Kebiasaan dalam penyampaian materi pengelolaan sampah domestik adalah dengan berbincang-bincang dulu dengan peserta dalam hal kebiasaan penanganan sampah yang dilakukan. Salah satu jawaban yang sering muncul adalah dengan jalan membakar sampah tersebut. Sampah dikumpulkan di halaman dan ditumpuk, kemudian pada suatu waktu setelah terkumpul maka sampah disiram sedikit dengan minyak tanah untuk kemudian dibakar habis.

Diskusi kemudian berlanjut dengan dipancing pertanyaan-pertanyaan yang digunakan sebagai bahan diskusi. Sebagai contoh dari timbunan sampah apakah berupa sampah campuran atau sampah kebun saja? Apakah ada plastik yang terdapat dalam sampah yang dibakar tersebut ? Apakah ada kaleng semprot bekas obat nyamuk atau penyemprot ruangan ? Apakah asap tidak mengganggu ? Apakah tidak tercium bau yang menyengat saat sampah terbakar ? Apakah ada pohon yang ikut terbakar ? Dan berbagai pertanyaan lainnya. Kalau sudah seperti ini biasanya diskusi jadi lebih meriah.

Kalau sudah selesai, maka para peserta diminta merumuskan kembali tentang dampak pembakaran sampah domestik ini. Arahan diskusi selanjutnya adalah dengan mencoba memberi alternatif pengelolaan dan pengolahan sampah tersebut.

Ibu-ibu membakar sampah kebun di halaman.

Ibu-ibu membakar sampah kebun di halaman.

Bapak-bapak membakar sampah hasil kerja bakti lingkungan.

Bapak-bapak membakar sampah hasil kerja bakti lingkungan.

Dari pengalaman yang selama ini sudah terjadi maka pada dasarnya hampir kebanyakan peserta sudah paham dan mengetahui aspek-aspek pengelolaan sampah. Namun kesadaran untuk melakukan dalam kehidupan sehari-hari ini sajalah yang masih kurang. Hal inilah yang kemudian perlu dimotivasi terutama untuk merealisasikan alternatif yang telah dituliskan peserta sendiri dalam diskusi tadi. Beberapa hal misal untuk pemilahan sampah, upaya 3R sampah, dan lain-lain.

Omong-omong soal dampak pembakaran sampah, ada satu lagi fakta bahwa pembakaran sampah dapat mengakibatkan orang masuk penjara. Bukan karena membakar sampah itu terus melanggar undang-undang atau peraturan daerah, tetapi karena akibat proses sampingannya.

Kejadiannya adalah karena proses membakar sampah secara sembarangan  yang kemudian berakibat pihak lain menjadi terganggu. Kejadian ini terjadi di kota Semarang dan berlangsung pada bulan Agustus 2010, seperti dikutip dari Kompas Online. Pelaku penusukan menggunakan sebuah gunting untuk dikenakan pada korban yang saat itu membakar sampah kering di depan rumahnya. Asap pembakaran sampah yang cukup pekat masuk ke dalam rumah pelaku sehingga yang bersangkutan menjadi terganggu dan memperingatkan korban agar mematikannya. Kedua belah pihak kemudian terlihat bersitegang. Pelaku kemudian memilih masuk ke dalam rumah dan tidak menghiraukan korban yang masih mengomel karena tidak terima atas tegurannya itu. Diduga karena hilang kesabaran akibat korban yang terus mengomel, tersangka yang berada di rumah lalu mengambil gunting dan langsung menusukkan ke beberapa bagian tubuh korban. Anak korban mengetahui ibunya menjadi korban penusukan pun berusaha menolong ibunya, tetapi akhirnya dia pun tak luput jadi korban dengan luka di beberapa bagian tubuhnya. Sejumlah warga yang mengetahui kejadian itu segera membawa kedua korban ke rumah sakit, sementara yang lain melapor kasus itu ke kepolisian. Tidak lama kemudian pelaku berhasil diamankan polisi untuk diproses secara hukum dan mendapatkan hukuman di penjara.

Jadi kesimpulannya adalah kalau ada sampah lebih baik diolah untuk dipilah-pilah dan jika mungkin dikomposkan. Sampah hendaknya jangan dibakar untuk mencegah polusi udara akibat asap, pencemaran bahan berbahaya dari plastik yang terbakar, atau produksi CO2 yang banyak. Dengan tidak membakar sampah, mungkin juga akan menghindari konflik sosial dari pihak tertentu seperti pada kasus yang saya ceritakan di atas.

Iqmal Tahir

2 responses »

  1. Yongki Sutoyo mengatakan:

    Pak adakah komunitas daur ulang sampah di jogja, kalau ada apa nama komunitasnya alamatnya dimana ?

    • Iqmal mengatakan:

      1. Dusun Sukunan, Banyuraden, Gamping, Sleman
      2. Dusun Serut, Jetis, Bantul
      sebenarnya masih banyak kok hanya kecil-kecil dan tersebar….beberapa keberlanjutannya masih kurang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s