Baru-baru ini banyak diberitakan soal keberadaan seorang bocah kecil yang memiliki kelainan dalam hal kebiasaan dan pola makan karena bocah ini ternyata suka memakan sabun. Sabun yang dikenal sebagai produk bukan bahan makanan, ternyata menjadi salah satu bahan yang harus dimakan setiap harinya.

Kebiasaan aneh dari seorang bocah laki-laki berumur 7  tahun ini memang di luar kewajaran. Bocah ini diungkapkan oleh orang tyanya bahwa yang bersangkutan suka makan sabun mandi. Dalam kesehariannya, bocah ini tidak pernah lepas dari batangan kotak berbau wangi itu. Bahkan untuk tidur pun, sebuah sabun wajib ada di sampingnya. Dengan aroma wangi sabun, maka bocah ini jadi makin pulas. Bahkan pernah sabun diambil dari tangan bocah ini saat sedang tidur tetapi kemudian akan terbangun dan menangis minta dikembalikan. Jika tak ada sabun saat bangun, bocah itu bisa menangis dan mengamuk. Ia akan berteriak-teriak meminta sabun ke ayah atau ibunya.

Sabun oleh anak itu sering dibawa untuk dihirup baunya, dijilati dan kemudian dimakan. Menurut orang tuanya bocah ini senang dan suka dengan semua merk sabun. Tetapi, dari semua merk sabun, yang menjadi favorit adalah sabun Lifebuoy warna hijau.

Inilah anak yang gemar memakan sabun.

Inilah anak yang gemar memakan sabun.

Fenomena aneh gemar memakan sabun.

Fenomena aneh gemar memakan sabun.

Di Malaysia pun ternyata ada juga fenomena aneh kebiaasaan memakan sabun ini. Saya menjumpai satu blog di halaman ini, yang memuat hal ini.

Menilik kebiasaan seperti ini memang jadi janggal. Sabun jelas bukan makanan dan bukan bahan yang dapat dimakan secara  normal. Sabun itu suatu bahan kimia berupa hasil reaksi basa (biasanya natrium hidroksida atau soda api) dengan asam lemak (baik yang nabati ataupun hewani). Bahan ini bersifat sebagai surfaktan karena memiliki gugus lipofilik sekaligus hidrofilik, dengan demikian dapat memiliki kemampuan mengikat kotoran untuk kemudian dilarutkan dalam air. Berdasarkan hal ini maka sabun dapat berfungsi sebagai pembersih kulit saat digunakan sedang mandi. Dengan demikian penggunaan mestinya adalah untuk digunakan di luar tubuh.

Dari sisi kandungan gizi, jelas tidak ada kandungan gizi yang terdapat dalam sabun. Tubuh memerlukan gizi untuk bahan bakar penggerak tubuh. Hal ini biasanya diperoleh dari makanan umum yang banyak mengandung bahan-bahan seperti karbohidrat, protein atau vitamin. Tentu saja pasokan untuk bocah itu dipenuhi dari makanan ini, tidak mungkin dia hanya akan memakan sabun sepanjang hari.

Mengingat sifat sabun yang bersifat basa, maka saya yakin bocah ini akan kecil untuk mengidap penyakit maag. Hal ini karena sifat sabun ini akan menetralisir kandungan asam lambung yang dihasilkan di perut bocah itu. Namun tentu saja hal ini hanya guyonan saja, lagipula yang bersangkutan masih berumur 7 tahun dimana jarang sekali bocah terkena penyakit maag.

Berdasarkan berita saja, maka saya dapat menyimpulkan bahwa bocah ini memang hanya menderita kecanduan aroma dari sabun mandi yang diciumi dan dimakannya. Sabun mandi umumnya dibuat dengan tambahan bahan aditif berupa zat pewarna dan pemberi aroma tertentu. Satu komponen yang relatif sangat berpengaruh terhadap otak manusia adalah zat aromatik yang terkandung pada pengharum, seperti halnya kandungan minyak wangi atau penghasil aroma pada makanan. Mungkin pada suatu ketika bocah ini menikmati aroma pada sabun wangi dan merasa nyaman atau enak, yang kemudian berlanjut menjadi kebiasaan untuk menghirup aroma ini sebagai suatu kebiasaan. Berlanjut lagi saat bocah ini kemudian merasakan sensasi yang diterima lebih menyenangkan lagi saat lapar dan kemudian mencoba memakan sabun mandi ini. Memang perut pada awalnya akan memberikan respon pada bahan asing yang masuk ke dalam perut, namun kemudian terjadi pola adaptasi untuk menerimanya sehingga tidak ada efek lagi pada jangka pendek, sehingga bocah ini memiliki pikiran bawah sadar untuk selalu mencium dan memakan sabun ini. Seperti halnya kecanduan akan suatu bahan aditif, proses selanjutnya adalah bocah memiliki ketergantungan akan kebiasaan untuk mencium dan memakan sabun setiap saat.

Ke depan mesti orang tua bocah ini perlu menyelesaikan kebiasaan yang kurang baik ini. Saya yakin akan ada efek kurang baik jika ada bahan sabun yang masuk dalam sistem pencernaan tubuh. Di dalam masa pertumbuhan anak mesti ada cara untuk mengatasi hal ini.

Kalau kebiasaan anak yang kurang negatif yang selama ini banyak dijumpai pada anak lain dapat diatasi. Misalnya adalah kebiasaan untuk kebiasaan minum susu ibu (ngempeng), mengedot botol susu, mengompol, atau menggigit ujung kuku. Hal seperti ini dapat dihilangkan melalui cara keras dengan perintah dan tidak menyediakan hal yang diperlukan. Memang akan ada unsur reaksi  penolakan yang keras seperti menangis, mogok makan, atau tindakan lainnya. Orang tua kadang perlu keras dan perlu menahan perasaan juga untuk tega dalam menghadapi hal ini. Namun terkadang reaksi anak sering berlangsung dalam waktu lama untuk tetap menginginkan kebiasaan ini, sehingga terkadang orang tua luluh dan terpaksa membiarkan kebiasaan lama itu terjadi lagi.

Untuk soal ini kadang ada orang tua yang membawa ke orang pintar atau orang tertentu yang memiliki kelebihan khusus untuk membantu mengubah kebiasaan tidak baik. Sebagai contoh untuk menghilangkan kebiasaan ngempeng dapat dilakukan dengan cara dibawa ke orang tertentu untuk diberi air khusus dan diminumkan ke bocah, setelah itu bocah dapat berhenti minum air susu ibu.

Jadi untuk kasus bocah pemakan sabun ini, memang peran orang tua yang bersangkutan perlu tegas untuk menghilangkan kebiasaan ini. Jika cara menghilangkan sabun ini tetap tidak mempan maka perlu diambil cara lain yang mungkin dapat membantu. Orang tua harus tegas untuk tidak membelikan sabun yang diminta.

Satu cara adalah dengan tidak selalu menyediakan sabun padat di dalam rumah. Semua sabun di rumah diganti dengan penggunaan sabun cair. Sifat dan aroma sabun yang berbeda tentunya akan menghasilkan respon yang berbeda pada anak.

Untuk sabun padat yang masih digunakan untuk dicium dan dimakan anak, mungkin perlu dilakukan langkah manipulasi yang aman. Dapat saja permukaan sabun itu diolesi bahan lain yang menimbulkan rasa tidak enak, tetapi masih aman. Misalnya pada sabun diolesi bahan kina atau serbuk dalam biji buah mahoni yang memberikan rasa pahit. Bisa saja anak akan tidak suka dan dapat menghindari sabun lagi.

Alternatif lain adalah dengan menyediakan bahan makanan normal dengan aroma wangi yang sesuai. Misal saja nasi yang diberi pengharum pandan wangi, agar-agar dengan aroma strawberry, dan lain-lain. Hal ini dapat menghasilkan efek pengalih perhatian anak untuk selalu mengkosumsi makanan normal saja dan teralihkan dari sabun.

Kalau memang semua tetap tidak bisa, maka perlu dicoba cara dengan teknik hipnotis. Anak ini perlu dihipnotis dengan tujuan baik untuk menghilangkan kebiasaan ini.

Saya yakin kebiasaan pada anak kecil selalu dapat dihilangkan sebelum menjadi kebiasaan saat anak menjadi besar. Selalu perlu dicoba beberapa cara untuk mencoba mengubah hal ini. Tentu saja orang tua yang bersangkutan harus sabar dan telaten untuk ikut membantu menghilangkan kebiasaan memakan sabun ini. Semoga berhasil.

Iqmal Tahir

Iklan

7 responses »

  1. risal berkata:

    mas artikelny mantep2

  2. karina berkata:

    dulu anak sulung saya punya kebiasaan ngempeng jempol tangannya. Sampai umur 6 tahun saya tidak berhasil menghentikannya. sampai akhirnya saya bertindak dengan tegas. seyiap saat jkedua jempol anak saya itu saya pasangin plester bahkan seringkali pake lakban…hehee
    Akhirnya setelah berjuang keras, anak saya bisa berhenti dari kebiasaannya ngempeng jempol..

    • Iqmal berkata:

      di Yogya, kadang orang tua sering membawa anak yang punya kebiasaan ngempeng yang berlanjut ke orang pintar, setelah diberi minuman air putih dan diberi doa,sering langsung hilang kebiasan ini…

  3. ntsj berkata:

    saya juga mempunyai kebiasan yg hampir sama seperti itu. saya sangat suka memciumi aroma sabun mandi sampai berlebihan seperti orang kecanduan. bedanya saya tidak pernah makan sabun itu. saya merasa sangat susah menghilangkan kebiasaan saya selama tiga tahun ini. orang tua saya sering melarang bahkan memukuli saya jika saya terlihat sedang nyiumin sabun. saya sering melakukannya secara sembunyi sembunyi. bagai mana cara agar saya tidak kecanduan lagi. thanks before

    • Iqmal berkata:

      Waduh…. ini sih soal psikologi dong.
      Kalau saya dipaksa menjawab, paling gampang ya ganti sabun dengan bau yang lain yang cenderung tidak disukai. Kalau mau ekstrim ya ganti saja dengan sabun cuci yang tidak beraroma wewangian.
      Kalau tetap bertahan dengan kebiasaan mencium sabun ini, cara paling manusiawi adalah cari pacar saja, kemudian suruh pacar itu menggunakan sabun yang jadi favoritnya. Jadi sekarang tidak perlu menciumi sabun tapi menciumi pacaranya saja. Dapat bonus tuh semakin disayang dan sering ditraktir makan. Asal jangan kelewat batas lho ya…..

  4. july berkata:

    @ntsj sama dong kaya saya. saya bahkan sampai bawa-bawa itu sabun (lifebuoy) lengkap sama bungkus2nya kemana-mana. Kebiasaan tsb sempet hilang, tp skrg sedikit2 mulai lg, dan karena drmh pakai sabun cair, spons mandinya yang saya cium2. Secara klinis berbahaya ga sih kalo ‘cuma’ sekedar mencium aromanya saja?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s