Baru-baru ini saya melihat cuplikan film terbaru Pete & Pete yang menggambarkan adegan di kolam renang. Beberapa tokoh dalam film itu sedang berada di kolam renang yang kemudian terjadi perubahan warna air kolam di sekitar tokoh itu dari jernih menjadi kebiruan. Adegan itu memang untuk tujuan komedi yang menunjukkan bahwa orang itu buang air seni (urine) di dalam kolam renang. Warna biru itu muncul karena ada indikator kimia yang mampu mendeteksi komponen air seni itu. Adegan ini menjadi bahan pertanyaan tersendiri bagi orang kimia tentang apakah hal itu benar-benar terjadi ataukah hanya dalam film saja.

Warna biru tua menunjukkan adanya urin di dalam air.

Film itu mungkin memuat adegan itu berdasarkan keprihatinan terhadap hasil survey yang dilakukan oleh Water Quality and Health Council tahun 2009. Hasil survey itu menyimpulkan bahwa terdapat 1 orang untuk 5 orang bangsa Amerika yang membuang air seni sewaktu berada dalam kolam renang. Ternyata cukup parah juga kelakuan mereka ini.

Selain data kebiasaan buang air seni ini, survey itu juga mencakup kebiasaan lain seperti disajikan berikut. Sekitar 35 persen responden mengatakan bahwa mereka tidak membilas air dulu sebelum masuk ke dalam kolam renang. Responden sebanyak 63 persen menyatakan tidak begitu terpengaruh selama berendam, bernafas atau melakukan kontak dengan air kolam yang telah terkontaminasi. Responden sebanyak 23 persen mempertimbangkan pemilihan kolam dengan frekuensi pembersihan kolam dan perlakuan kimia. Dan yang terakhir 16 persen mempertimbangkan kadar khlorin yang digunakan untuk mengolah air kolam renang. Survey itu memang digunakan untuk melihat pola dan kebiasaan orang Amerika dalam berenang di dalam kolam.

Beruntunglah kita yang hidup di Indonesia. Kalau di negara kita, memang masih banyak kolam renang yang mendapatkan pasokan air yang bersih, khususnya yang berada di daerah-daerah. Sirkulasi air dapat dilakukan dengan teratur, sehingga pembersihan dapat dilakukan dengan jalan membuang air yang lama untuk kemudian diisi dengan air yang baru. Tetapi kendala juga mulai dihadapi untuk kolam-kolam renang yang berada di perkotaan termasuk di hotel atau di tempat wisata dimana sumber air relatif agak terbatas.  Untuk kolam seperti ini pasokan air menjadi terbatas dan memerlukan biaya tersendiri. Satu-satunya cara adalah dengan jalan menjaga kebersihan air dengan pembersihan dan penggunaan bahan kimia.

Penurunan kualitas air di kolam renang dapat disebabkan oleh banyak faktor seperti kemasukan kotoran daun dan debu dari lingkungan sekitar, kontaminasi kotoran dari pengunjung (misal dari kotoran yang menempel di tubuh dan rambut), dan dari sumber lain. Faktor pengunjung sangat berpengaruh. Kalau soal makanan dan minuman jelas sudah ada larangan untuk melakukannya di dalam kolam renang. Tetapi ada kebiasaan dari beberapa ulah pengunjung yang jorok yaitu melakukan buang air di dalam kolam renang. Kualitas air kolam renang mesti akan berubah jika ada pengunjung yang melakukan hal ini, terlebih untuk kolam renang yang berukuran relatif kecil dengan sirkulasi air yang kurang.

Jika sudah terjadi penurunan kualitas air, akan berakibat pengunjung tidak mau datang. Dengan demikian pengelola harus selalu membersihkan dan menjaga kualitas air ini. Pengelola dari sini sepertinya ingin untuk mengetahui dan mendeteksi kebiasaan pengunjung yang jorok berupa buang air seni di dalam kolam renang. Kalau di film yang saya sebutkan di atas adalah dengan menggunakan bahan kimia sebagai indikator atau detektor air seni di dalam kolam renang.

Sebenarnya kalau ditanya apakah ada detektor bahan kimia yang berfungsi seperti itu. Jawabannya ternyata tidak ada atau jika ada maka hal itu tidak efisien untuk dilakukan di dalam kolam renang. Jadi sebenarnya tidak ada kolam renang yang memiliki detektor air seni di dalam kolam renangnya.

Kebersihan kolam renang yang harus dijaga, termasuk dari urine pengunjung yang jorok.

Macam-macam indikator kimia.

Di pasaran memang banyak dijumpai suatu bahan yang bersifat sebagai indikator pH atau keasaman. Pada kondisi asam warna indikator itu tertentu dan kemudian akan berubah pada saat kondisi berubah menjadi basa. Kalau air di kolam renang biasanya adalah cenderung netral dan sedikit asam (pH sekitar 6-7), sedangkan air seni memiliki pH yang mendekati netral juga (walaupun mengandung mineral-mineral hasil ekskresi dari ginjal). Dengan demikian apabila terjadi pencampuran perubahan pH tidak akan terjadi begitu besar, terlebih jika terjadi di dalam kolam renang yang memiliki volume sangat besar. Jika di dalam ilmu kimia maka jumlah ini mengakibatkan reaksi pseudo relatif terhadap jumlah air sebagai solvennya. Atau untuk digunakan pada seluruh kolam renang diperlukan indikator dalam jumlah yang banyak, tapi juga kemungkinan ini tidak berhasil juga seperti alasan yang saya sebut di atas. Jadi efektivitas indikator kimia akan rendah untuk mendeteksi keberadaan air seni dalam kolam renang.

Sekarang kembali ke kebiasaan jorok orang untuk kencing di dalam kolam renang itu. Pengelola tentunya ingin pengunjung tidak melakukan hal itu. Jika memang cara mencegah dengan penggunaan indikator itu tidak ada, maka harus dilakukan cara preventif lainnya. Pengelola perlu membuat larangan yang jelas untuk tidak melakukan buang air seni di dalam kolam, meskipun dalam prakteknya tidak ada sanksi karena juga tidak ada bukti apabila dilakukan. Pengelola juga perlu membuat toilet yang representatif dan relatif dapat diakses pengunjung dengan mudah. Toilet yang bersih dan nyaman akan membuat pengunjung tidak segan untuk datang dan menggunakan sebagai tempat untuk buang air seni daripada melakukannya di kolam renang.

Papan petunjuk toilet yang memudahkan pengunjung kolam renang.

Contoh toilet yang representatif untuk kolam renang.

Kalau toiletnya model kayak gini sih bikin malas... malu tahu !!

Ok jadi besok lagi jangan buang air seni di dalam kolam renang ya.
Iqmal Tahir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s