Waktu masih kecil kalau mendapat uang kertas mainan, sering ditegur orang tua untuk tidak menggunakannya di tempat terbuka. Hal ini karena akan melanggar hukum. Uang kertas mainan biasanya diperoleh saat mainan monopoli. Kalau di halaman sering juga melihat kawan bermain pasar-pasaran dengan menggunakan uang mainan dari lembaran daun-daun yang terdapat di halaman. Uang mainan memang hanya untuk tujuan bermain. Berbeda halnya kalau uang dibuat semirip mungkin dengan uang kertas yang sah, karena hal ini dapat disalahgunakan untuk penipuan dalam kasus jual beli. Kalau yang ini tentu saja baru dapat dikatakan melanggar hukum.

Uang kertas itu dicetak oleh bank sentral setiap negara sebagai alat tukar otentik dengan nilai tertentu yang diakui negara dan pelaku transaksi ekonomi. Uang sebagai alat tukar ini relatif memiliki nilai yang fluktuatif. Uang dicetak dan diterbitkan oleh otoritas yang berwenang dengan pengawasan peredaran dan pertukaran yang selalu dikontrol. Bentuk uang adalah standar dengan ciri khusus yang tidak mudah dipalsukan.

Dalam prakteknya kemudian banyak pihak yang tidak bertanggungjawab untuk mencoba memalsukan uang khususnya uang kertas yang bernilai tinggi. Dengan ciri khusus ini maka tidak mudah untuk membuat uang palsu. Tetapi sering para pelaku nekad dan kemudian menggunakannya untuk transaksi di kehidupan sehari-hari. Tentu saja apabila tertangkap tangan, baik pencetak, pengedar ataupun pengguna akan dikenakan dakwaan pelanggaran hukum.

Sekilas seperti uang asli, padahal hanyalah uang untuk mainan monopoli.

Sekilas seperti uang asli, padahal hanyalah uang untuk mainan monopoli.


Penjual makanan ringan keliling terlihat membawa uang banyak sekali.

Penjual makanan ringan keliling terlihat membawa uang banyak sekali.


Sekarang dengan kemajuan dunia pencetakkan dan penggandaan dokumen maka duplikasi termasuk pencetakan uang kertas palsu sangat dimungkinkan. Untuk itu standar keamanan uang kertas yang beredar juga harus ditingkatkan untuk menghindari pemalsuan. Penegakan hukum juga terus dilakukan antara lain adalah larangan penduplikatan dan pencetakkan lembaran yang menyerupai uang untuk tujuan apapun.

Tetapi dalam prakteknya masih saja ada ulah orang tertentu yang membuat uang menyerupai uang kertas yang laku dan yang beredar di pasaran. Memang tujuan pencetakkan uang itu hanya untuk main-main atau hiburan saja. Namun sebaiknya hal ini juga dihindari.

Baru-baru ini saya membeli jajanan pasar berupa berondong jagung. Ternyata di dalam setiap kemasan brondong ini disisipkan lembaran kertas yang berbentuk uang kertas. Beberapa lembaran uang kertas tersebut dijumpai dalam pecahan lima ribu, sepuluh ribu dan dua puluh ribu rupiah.

Jajanan brondong jagung dengan bonus uang palsu.

Jajanan brondong jagung dengan bonus uang palsu.

Beberapa contoh lembaran uang mainan dalam jajanan anak.

Beberapa contoh lembaran uang mainan dalam jajanan anak.

Sekilas akan tampak persis seperti uang asli, karena warna dan tampilan gambar atau tulisan yang tercetak adalah persis. Namun setelah dibuka barulah tampak berbeda. Hal ini karena kualitas kertas dan cetakan yang digunakan hanya berupa cetakan biasa. Selain itu ukuran uang ternyata juga berbeda.

Meskipun orang dengan mudah membedakan uang itu hanya sebagai bonus jajanan saja dan hanya untuk sekedar mainan. Tetapi hal ini sebaiknya dihindari.

Bentuk pencetakan uang mainan yang menyerupai uang kertas asli juga dapat dijumpai pada beberapa kasus. Misal pada permainan monopoli sekarang, ternyata juga ada pembuat mainan yang mencetak uang kertas yang digunakan menyerupai uang kertas asli. Meskipun ukuran yang digunakan juga berbeda, dan juga tampilan cetakan, serta jenis kertas yang digunakan berbeda, maka hal ini sebaiknya juga dihindari.

Satu hal yang terkait dengan masalah uang kertas ini juga adalah manipulasi gambar uang kertas. Kalau pembaca pernah melihat di internet, banyak dijumpai hal ini dengan tujuan iseng belaka.

Misalnya adalah uang seratus ribu yang tadinya bergambar dwi tunggal proklamator negara Indonesia. Pada gambar tersebut ditunjukkan bahwa kedua tokoh itu sedang menutup muka dengan kedua belah tangan seolah-olah malu. Hal ini memang banyak digunakan untuk ilustrasi mereka berdua malu dengan kondisi negara kita.

Manipulasi uang bergambar proklamator malu.

Manipulasi uang bergambar proklamator malu.

Contoh lain adalah gambar uang seribu yang bergambar tokoh pahlawan kita kemudian dimanipulasi dengan gambar Gayus. Sosok satu ini adalah oknum pajak yang banyak membantu penyelewengan pajak industri nasional.

Manipulasi uang gambar gayus 1.

Manipulasi uang gambar gayus 1.

Manipulasi uang gambar gayus 2.

Manipulasi uang gambar gayus 2.

Uang rupiah bergambar mantan presiden Soeharto pun tidak luput dijahili. Ada satu tampilan gambar yang menunjukkan manipulasi gambar uang kertas ini untuk menunjukkan kekuasaan yang diselewengkan guna kekayaan pribadi tokoh satu ini.

Jadi sekali lagi, kita sebagai warga negara yang baik, hendaknya untuk taat menempatkan uang sebagai alat pembayaran yang sah. Kita tidak perlu menggunakan benda ini sebagai mainan untuk tujuan yang tidak benar.

Kalau soal uang kertas untuk dikoleksi, ini sih soal lain. Soal koleksi uang, saya sendiri termasuk yang melakukannya. Hal ini jelas tidak melanggar hukum.

Iqmal Tahir

2 responses »

  1. Nafis Mudrika mengatakan:

    saya suka dengan uang gayusnya … he he he

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s