Sewaktu mendekati jadwal kepulangan kembali ke Malaysia, dari Yogya kamis emaptkan untuk datang menengok keluarga di Purbalingga. Sekedar lama tidak pulang ke rumah sekaligus ziarah ke makam almarhum bapak di Pegedhangan.

Di rumah Blater, Purbalingga memang hanya sebentar saja. Datang sampai sana sudah malam dan keesokan harinya sudah langsung pulang kembali ke Yogya. Memang singkat namun relatif berarti karena dapat digunakan untuk melepas kangen bersama keluarga. Meskipun saat itu anak saya yang terbesar tidak ikut karena harus mempersiapkan belajar guna menghadapi ujian akhir kelas 3 smp.

Ternyata di rumah Blater saat itu, pohon apokat di belakang rumah sedang berbuah lebat. Tentu saja tidak lupa untuk memetik buah itu. Buah apokat yang di belakang rumah itu memang jenis unggul, karena dapat berbuah lebat dan cukup sering berbuah. Buah yang dihasilkan juga berukuran sangat besar bahkan ada yang beratnya mencapai setengah kilo lebih per buahnya. Dengan menggunakan galah dan naik dari atap rumah, maka proses pemetikan buah dapat dilakukan dengan sukses.

Panen buah apokat di rumah Blater Purbalingga.

Panen buah apokat di rumah Blater Purbalingga.

Buah hasil pemanenan saat itu akhirnya dibawa ke Yogyakarta. Tetapi buah apokat memang harus diperam terlebih dahulu, tidak dapat dinikmati langsung setelah dipetik. Beberapa buah memang sudah terlihat matang, tetapi tentu saja masih keras. Jadi tetap harus diperam dahulu supaya diperoleh buah apokat yang lunak dan dapat dikerok untuk dibuat jus apokat.

Sampai saat keberangkatan lusa harinya ternyata belum ada buah apokat yang siap masak. Memang sih sudah kelihatan matang, paling dua hari lagi sudah siap. Pikir punya pikir sudah dibawa saja ke Malaysia, lha untuk obat kangen. Sudah lama sekali tidak makan buah apokat dari rumah.

Belajar pengalaman dulu dari kolega saya yang membawa buah salak pondoh segar ke negeri jiran. Salak ini dibawa saja untuk dimasukkan tas jinjing dan bukan dimasukkan ke bagasi. Apokat ini juga akhirnya aku bawa ke dalam tas jinjing. Aku pilih enam buah apokat yang besar-besar untuk dibawa.

Setelah check in di bandara, tidak ada masalah. Barulah masuk ke pemeriksaan sinar X setelah cek imigrasi, muncul masalah. Ternyata aku tidak diijinkan membawa apokat ini. Waduh….

Enam buah apokat besar-besar, kualitas no 1, hasil keringat sendiri yang susah payah metik dari pohon sendiri, mau berpindah tangan begitu saja. Pokoknya betul-betul tidak ikhlas rasanya. Lha dulu bawa buah lain dijining seperti itu diperbolehkan, sekarang kok tidak diperbolehkan.

Walaupun berkilah bahwa buah itu untuk dimakan sendiri, tetap saja tidak diijinkan. Akhirnya pasrah saja buah idaman itu ditinggal di meja pemeriksaan, bersama botol-botol minuman. Tetapi saya yakin lah semua petugas di situ bakal rebutan mengambil buah apokat itu. Siapa sih yang tidak tergiur dengan tampilan buah yang ranum dan besar itu.

Akhirnya ya mau bagaimana lagi. Apokat tinggal dibayangkan saja sekarang. Brengsek betul…

Buah apokat di pohon.

Buah apokat di pohon.

Buah apokat yang sedap.

Buah apokat yang sedap.

Iqmal Tahir

4 responses »

  1. b d' ima mengatakan:

    hahaha…kasian dehhhh….ngertiya wingi tak jukut sik gedhe dimin…..

  2. ninna mengatakan:

    Kaciaaaan deh….!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s