Minggu ini saya sangat heran membaca sebuah berita tentang peristiwa yang terjadi di Oregon, Amerika Serikat, berupa pengurasan sebuah waduk atau bendungan air. Waduk dikuras hanya karena ulah seorang pria yang ketahuan mengencingi bendungan air tersebut. Pada prosesnya delapan juta galon air terpaksa dikeringkan dari sebuah bendungan, yang sehari-hari digunakan sebagai sumber pasokan air minum bagi warga setempat. Sungguh sangat berlebihan menurut saya, baik berdasarkan alasan kesehatan maupun alasan pencemaran air.

Seperti yang saya kutipkan dari Detik Online, biaya untuk mengeringkan bendungan tersebut adalah sekitar US$ 36 ribu (sekitar Rp 310 juta). Operasi pengeringan bendungan dilakukan setelah Joshua Seater kedapatan sedang buang air kecil di danau jernih tersebut. Perbuatan pemuda berumur 21 tahun tersebut terekam dalam kamera CCTV.
Pada kenyataannya, operasi pengeringan bendungan yang menelan biaya besar itu kemudian menimbulkan kontroversi. Sebab menurut pakar-pakar kesehatan, insiden itu tak akan menimbulkan bahaya bagi masyarakat di Kota Portland yang mendapatkan pasokan air minum dari bendungan itu. Dikatakan pakar-pakar tersebut, rata-rata kandung kemih manusia hanya menampung enam sampai delapan ons dan urine tersebut akan sangat encer. Namun menurut seorang pejabat di Biro Air Portland malah membela keputusan untuk mengosongkan bendungan tersebut. Dikatakannya, banyak orang yang akan merasa jijik mengetahui bendungan itu telah dikencingi.

Oknum pemuda yang mengencingi waduk tersebut segera menyesali perbuatannya dan minta maaf atas kelakuannya tersebut. Menurut dia yang melakukan perbuatan itu setelah bersama sekelompok teman-temannya bermabuk dan kemudian mengencingi waduk yang tidak dikiranya sebagai sumber pasokan air minum. Dia sendiri akhirnya dikenai denda atas perbuatannya tersebut.

Saya mengutipkan tulisan di atas karena alasan sederhana, yakni apakah memang perlu waduk itu harus dikuras habis ?

Waduk oregon yang dikuras karena air seni.

Waduk oregon yang dikuras karena air seni.



Untuk diketahui sebagai sumber pasokan air minum memang memerlukan persyaratan tersendiri. Sebagai contoh kalau di Indonesia, persyaratan ini diatur dalam peraturan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia yang menyebutkan persyaratan baku mutu air kelas I. Dalam prakteknya air yang digunakan sebagai pasokan air minum akan diolah tersendiri sehingga terhindar dari bahaya atau pencemaran yang mengancam para konsumennya. Beberapa teknik pengolahan yang umum adalah filtrasi, aerasi, penambahan bahan kimia (kaporit) dan teknik lain yang disesuaikan dengan kualitas air yang diinginkan. Jadi air bersih ini pada prakteknya tidak disalurkan begitu saja dengan mengalirkan air ke jaringan pipa melalui sistem distribusi ke tujuan para penggunanya, tanpa melalui suatu proses pengolahan.

Pengolahan ini tentu saja bertujuan untuk menjaga kualitas air sehingga memenuhi persyaratan kualitas air minum. Sebagai contoh adalah untuk mengurangi jumlah padatan terlarut, membunuh berbagai bakteri atau mikroba yang merugikan lain, menghilangkan partikel kontaminan atau pengotor lainnya. Jadi kalau ada air seni yang berasal dari seseorang masuk ke dalam sumber air tentu saja akan ikut terolah pada proses yang dijalankan.

Air seni pada dasarnya adalah hasil ekskresi tubuh yang dibuang keluar selain keringat. Air seni ini dikeluarkan sebagai hasil buangan cairan yang diserap dalam usus dan telah melalui penyaringan oleh ginjal. Jadi unsur yang terbuang dalam air seni ini selain air adalah garam-garam mineral atau sisa-sisa protein/nutrisi yang tidak terserap. Jadi pada orang normal relatif bahan yang terkandung dalam air seni ini relatif masih bisa diolah dalam proses pengolahan air minum. Bahkan untuk saat ini diketahui air seni oleh para astronot dapat didaur ulang untuk digunakan sebagai air minum kembali oleh mereka. Proses yang dilakukan tentu saja berbeda, karena menggunakan prinsip destilasi dan teknik tambahan lainnya.

Perkecualian memang jika seseorang mengidap penyakit berbahaya yang dapat menular melalui media air seni ini. Penyakit seperti hiv/aids ini mungkin dapat menjadi contoh, walaupun tidak tepat benar. Air seni dari pengidap orang inilah yang harus dihindari.

Dari sisi jumlah, seperti telah disebutkan di bagian atas, juga bukan suatu alasan yang tepat. Orang sekali mengeluarkan air seni umumnya tidak akan menghasilkan volume sampai 1 liter. Apabila dibandingkan dengan volume air dalam waduk, jelas jumlah ini sangat kecil sekali. Sekali air masuk ke dalam waduk kemudian akan terdistribusi dan menyebar. Kandungan bahan-bahan dalam air seni juga akan menyebar dalam jumlah yang relatif sangat kecil bahkan dapat diabaikan karena konsentrasinya yang sangat kecil.
Dalam hal ini saya teringat saat praktikum kimia analitik, salah satu alasan air sering digunakan sebagai pelarut bahan kimia yang bersifat universal. Selain karena sifat kimianya yang polar, ketersediaan yang murah dan mudah diperoleh. Dalam eksperimen kinetika kimia, konsentrasi air sebagai pelarut juga sering dianggap konstan dan tidak memberikan pengaruh pada laju reaksi, karena jumlah dianggap sangat berlebihan (ekses) relatif dibandingkan dengan spesies-spesies lain yang bereaksi.

Alasan yang paling tepat adalah dari segi kenyamanan saja. Hal ini karena ulah pemuda tersebut terekam dalam CCTV sehingga dapat ditonton oleh banyak orang. Orang yang melihat tentu saja akan merasa jijik. Akan tetapi kembali kalau diberikan argumentasi yang saya sebutkan di atas maka menjadi sesuatu hal yang tidak relevan lagi.
Kalau dikaji lebih dalam lagi, waduk yang terbentang di alam merupakan satu sumber air yang berasal dari hujan, sungai-sungai kecil di sekitarnya atau dari mata air yang berada di sekitarnya. Sangat boleh jadi terdapat penambahan air seni dan kotoran dari hewan yang berada di lingkungan waduk. Kalau mau konsisten, harusnya pengelola menguras waduk itu setiap saat.

Pembuangan air tentunya akan berpengaruh pada kondisi lokal hidrologis di sekitar. Bisa saja pembuangan dapat mengakibatkan pengisian waduk kembali menjadi terhambat, kecuali pada musim penghujan yang memang air sedang melimpah. Kalau pada saat musim kemarau, saya yakin pengelola akan berpikir ulang untuk menguras waduk apabila terjadi kejadian yang sama. Keberadaan ikan dan hewan yang hidup di perairan waduk juga mestinya akan terganggu karena pengurasan air ini.

Jadi kalau mau diterapkan di Indonesia, langkah yang sama menurut saya itu sangat jauh mudharat-nya dari manfaatnya. Lebih baik tindakan preventif untuk mencegah orang buang air seni sembarangan, misal dengan menyediakan toilet yang representatif dan mudah dijangkau.

Pelajaran dari sini jelas adalah kalau mau buang air, harus lihat-lihat tempat dan tidak boleh sembarangan. Kalau mau buang air tengok-tengok lingkungan sekitar dulu ada CCTV atau tidak. Tapi sebenarnya kalau mau buang air tentunya ya di kamar kecil yang tersedia dong….

Iqmal Tahir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s