Saya pernah menulis artikel tentang kasus pengembalian uang receh yang diganti permen. Soal uang receh ini memang saat ini sering dianggap sudah tidak bernilai, kadang diremehkan oleh banyak orang. Tetapi kalau soal pemberian uang kembalian dalam transaksi ini memang tetap menjadi kewajiban kasir atau pihak toko kepada para pembeli.

Untuk mengatasi masalah uang kembalian ini mestinya harga setiap item barang harus dalam pembulatan uang kecil yang tersedia. Jadi kalau di Indonesia pecahan uang receh terkecil saat ini adalah uang lima puluh rupiah maka setiap barang harus dijual dengan kelipatan angka lima puluh ini. Tidak boleh atas nama harga psikologis maka harga dibuat menjadi Rp 995,00 atau yang serupa. Kalau sudah seperti ini tentunya tetap akan menghasilkan penjumlahan yang boleh jadi menyebabkan kesukaran uang kembalian.

Soal uang receh ini, ada hal lain sebenarnya yang ingin saya tuliskan. Kebetulan saat berada di negeri jiran ini, uang pecahan terkecil yang umum di pasaran adalah dengan nominal sepuluh sen. Namun di supermarket atau kantor pos, masih dijumpai pecahan lain dengan nominal yang lebih kecil yakni lima sen. Kasus dengan uang lima sen inilah yang ingin saya ceritakan dalam tulisan ini.

Uang koin lima sen.

Uang koin lima sen. Laku untuk pengembalian, tidak laku untuk membeli.

Kalau di toko biasa atau di warung makan, harga selalu dinyatakan dalam kelipatan sepuluh sen. Tetapi untuk di supermarket, harga terdapat yang dinyatakan dalam kelipatan lima sen. Hal ini berakibat sering terjadi transaksi dengan jumlah pembayaran total yang melibatkan pengembalian uang lima sen ini. Kasir akan mengembalikan uang sesuai dengan transaksi ini. Jika mereka tidak dapat menyerahkan uang kembalian secara tepat termasuk lima sen ini, maka konsumen berhak untuk mengadukan pada lembaga pengaduan konsumen. Untuk urusan pengaduan oleh konsumen di sini akan menjadi urusan yang panjang dan berakibat pada pencabutan ijin usaha. Oleh karena itu soal pengembalian uang harus diikuti dengan sebenarnya.

Demikian juga berlaku pada transaksi di kantor pos. Kantor pos menerima pembayaran untuk berbagai keperluan seperti uang listrik, air, asuransi, perpanjangan pajak motor, langganan televisi dan lain-lain. Untuk transaksi seperti ini terjadi juga pembulatan yang melibatkan pecahan terkecil dalam nominal lima sen. Tentu saja bisa berlaku pembayar akan menerima uang kembalian dalam nominal ini.

Setelah sampai di rumah, uang dalam nominal lima sen ini akan menumpuk banyak. Hal ini terjadi karena uang ini tidak dapat dibelanjakan ke banyak toko atau kedai makan. Jadi uang ini akan terkumpul sampai banyak. Jadi rasanya seperti menyia-nyiakan saja uang lima sen.

Uang ini baru dapat digunakan untuk ditukarkan ke bank. Pemilik kadang malas juga untuk menukarkan pecahan uang ini karena akan memerlukan waktu perhitungan jumlah uang oleh pihak bank. Jalan lain adalah menukarkan uang pecahan ini ke pihak supermarket tertentu. Tetapi juga tidak semua supermarket mau menerima pecahan uang lima sen ini.

uang koin receh
Dari tulisan di atas maka dapat dianggap nasib uang ini sepertinya tersia-siakan. Diadakan hanya untuk kepentingan sebagai uang kembalian tetapi tidak dapat digunakan untuk transaksi pembelian. Tapi ingat kasus Prita kan ? kalau ada uang pecahan lima sen tapi jumlahnya 10.000 buah koin itu lumayan lho, sudah cukup untuk beli satu unit kamera digital standar.
Iqmal Tahir

Iklan

6 responses »

  1. blog ngoceh berkata:

    sedikit, tapi lama-lama jadi bukit.:)

  2. dean nieckolas berkata:

    iya gan sekarang uang receh ky gitu udah ga ada harganya.. parah bgt hahaha..

  3. numpang promosi ya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s