Konsep 3R (reduce, reuse dan recycle) menjadi salah satu alternatif berguna bagi upaya penanggulangan sampah termasuk untuk pemanfaatan barang bekas dan barang buangan. Konsep ini tentu saja tidak bias diterapkan pada semua jenis barang atau produk dengan sama rata.

Contoh penerapan yang kurang tepat adalah jika pada diterapkan pada produk makanan. Konsep reduce masih dapat dilakukan dengan jalan pemilihan kemasan yang sesuai dengan keperluan konsumen. Misal dengan pemilihan produk dalam kemasan besar dibandingkan dengan kemasan ekonomis yang banyak memerlukan bungkus. Konsep recycle bahan makanan buangan dapat dilakukan jika untuk tujuan bukan manusia. Misal bahan pangan manusia yang telah dibuang diolah kembali untuk dijadikan makanan ternak. Akan tetapi jika bahan pangan manusia yang telah dibuang dan kemudian diolah kembali untuk ditujukan ke manusia kembali akan menjadi kurang tepat lagi. Hal ini terutama ditinjau dari sisi hiegenis dan sisi etik.

Pertengahan tahun 2010 lalu di Kompas Online diberitakan tentang produk makanan yang diperjualbelikan  untuk konsumsi anak-anak dan orang dewasa lainnya. Produk berupa roti yang merupakan makanan ringan ini banyak tersedia di pasaran di daerah Sidoarjo Jawa Timur. Sekilas tidak ada yang salah dalam produk makanan roti ini, namun jika ditelusuri lebih jauh ternyata makanan ini merupakan hasil daur ulang dari roti bekas yang telah kedaluwarsa. Roti yang seharusnya dibuang ini masih dimanfaatkan lagi dengan cara diolah kembali untuk dijadikan roti yang dipasarkan ke khalayak umum.

Suasana rasia polisi terhadap penjual roti bekas di Jatim.

Suasana rasia polisi terhadap penjual roti bekas di Jatim.

Produk makanan yang telah diusut oleh polisi ini berupa makanan ringan yang diolah dari roti wafer yang sudah ditarik dari pasar oleh produsen karena telah melewati batas aman konsumsi. Roti bekas yang telah kedaluwarsa ini kemudian diolah dengan pencampuran cokelat bekas juga. Produksi yang dilakukan ini dibuat di pabrik skala kecil skala 1 ton per hari, berlokasi di daerah Krembung Sidoarjo. Modus pembuatan roti bekas itu sebenarnya cukup sederhana. Mereka memproduksi dengan cara mencampur dua bahan, yakni cokelat dan roti wafer yang kedaluwarsa. Bahan makanan afkir itu kemudian dimasukkan ke dalam mesin aduk. Setelah jadi, dengan mesin packing, bahan makanan itu dimasukkan dalam kemasan baru lengkap dengan merek produknya. Dari hasil pemeriksaan tersangka, polisi memperoleh fakta jika produk ilegal ini sudah banyak diedarkan ke sejumlah daerah di Jawa Timur. Omzet pabrik ilegal itu cukup menggiurkan. Tersangka mengaku bisa mendulang omzet sedikitnya Rp 27 juta per minggu.

Bahan baku cokelat dan roti wafer kedaluwarsa dalam jumlah besar ini diperoleh dari sejumlah pengepul di Surabaya. Tersangka membelinya dengan harga murah dan beralasan bahan itu digunakan untuk makanan ternak bebek. Setelah memperoleh bahan tersebut, tersangka lalu mengolahnya menjadi berbagai produk seperti cokelat, permen dan roti wafer. Untuk membantu aksinya, tersangka merekrut ibu-ibu warga setempat.  Saat digerebek polisi, tersangka mengaku mempekerjakan 30 orang warga setempat.

Hal yang lebih memprihatinkan lagi adalah pencantuman ijin Depkes pada kemasan produk yang dijual. Dengan terkuaknya pabrik ilegal itu, tersangka bakal dijerat pasal berlapis seperti pelanggaran UU No 5/1984 tentang Perindustrian, UU No 7/1966 tentang Pangan, UU No 23/1992 tentang Kesehatan, dan UU No 36/2009 tentang Kesehatan. Selain terancam penjara maksimal lima tahun, juga terancam denda maksimal Rp 600 juta.

Berdasarkan kasus yang saya kutipkan di atas, maka dapat menjadi pelajaran kita semua untuk selalu berhati-hati dalam mengkonsumsi aneka macam produk yang akan kita makan. Kehati-hatian seperti ini dapat menjadikan kita untuk semakin selektif dalam memilih jenis produk yang akan dibeli. Selain itu juga dapat mendorong para produsen untuk bersaing secara sehat dengan menghasilkan produk yang dapat dipertanggungjawabkan. Terlebih jika target konsumen adalah kalangan anak-anak yang sangat rentan akan bahaya kesehatan akibat pengaruh gizi yang dimakan, maka jelas akan menjadi kesalahan yang sangat besar jika mereka seenaknya sendiri memproduksi bahan makanan yang diolah dari barang bekas.

Penarikan makanan kedaluwarsa harus aktif dilakukan oleh produsen bahan makanan itu sendiri untuk dimusnahkan secara teknis atau diolah bukan untuk konsumsi manusia. Peran instansi pengawas seperti balai POM dan dinas kesehatan juga harus pro aktif untuk pengawasan produk-produk konsumsi di pasaran local.

Alasan daur ulang untuk memenuhi konsep 3R ini jelas tidak dapat diterima. Daur ulang bahan makanan bekas ini diperbolehkan jika bahan makanan diolah untuk dijadikan makanan ternak seperti ikan, itik atau ternak lainnya.

Iqmal Tahir

Iklan

2 responses »

  1. b d' ima berkata:

    masya Allah….jangan biasakan anak2 jajan…..bawain aja dari rumah….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s