabila episentrum di darat maka boleh jadi akan mengeluarkan awan vertikal. Awan ini berasal dari air tanah yang kemudian dilepaskan secara cepat semacam tembakan pistol air. Namun apabila episentrum berada di dasar laut, pengeluaran air tentunya akan diserap oleh air laut itu sendiri sehingga tidak mungkin keluar dari permukaan laut dalam bentuk awan vertikal. Saya lebih yakin untuk gempa dengan episentrum di dalam laut akan ditandai dengan pergolakan air laut atau bahkan fenomena tsunami. Tetapi tentu saja dari sisi kronologis, semua ini bisa terjadi setelah gempa bumi itu terjadi bukan sebelum gempa.

Mitos Fenomena Langit dan Gempa

Beberapa fenomena di langit sering dijadikan orang untuk dikaitkan dengan kemungkinan terjadinya bencana gempa bumi. Berbagai tampilan cahaya atau bentukan awan di langit sudah seringkali menjadi bahan ulasan tersendiri sebagai suatu mitos akan terjadinya gempa bumi. Beberapa hal ini antara lain adalah dibantah berupa awan cirrus, cahaya matahari ataupun bahkan jejak pesawat terbang.

  1. Awan Cirrus

Awan adalah kumpulan uap air di langit yang memiliki massa tersendiri. Uap air ini berasal dari hasil evaporasi air di permukaan karena panas dari matahari. Uap air kemudian akan bergabung dan terjadi kondensasi menghasilkan tetesan air bahkan juga bisa membentuk kristal es di langit. Kalau sudah sangat jenuh maka awan ini dapat menghasilkan massa cukup besar dan kemudian terjadilah dengan hujan. Keberadaan uap air di langit dan awan ini merupakan salah satu bagian dalam proses hidrologis di muka bumi.

Awan vertikal yang dipercayai banyak orang sebagai awan gempa.

Awan vertikal yang dipercayai banyak orang sebagai awan gempa.

Saya kira kita masih ingat akan berbagai pelajaran ilmu bumi tentang jenis-jenis awan. Salah satu jenis awan adalah awan cirrus. Awan jenis ini merupakan awan tinggi dengan ciri-ciri tipis, berserat seperti bulu burung. Pada awan ini terdapat kristal-kristal es. Terkadang puncak awan cirrus bergerak dengan cepat. Awan cirrus terbentuk ketika uap air membeku menjadi kristal es pada ketinggian diatas 8000 meter.  Keberadaan awan cirrus inilah yang kemudian sering dikaitkan dengan mitos awal bencana gempa.

Untuk diketahui keberadaan awan cirrus ini tidak hanya dijumpai di negeri Indonesia atau di Jepang yang memang daerah bencana gempa bumi. Untuk daerah yang tidak pernah mengalami gempa bumi pun akan dapat memperlihatkan fenonema awan cirrus. Tentu saja dapat kita bantah akan ada hubungannya antara awan cirrus dan gejala awal akan terjadinya bencana gempa bumi.

2. Bayangan Senja

Di langit terutama sore hari saat matahari akan tenggelam juga sering terlihat fenomena langit yang menarik perhatian. Hal ini adalah berupa sebuah bayangan senja yang lurus atau sering disebut crepuscular ray.

Bayangan ini terlihat karena sinar matahari yang tenggelam masih memancarkan sinarnya tetapi dengan bagian panorama yang tertutu awan. Pada kondisi tertentu sinar ini menembus langit kosong tanpa ada awan. Efek yang terjadi adalah sinar terlihat memancar di sekeliling langit yang tampak lebih gelap. Tentu saja kita tahu bahwa sinar akan selalu bergerak lurus, demikian juga maka fenomena pancaran sinar matahari ini juga akan terlihat lurus. Untuk gambar-gambar fenomena langit yang ini dapat dilihat lebih banyak lagi di blog ini.

Fenomena bayangan senja yang memberikan pancaran lurus.

Fenomena bayangan senja yang memberikan pancaran lurus.

3. Lintasan jejak pesawat terbang

Untuk pesawat jenis jet apabila terbang maka akan menghasilkan jejak berupa asap lurus. Jika langit saat itu terlihat cerah maka jejak awan ini terlihat cukup jelas. Pada awalnya berupa garis pekat dan kemudian menyebar membuat tampak seperti awan. Dengan adanya angin maka lintasan awan lurus ini kemudian akan berbelok dan sampai kemudian lenyap.

Awan karena asap pesawat terbang.

Awan karena asap pesawat terbang.

Bagi orang yang tidak terbiasa tinggal di daerah dekat dengan landasan udara, melihat hal ini mungkin akan terlihat aneh. Terlebih bila manuver pesawat itu kemudian naik secara vertikal maka boleh jadi hal ini dapat dianggap sebagai awan vertikal yang menjadi tanda-tanda terjadinya gempa bumi.

Penutup

Bencana gempa dapat terjadi dalam periode waktu yang sangat singkat dan berakibat kejadian yang sangat dahsyat. Ukuran skala waktu kejadian bisa terjadi dalam hitungan detik saja. Oleh karena itu hal-hal seperti ini tidak bisa diprediksikan dengan baik. Teknik pencegahan bahaya akibat bencana gempa adalah dengan jalan preventif menghindari dari bahaya sekunder, seperti bangunan dan infrastruktur yang runtuh. Oleh karena itu konstruksi bangunan agar dirancang dan dibangun untuk tahan terhadap gempa bumi ini.

Peta kejadian gempa bumi yang telah berlaku.

Peta kejadian gempa bumi yang telah berlaku.

Negeri kita memang sudah ditakdirkan berada di daerah bencana. Pada satu sisi terdapat puluhan gunung berapi yang sebagian besar masih aktif. Dari dalam bumi sendiri, pijakan pondasi geologi kepulauan Indonesia berada pada daerah lempeng yang masih aktif bergerak. Dengan demikian bencana alam yang terkait kondisi ini akan sangat mungkin terjadi. Kesiapan kita untuk menghadapi bencana inilah yang menjadi fokus utama. Sosialisasi langkah-langkah penyelamatan diri saat gempa juga perlu terus dilakukan. Bagi penduduk di kawasan pantai, dimana fenomena gempa akan dapat menimbulkan bahaya sekunder berupa tsunami juga perlu ada sosialisasi untuk menghadapinya. Jika perlu secara rutin dilakukan kegiatan latihan simulasi.

Selain itu tentu saja ikhtiar dan doa kepada Allah juga lah yang harus selalu dipanjatkan. Dengan demikian jika terjadi bencana maka tetap dapat dihindarkan kerusakan dan kerugian yang dapat dihindari, demikian juga keselamatan kita juga dapat dijaga.
Iqmal Tahir

Iklan

12 responses »

  1. estiaRana berkata:

    makasih buat informasinya, sangat menarik dan menambah pengetahuan 🙂

  2. Asrul Hoesein berkata:

    As.Alaikum……..Salam jumpa lagi Sobat @Iqmal…….Insya Allah semoga pemerintah dan kita semuanya sadar bahwa bencana yang menimpa Indonesia di dekade terakhir ini (gempa, banjir, longsor,dll)itu bukan murni anomali cuaca, tapi lebih merupakan ulah tangan manusia itu sendiri, akibat tidak patuhnya kita kepada Sang Pencipta (Allah SWT)……Bencana merupakan bala tentara Allah. bila Allah murka terhadap hamba-Nya…….Semoga qta semua sadar dengan fenomena alam ini…….Yg pasti semuanya punya berkah…..Amin…..

    Salam Hijau Sobat…..Sukses

  3. mantap berkata:

    infonya menarik

  4. bongde berkata:

    Ulasan yg menrik.
    Sepertinya kpan dan dimana pastinya gempa akan tetap jadi rahasia

    • Iqmal berkata:

      kapan dan lokasi pastinya gempa memang yang sukar untuk diprediksi secara ilmiah, tetapi kewaspadaan kita untuk mencegah kerusakan yang fatal atau dampak gempa itu yang coba diminimalisir dengan adanya kemungkinan gempa itu…

  5. kuy berkata:

    sebenarnya ini ngomongin tentang gempa atau awannya? saya coba cari tentang jenis awan, yang muncul malah teori-teori yang disambungkan ke gempa, tapi gak membahas tentang awan itu sendiri. Jadi..ini Cirrus? tapi Cirrus kan tipis. Aaaa saya bingung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s