Di keluarga kami sudah biasa setiap anggota keluarga dapat membuat dan menyeduh minuman, khususnya untuk menghidangkan untuk tamu yang sedang berkunjung. Waktu saya masih kecil, bapak atau ibu biasanya menemui sang tamu, kemudian anak-anak siapa pun yang saat itu di rumah biasanya akan kebagian tugas menyeduh dan menyajikan minuman. Tak terasa sekarang pun kebiasaan ini menular kalau sedang ada tamu, maka giliran anak kami yang diberi tugas hal ini, minimal yang bertugas menyajikan ke ruang tamu.

Pada waktu menyeduh minuman ini ada satu pesan khusus yang masih terngiang sampai sekarang ini. Kalau membuat minuman baik teh atau kopi, hendaknya jangan sampai ada buih yang terlihat mengapung di permukaan air dalam gelas. Seperti kita tahu kalau saat membuat minuman maka kita akan menuang ramuan minuman kental, kemudian ditambahkan air panas sampai mendekati bibir gelas, selanjutnya diaduk supaya gula larut semua. Pada waktu seperti ini jelas selalu akan ada gelembung udara yang timbul dan mengapung di permukaan. Sesuai anjuran ini maka buih ini harus diambil dan dihilangkan dengan menggunakan sendok pengaduk.

Pesan yang lain pada saat mengaduk ini juga harus mengaduk rata. Air di dalam gelas tidak boleh tumpah keluar. Selain itu dalam mengaduk tidak boleh menimbulkan bunyi adukan yang timbul dari gesekan antara sendok dan dinding gelas.

Beberapa pesan tersebut ternyata masih melekat dalam memori otak ini, khususnya soal menghilangkan buih dalam permukaan.  Jadi kalau sudah memenuhi pesan-pesan itu maka dikatakan tuan rumah itu menghormati tamu dengan sajian minuman yang baik.

Segelas teh susu yang merupakan minuman populer di negeri jiran.

Segelas teh susu yang merupakan minuman populer di negeri jiran.

Seiring waktu dapat diketahui bahwa memang peribahasa “lain ladang lain belalang dan lain lubuk lain ikannnya” itu berlaku. Sekarang saya di negeri jiran, malah kebalikannya kalau dihidangkan satu jenis minuman, ternyata ada yang di permukaan gelasnya terdapat buih. Bahkan buih ini kadang terdapat dalam jumlah yang berlebih dan memenuhi permukaan sampai melambung.

Di sini ada satu minuman yang disebut sebagai teh tarik. Minuman ini berupa teh kental yang ditambahkan susu. Sewaktu pembuatan minuman ini, bukan dengan jalan diaduk supaya gula, susu dan teh itu merata, melainkan dengan jalan ditumpahkan dari satu gelas ke gelas yang lain. Mengingat cairan bersifat agak kental maka tumpahan ini menyerupai uluran yang tidak putus, sehingga dari jauh terlihat cairan seperti ditarik. Dari cara pembuatan inilah maka minuman ini disebut sebagai teh tarik.

Kalau saya merasakan teh tarik ini sepertinya tidak ada yang berbeda kalau kita membuat teh susu biasa yang diaduk biasa. Hanya saja dengan jalan ditarik seperti itu yang berbeda adalah jumlah buih yang terdapat di permukaan gelas.

Buih yang ada di permukaan gelas ini tentu saja oleh pembuatnya tidak dihilangkan. Jadi pada saat dihidangkan ke pembeli, buih yang berada di permukaan itu masih terdapat. Tentu saja hal ini tidak melanggar sopan santun atau tata krama penyajian minuman, karena memang minuman teh tarik itu seperti yang saya ceritakan di atas.

Kalau soal buih ini, ada gurauan dari satu teman perantauan sesama pelajar Indonesia di negeri jiran ini. Menurutnya, teh tarik yang dikatakan paling enak itu adalah teh tarik yang memiliki buih paling banyak. Jadi kalau mau buat minuman ini sendiri tapi tidak bisa menuang dari satu gelas ke gelas yang lain, dia punya satu teknik sendiri. Caranya adalah dengan menggunakan sedotan, kemudian ke dalam minuman teh yang sudah diaduk itu ditiup menggunakan sedotan sampai keluar buih dalam minuman. Hehe… ini cara paling jorok sedunia. Pokoknya saya tidak pernah minum dari yang dia buat ini.

Mau berbuih lebih banyak lagi, hehe… setelah ditambah gula dan susu, tambahkan lagi sabun cair atau shampo. Buih minuman dijamin lebih banyak lagi tuh… Bahkan kalau diminum, di mulutpun akan terus keluar buihnya. Jangan tanya rasanya sih.

Iqmal Tahir

Iklan

2 responses »

  1. mr. brandweer berkata:

    rasanya jelas aciikkk,,,, wkwkwk!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s