Letusan gunung Merapi di akhir tahun 2010 kemarin memang menyisakan dampak dan kerugian yang sangat besar. Dari sisi pelestarian alam, lereng yang tadinya hijau dengan pepohonan sekarang banyak yang musnah terbakar terkena awan panas. Jika hutan dan perkebunan rakyat yang berada di kawasan lereng gunung ini tidak segera tergantikan maka akan memberikan dampak sekunder lain berupa perubahan sistem ekologis berupa keberadaan flora-fauna lokal dan ketersediaan air tanah di lokasi setempat.

Perbaikan kondisi lingkungan setempat yang paling mungkin adalah dengan program reboisasi. Program berupa penanaman pohon dan penumbuhan hutan kembali sangat diperlukan untuk menjamin kelestarian alam dan ekosistem setempat. Tentu saja dampak letusan yang berakibat pada perubahan struktur tanah dan bentuk wilayah pun harus dipertimbangkan dalam pelaksanaan program ini sehingga perencanaan yang baik harus diperlukan.

Tugas perwujudan reboisasi ini dalam prakteknya adalah menjadi kewajiban dari pemerintah pusat melalui Departemen Kehutanan. Hal ini karena status wilayah di lereng gunung Merapi ini pada dasarnya telah menjadi Taman Nasional Gunung Merapi. Namun demikian para stake holder di daerah pun tetap harus ikut memikirkan dan perlu bekerjasama dengan langsung bertindak aktif.

Memang prioritas sekarang yang menjadi skala nomor satu adalah masalah relokasi para penduduk yang menjadi korban pengungsian karena tidak mungkin kembali ke tempat tinggal di dusun mereka semula. Selain itu juga masih ada agenda utama yang tidak kalah pentingnya adalah mengatasi bahaya sekunder berupa lahar dingin yang terus mengancam. Di luar dua agenda tersebut program reboisasi di lereng gunung tersebut perlu mulai dipikirkan dan dilaksanakan.

Tunas tanaman yang baru ditanam di lereng bekas letusan.

Tunas tanaman yang baru ditanam di lereng bekas letusan.

Sisa-sisa tanaman talas yang masih bisa tumbuh di bawah batang pepohonan yang kering meranggas.

Sisa-sisa tanaman talas yang masih bisa tumbuh di bawah batang pepohonan yang kering meranggas.

Untuk menjalankan program ini memang diperlukan pihak yang peduli akan hal ini. Dari Yogyakarta terdapat banyak perguruan tinggi termasuk dari UGM yang sudah berpengalaman dalam program reboisasi seperti misalnya penghijauan kawasan Wanagama Gunungkidul. Dalam hal ini peran perguruan tinggi dapat diaktifkan dengan melibatkan masyarakat kawasan setempat. Beberapa program dapat dilaksanakan sebagai kegiatan pengabdian pada masyarakat. Selain itu mahasiswa juga dapat dilibatkan melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Permasalahan utama adalah pendanaan untuk pelaksanaan program reboisasi ini. Apabila dana pemerintah saat ini terserap untuk penanganan prioritas utama seperti masalah pengungsi korban letusan dan penanganan lahar dingin, maka dana pemerintah untuk program reboisasi ini menjadi kurang terprioritaskan. Tentu saja dalam hal ini diperlukan alternatif pendanaan dari sumber lain. Satu sumber yang diharapkan dapat membantu adalah melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dari beberapa perusahaan dan industri.

Beberapa industri atau jasa yang beroperasi di wilayah ini dapat diupayakan untuk ikut berkontribusi. Sebagai contoh perusahaan daerah yang bergerak dalam layanan air bersih dapat juga memberikan andil. Selain itu, industri swasta seperti pabrik susu SGM (Klaten), pabrik air minum dalam kemasan (AMDK) Aqua (Klaten), beberapa pabrik gula milik PTP, beberapa pabrik penyamakan kulit dan lain-lain. Pihak swasta inilah diharapkan dapat menyisihkan sebagian keuntungan untuk dialihkan pada tanggung jawab lingkungan sekitar dan dalam hal ini dapat digunakan untuk membantu program reboisasi di lereng Merapi.

Contoh dari penggunaan danan program CSR ini  sebenarnya telah dilakukan oleh pihak perusahaan Danone Aqua. Seperti telah dirilis melalui pemberitaan nasional di tahun 2010 ini, pihak Danone Aqua telah mempunyai program perlindungan sumber daya air dan konservasi lingkungan yang bersifat ”sustainable” (Lestari). Pada tahun 2010 lalu telah dilakukan progam penanaman 50.000 pohon yang dilakukan di wilayah Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Program yang dinamakan dengan Gunung Salak Lestari 2010 ini menerapkan model pesantren konservasi yang diharapkan dapat membawa manfaat ekonomi dan ekologi. Program konservasi ini menggunakan model pesantren konservasi dan kampung yang dikembangkan dengan kemitraan strategis antara pesantren Al Amin,Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dan Danone AQUA sejak tahun 2008.

Selain pabrik yang berlokasi di Sukabumi, Danone Aqua juga membangun pabrik AMDK serupa di daerah Klaten dengan memanfaatkan air mineral yang bersumberkan dari mata air yang keluar dari lereng Gunung Merapi. Oleh karena itu jika kawasan lereng atas gunung Merapi saat ini terancam parah maka dalam waktu mendatang debit air yang menjadi sumber pasokan air ini juga akan terkendala. Dengan demikian pihak Danone Aqua diharapkan pun ikut memberikan perhatian dan ikut mengalihkan pendanaan program CSR serupa untuk dilaksanakan di kawasan lereng Merapi ini.

Jika kemitraan di Sukabumi dilangsungkan dengan melibatkan departemen Kehutanan, pihak pemda, pesantren dan masyarakat setempat, maka langkah serupa juga dapat dilakukan di sini. Keterlibatan masyarakat dalam hal ini cukup penting karena pihak inilah yang menjadi ujung tombak dalam hal menjaga keberlangsungan program. Satu pihak lain yang mungkin dapat dilibatkan adalah unsur perguruan tinggi yang mungkin dapat membantu mengoptimalkan pelaksanaan program ini.

Penyerahan bantuan bibit tanaman untuk reboisasi.

Penyerahan bantuan bibit tanaman untuk reboisasi.

Persiapan penanaman bibit pohon.

Persiapan penanaman bibit pohon.

Program reboisasi dapat dilakukan dengan menggunakan pemilihan jenis tanaman tertentu yang dipilih dapat tumbuh di struktur tanah yang ada. Jika memungkinkan tanaman yang bersifat produktif pun dapat dipilih untuk ditanam pada beberapa wilayah. Dengan demikian keanekaragaman hayati tetap dapt dijaga sementara manfaat bagi masyarakat pun masih ada. Hal yang tidak kalah penting adalah keberadaan tanaman untuk menjaga sistem air tanah pun dapat berlangsung. Beberapa jenis tanaman alternatif seperti bambu dapat dipertimbangkan juga dalam program reboisasi ini.

Selain kawasan dalam wilayah TNGM, maka sebagian lereng merapi yang sudah menjadi kawasan penduduk juga dapat menjadi target pemulihan penghijauan ini. Program mirip reboisasi ini dapat dilakukan berupa pembagian bibit tanaman produktif guna dianjurkan ditanam di lahan pribadi masyarakat. Jenis tanaman buah-buahan ataupun tanaman kayu yang berumur sedang dan panjang dapat menjadi pilihan.

Sebagai penutup maka diharapkan dengan kemitraan yang tertulis di atas dapat memulihkan kembali kelestarian alam di kawasan gunung Merapi. Dengan demikian langkah kita untuk selalu menyikapi bencana alam ini dapat bersifat positif dan akan selalu menjaga dan memberikan manfaat bagi kita semua.

Iqmal Tahir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s