Kalau dalam balapan motoGP atau F1, posisi start di grid satu selalu yang paling diharapkan oleh para pembalap yang berlaga di sana. Pada balapan motoGP misalnya, Valentino Rossi selalu berusaha mencari posisi pole position di grid satu ini dengan jalan mencatat waktu terbaik atau tercepat pada sesi kualifikasi akhir. Pembalap tercepat akan menempati posisi terdepan (pole) dan diikuti dua pembalap lainnya yang menempati grid atau lintasan pertama ini. Kalau di balapan F1, posisi grid satu ini hanya terdiri dari dua mobil. Di tulisan ini saya menuliskan kenyataan posisi grid satu yang terjadi bukan di lintasan balap, tetapi di jalur jalan raya yang berlaku di banyak tempat khususnya di sekitar tempat tinggal saya.

Posisi grid satu saat start lomba balap motor yang selalu diharapkan pembalap.

Posisi grid satu saat start lomba balap motor yang selalu diharapkan pembalap.

Analogi posisi grid ini saya berikan pada situasi saat menunggu lampu merah di traffic light di suatu simpang jalan. Kalau posisi lampu kuning sudah menyala seringkali kita harus memutuskan untuk mempercepat atau melambatkan kendaraan kita. Jika yang diambil memperlambat maka kendaraan kita akan mungkin untuk menempati posisi di bagian depan sendiri saat menunggu lampu hijau menyala kembali. Hal inilah yang saya sebut sebagai posisi grid satu. Berbeda untuk balapan yang selalu diharapkan dapat menempati posisi satu. Kalau menempati grid satu di jalanan sebenarnya seringkali malah terasa menyebalkan.

Kalau di perempatan, maka dengan aturan berbelok ke arah kiri seringkali diperbolehkan jalan terus maka jalur sebelah kiri harus kosong. Tetapi dengan keberadaan timer indikator waktu, maka seringkali mendekati lampu merah habis, akan banyak kendaraan yang melajukan kendaraannya secara perlahan untuk mengisi jalur sebelah kiri ini. Dengan demikian mereka akan dapat start bersama dengan para penghuni grid satu ini. Hal ini sah-sah saja asal jangan terus menghambat jalur berbelok ke kiri yang justru menyebabkan kendaraan yang akan berbelok ke kiri akan terhalang.

Hal yang lebih parah adalah penggunaan jalur sebelah kanan yang semestinya digunakan untuk kendaraan dari arah berlawanan. Untuk situasi perempatan dengan traffic light dimana laju sedang tersisa untuk lajur dari arah kanan (pukul tiga), maka dipastikan tidak ada kendaraan yang akan melewati jalur kanan ini. Dari sini dapat diduga akan  langsung banyak penyerobot dengan jalan melanggar marka jalan untuk menempati posisi grid satu yang berada di jalur kanan ini. Jika mereka akan berbelok kanan maka hal ini tidak menjadi masalah. Tetapi yang terjadi justru yang menyebabkan timbulnya rasa sebal dan gondok. Hal ini karena kadang banyak pengendara yang akan berjalan lurus (pukul dua belas) yang otomatis berarti memotong kendaraan di depan yang akan berbelok ke kanan.

Kondisi yang sama untuk menyalip kendaraan di depan sendiri adalah pada daerah di lintasan kereta api yang berpalang. Kalau lintasan yang berada di perkotaan, maka kendaraan yang di grid satu, seringkali akan dipotong oleh sepeda motor yang melanggar marka pembatas jalan. Jalan di daerah perkotaan umumnya akan dibuatkan marka permanen untuk membatasi jalur sebelah kiri dan sebelah kanan, sehingga tidak mudah untuk dilanggar oleh kendaraan roda empat atau lebih. Kendaraan ini harus mengalah agar tidak terjadi kemacetan karena jalur sebelah kanan harus dikosongkan terlebih dulu sehingga pengguna jalan dari arah yang berlawanan dapat melaju. Kalau di lintasan di jalan antar kota, kendaraan pemotong grid satu ini kebanyakan dilakukan oleh kendaraan umum seperti bis atau angkotan umum. Jadi kendaraan di posisi grid satu ini tidak berarti akan bergerak yang pertama kali, justru dia harus mengalah pada para kendaraan penyerobot ini jika tidak ingin diteriaki atau diklakson keras-keras.

Kondisi lain yang juga menyebalkan bagi penghuni grid satu ini adalah lengkingan klakson. Saat menunggu inilah kadang sebelum lampu hijau menyala, lengkingan klakson dari kendaraan di belakang kita kadang sudah terdengar. Terlebih jika kita tidak segera berjalan setelah lampu hijau menyala. Dengan adanya timer sebagai indikator waktu saat lampu merah atau lampu hijau tersisa, maka pengemudi dapat segera menyesuaikan untuk menjalankan kendaraan. Pengemudi kendaraan di bagian belakang inilah yang sering tidak sabar untuk segera mengingatkan kendaraan di depannya berjalan. Jelas kalau yang di depan belum berjalan, maka kendaraan yang di belakangnya akan tetap terhalang.

Untuk di Yogyakarta, sekarang disediakan jalur tunggu khusus untuk pengendara sepeda. Ruang yang diberi warna hijau dan tulisan penanda ini digunakan untuk memberi kesempatan pengguna sepeda untuk selalu start terdepan dan diutamakan. Tujuan ini memang sangat baik guna menggalakkan pengguna sepeda. Namun dalam kenyataannya belum terlihat banyak pengguna sepeda di jalanan, masih kalah dengan jumlah pengguna sepeda motor.

Jadi bagaimana pendapat pembaca, ingin selalu dapat posisi grid satu ?

Iqmal Tahir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s