Hari Jumat kemarin setelah seharian berkutat di dalam kamar untuk mengerjakan tulisan rencana kerja riset berikutnya, ternyata memerlukan pasokan energi yang sangat besar. Pikiran yang harus dicurahkan untuk dituangkan dalam rangkaian kata-kata dalam bentuk dokumen kerja ini memang sudah harus diselesaikan secepat mungkin. Akibatnya saat malam tiba, tangki bahan bakar menuntut harus segera diisi penuh. Tidak dikira pergi malam itu juga berbuntut keapesan kembali, memang tidak seperti kejadian Jumat malam dua minggu sebelumnya sih (baca ini).

Hari Jumat itu, mendung menyelimuti daerah ini seharian membuat rasa malas untuk keluar. Akhirnya diputuskan untuk bekerja saja di rumah. Menjelang siang, sudah mulai rasa lapar. Habis itu memasak nasi, lauknya cukup telur mata kerbau alias mata sapi, ditambah abon. Terus kerja lagi. Siang terus sholat Jumatan dan sekalian makan siang, lauknya gulai tulang iga sapi. Mantap kan, hanya bumbunya yang kadang gak tahan, kuat sekali rempahnya kayak bau jamu tradisional sih kalau di Yogya. Pulang terus kerja lagi diseling nonton CSI di Astro.

Baru malamnya ini tentang kejadian apes yang akan saya ceritakan. Malam itu sempat nonton CSI satu kali lagi, sebenarnya sih ulangan, hanya waktu itu nonton di bagian akhirnya saja. Terus ada kawan ada housemate yang di rumah taman bukit khayangan dulu, pak Jack. Untung bawa buah pisang, lumayan buat ganjal perut. Habis itu diputuskan pergi makan.

Sebenarnya perginya ke tempat makan tidak begitu jauh, namun karena masih gerimis kecil sisa hujan sebelumnya jadi kerasa dingin. Jaket yang masih dicuci dan belum kering jadi tidak bias dipakai, akhirnya pilihannya mengenakan sweater. Akhirnya kami bertiga pergi mencari makan di luar. Pilihan jatuh ke tempat makan yang sebenarnya saya kurang begitu suka, karena kadang bau selokan cukup tajam terasa di tempat itu.

Pikiran masih melekat pada sisa tulisan yang belum selesai. Tetapi memang harus perlu mengisi bekal buat pasokan energi. Pilihan makan yang tidak berat, akhirnya adalah mi bandung. Ini makanan pakai nama bandung tapi kalau pergi ke kota Bandung, dijamin orang asli sana di tidak ada yang mengenal makanan ini. Makanan ini sebenarnya adalah mi kuah kental. Pesanan dibarengi dengan minuman limau panas untuk penghangat badan.

Di warung ini mi bandungnya ternyata lumayan enak, ada udangnya, ada dagingnya dan telur. Cukup memenuhi selera juga karena pedasnya berbeda dengan pedas di tempat lain di kota ini yang biasanya nanggung. Di sini rasa pedasnya mantap. Walaupun mangkok dan porsinya kecil, namun cukup memancing selera. Waktu teringat di rumah masih punya nasi putih sisa, maka terpikir untuk membeli mi bandung satu plastik lagi untuk dibawa pulang.

Setelah ngobrol panjang ngalor ngidul ngetan ngulon, ternyata gerimis berubah menjadi hujan deras lagi. Wah jelas tidak bisa langsung pulang. Mi bandung jelas mulai terasa dingin, tidak apa lah nanti bisa dipanaskan sendiri di rumah. Padahal pikiran masih terkait di kerja yang ingin diselesaikan malam itu juga, biar besok-besok sudah terbebas dan bisa mengerjakan pekerjaan yang lainnya lagi. Saat itu tidak bawa mantel, jadi tidak mungkin pulang awal menerobos hujan. Lagipula teman-teman masih senang bercerita macam-macam. Cukup lama juga kami di tempat makan itu, sampai pelayan pun datang untuk sekedar apakah masih perlu memerlukan tambahan pesanan makanan atau minuman, bahkan sampai mau menghitung total bayaran segala.

Saat membayar baru ketahuan, bahwa rasa enak dari mi bandung itu memang harus ditebus dengan layak. Ternyata satu porsi mi bandung itu relatif mahal dibandingkan dengan nasi goreng ayam yang porsi dagingnya cukup besar juga. Tapi tidak apa, lha sudah terlanjur pesan dua porsi. Sekali-kali keluar uang banyak tidak apa. Pokoknya hari ini tidak jadi berhemat.

Perjalanan pulang keapesan bertambah. Gerimis yang turun sebenarnya sudah semakin reda, hanya saja genangan air sisa hujan besar tadi masih menggenang di jalan. Terpaksa harus jalan hati-hati supaya air tidak terciprat ke baju. Selama beberapa saat, amanlah perjalanan pulang. Tetapi begitu mau dekat rumah, ada genangan air besar, dan di belakang ada mobil mau menyalip. Tentu saja saya mending memperlambat dulu supaya tidak masuk genangan air itu. Brengseknya ternyata mobil itu melintas cepat dan mencipratkan banyak air ke tubuh kami. Sia-sia sudah usaha untuk membuat tubuh air dengan menunggu hujan berhenti dan juga berjalan hati-hati menghindari banyak genangan air, hanya karena pengemudi mobil brengsek itu.

Terus pulang ganti baju, mood kerja sudah tidak ada lagi. Aktivitas paling enak tentu saja yang dipilih yaitu tidur pulas. Pekerjaan boleh menunggu. Deadline boleh menunggu. Tidur itu tetap lebih prioritas !

Iqmal Tahir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s