Bagi yang pernah makan nasi kucing di Indonesia, mungkin sedikit banyak akan melihat banyak persamaan dengan apa yang akan saya tuliskan di psotingan ini. Nasi kucing biasa dijajakan di warung makan kaki lima yang dibuka setelah petang di berbagai pelosok kota. Warung makan berbentuk angkringan ini sangat khas berupa gerobak beroda dengan atap sekedarnya. Di atas gerobak angkringan ini diletakkan bertumpuk-tumpuk bungkusan nasi kucing itu dengan berbagai hidangan pelengkap lainnya. Penjual angkringan nasi kucing ini selalu melengkapi dengan minuman hangat baik kopi, teh ataupun jahe. Kalau di angkringan seperti ini yang diinginkan kadang adalah suasana santai untuk sekedar makan dan minum sambil mengobrol apa saja.

Nasi kucing yang dijajakan berupa nasih putih dengan lauk sayur tempe dan sambal ditambah dengan seiris ayam atau kaki ayam. Nasi putih yang disediakan hanya segenggam saja sehingga tidak akan membuat orang merasa kenyang. Bagi pembeli laki-laki mungkin akan perlu menghabiskan lebih dari satu bungkus.

Kalau di negeri jiran, maka fenomena yang sama dapat dijumpai dalam bentuk nasi lemak. Perbedaan yang ada adalah dari sisi waktu penjualan dan isi yang ada dalam bungkusan itu. Dari sisi ukuran, relatif hampir sama. Dari sisi harga, relatif tidak berbeda jauh. Suasana yang ditawarkan mungkin ada sedikit perbedaan. Coba bandingkan saja sendiri.

Satu bungkus nasi lemak.

Satu bungkus nasi lemak.

Nasi lemak umumnya dijual pada waktu pagi hari oleh beberapa tempat makan. Meski terkadang ada juga tempat makan yang menyediakan nasi lemak di waktu siang atau petang hari. Saat orang akan pergi berangkat kerja, biasanya mereka menyempatkan diri pergi ke tempat makan untuk minum dan sarapan pagi yang ringan. Pilihan yang ada adalah makan roti canai atau makan nasi lemak ini. Ada juga beberapa penjual nasi lemak yang khusus buka pagi hari tanpa menyediakan tempat, jadi pembeli hanya membeli nasi lemak untuk dibawa ke tempat kerja.

Nasi lemak berisikan nasi yang ditanak dengan santan. Umumnya tidak diberi kunyit sehingga tetap berwarna putih, mirip seperti nasi gurih kalau di Indonesia. Hanya kesan saya selama ini nasi lemak rasa gurihnya jelas kalah mantap dengan yang ada di negeri kita. Ibarat kegurihannya kalau nasi gurih mendapat angka 10, nasi uduk dapat angka 9,5, kalau nasi lemak rata-rata hanya mendapat angka 6 saja. Boleh dicoba kalau tidak percaya.

Terus pendampingnya untuk lauk, kalau nasi kucing selalu ada sambal tempenya, maka nasi lemak berupa sambal goreng ikan teri atau ikan bilis. Pelengkap lainnya berupa pilihan oleh pembeli meliputi telur, ayam, udang, paru atau yang lainnya. Paling umum tentu saja ikan teri, telur dan ayam. Pada nasi kucing, sering ada sambal dan lauk lainnya berupa ayam, telur, sate usus, kaki ayam goreng dan lain-lain yang dapat bersifat pilihan. Untuk nasi uduk, di Indonesia sering juga dijual dengan lauk sambal, abon, irisan telur dadar, kacang goreng, timun atau variasi lauk lainnya.

Di negeri jiran, sepertinya ada aturan yang melarang nasi lemak dijual mahal. Terkait dengan hal ini maka penjual mengantisipasinya adalah dengan mengemas bungkusan nasi lemak dalam ukuran kecil. Bahkan kalau boleh saya katakan dengan ukuran yang relatif sangat kecil. Ukuran yang sangat kecil ini tidak hanya kuantitas nasinya, untuk lauknya pun menjadi berbanding lurus. Telur rebus bisa dipotong dalam ukuran yang sangat kecil, rasanya seperti sekedar ada syarat penampakan bagian putih telur dan kuning telurnya saja. Untuk ayam pun dipotong-potong dalam ukuran yang relatif kecil juga. Kalaupun pernah dapat potongan yang berukuran lebih besar, itu hanya karena terdapat tulang dalam potongan tersebut.

Dalam nasi lemak ini, ukuran yang relatif banyak hanya sambalnya saja. Sambal biasanya diberikan oleh penjual dengan dikucurkan pada bagian lauk dan nasi itu secara merata. Jadi sambal ini termasuk yang menjadi ciri khas nasi lemak ini. Tidak peduli harga cabe sedang mahal atau murah, ukuran sambal yang dituangkan pun relatif sama. Omong-omong soal cabe ini, di sini sih harga tidak begitu fluktuatif. Harga cabe relatif selalu mahal karena memang cabe ini termasuk produk impor. Oleh karena itu harga cabe cenderung selalu mahal, walaupun keuntungannya adalah selalu tersedia setiap saat di pasaran.

Untuk tempat makan yang menyediakan fasilitas tempat makan bagi pengunjungnya, maka hal ini sering juga dijadikan tempat nongkrong. Pengunjungnya pun bervariasi dari laki-laki ataupun perempuan. Kebanyakan juga adalah orang-orang yang akan bekerja ataupun sekedar keluar sebentar dari tempat kerja. Mereka makan nasi lemak ini dengan hidangan minuman umumnya adalah teh tarik.

Sampah sisa bungkus nasi lemak.

Sampah sisa bungkus nasi lemak.

Perbedaan lain dengan nasi kucing adalah bungkusnya. Nasi kucing biasanya dibungkus dalam daun pisang yang dilapis kertas koran. Kalau nasi lemak umumnya dibungkus dalam kertas minyak atau plastik yang dilapis kertas korang. Saya kira lebih untuk mendapatkan daun pisang, di negeri jiran relatif lebih sulit dan dianggap tidak praktis. Kalau soal bungkus ini sih menurut pendapat saya, sama-sama penyumbang sampah dalam jumlah besar. Nasi yang dibungkus kecil tetapi memerlukan bahan pembungkus yang banyak. Tapi bolehlah kita berbangga hati, karena sampah pembungkus nasi kucing lebih ramah lingkungan dan bersifat biodegradable daripada nasi lemak ini.

Jadi kesimpulannya menurut pembaca, saya cenderung pilih nasi kucing atau nasi lemak ? Jawabannya jelas ! Saya lebih suka makan nasi kuning. Hehe… lha kok jawabannya tidak nyambung dengan pertanyaannya.
Iqmal Tahir

ps. Gambar nasi lemaknya sendiri mana ? Tadinya mau ambil foto nasi lemak ayng sedang dibuka, tapi pas waktu dibuka, langsung lapar, jadi ya dimakan dan lupa ambil fotonya.

Iklan

8 responses »

  1. roha berkata:

    saya sudah klenger dengar nasi lemak,..3 bulan pertama di sini,..g siang g sore g malam,..nasi lemak terus,…
    tiap denger kata nasi lemak,..perut langsung mual….

    • Iqmal berkata:

      Itu kalau istilah pak Wahyu, pokoknya makan untuk bertahan hidup saja… jadi klenger tidak klenger ya tetap makan nasi lemak saja dulu…

  2. vee berkata:

    keren pak infonya…..
    sekedar info tambahan seh:
    angkringan tu asalnya dari klaten lho,
    coba tanya penjualnya,mesti rata2 dari daerah bayat klaten…
    hehehe….

  3. […] yang tidak sedikit. Sebelumnya saya juga pernah menulis hal yang relatif terkait (baca tulisan soal nasi lemak ini), tetapi yang saya tuliskan adalah soal lain. Tumpukan nasi kucing menunggu […]

  4. Hisham berkata:

    Biar betul. Mana-mana saja di dunia, mesti ada yang sedap dan tak sedap untuk sesuatu jenis makanan. Kalau nasi lemak tak enak, kenapa orang Cina dan India Malaysia jadi hantu nasi lemak orang Melayu? Kalau makan nasi lemak yang tak enak, ertinya tak ada rekomendasi orang Malaysialah. Sama juga kalau di rekomen orang lokal Jakarta, orang Malaysia kata makanan di Indonesia tak sedap saja kecuali bila ke restoran mahal cekik darah.

    • Hisham berkata:

      Ayat akhir silap. Sama juga kalau TIDAK di rekomen orang lokal Jakarta, orang Malaysia kata makanan di Indonesia tak sedap saja kecuali bila ke restoran mahal cekik darah

      • Iqmal berkata:

        hehe… intronya tuh kalau orang kanga’ cakap : Biar betoi….
        Memang namanya selera kok ya… thanks sudah berkunjung…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s