Menyikapi bencana letusan gunung Merapi memang harus dilakukan dengan baik. Letusan gunung berapi merupakan suatu bencana alam yang tidak mungkin untuk dilawan manusia, melainkan harus diantisipasi sehingga tidak menimbulkan korban jiwa atau kerugian material yang sangat besar. Bencana letusan selain menimbulkan efek pada waktu kejadian letusan, ternyata juga menyisakan bencana sekunder berupa banjir lahar dingin yang tidak kalah dahsyat efeknya. Bagi banyak penduduk setempat terkadang mereka sering bertahan untuk tetap tinggal di lereng gunung Merapi ini. Mereka memiliki alasan keterikatan di sana, selain karena alasan tanah yang subur dan kebiasaan bekerja di daerah sana yang sudah mendarahdaging. Bencana letusan tentunya memang akan  menimbulkan pengaruh, khususnya terhadap kemampuan hidup dan meneruskan usaha untuk mencari nafkah.

Mata pencaharian utama penduduk yang berdomisili di lereng Merapi adalah bertani dan beternak. Dengan kejadian letusan ini tentu usaha mereka akan terganggu. Hal ini banyak terjadi khususnya untuk warga yang memiliki lahan sawah atau bahkan tempat tinggal yang berada di zona bahaya, termasuk juga yang dahulu tertimpa aliran awan panas (wedhus gembel) atau yang sekarang terkena banjir lahar dingin.

Bagi yang rumahnya terkena bencana, penduduk dialihkan untuk tinggal di hunian sementara. Akan tetapi untuk menghidupi dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, jelas tidak mungkin mengandalkan bantuan baik dari pemerintah ataupun sumbangan masyarakat. Beberapa penduduk masih dapat mengolah lahan pertaniannya kembali, walaupun harus penuh perjuangan karena lahan umumnya rusak terkena hujan abu. Saat ini sebagian masyarakat ada juga yang beralih matapencaharian untuk menjadi penambang pasir. Pasir yang melimpah dari alirah lahar dingin ini memang dapt memberikan berkah baru sebagai sumber penghidupan.

Sisa-sisa pohon yang habis terbakar kena awan panas Merapi.

Sisa-sisa pohon yang habis terbakar kena awan panas Merapi.

Alternatif lain adalah dengan bergerak di sektor wisata. Untuk diketahui saat ini areal tempat sisa-sisa bencana ini mengundang banyak orang untuk datang berkunjung. Dengan embel-embel sebagai wisata bencana, maka penduduk setempat dapat melakukan aktivitas penarikan retribusi daerah tertentu sebagai kawasan wisata, penataan parkir, pemandu wisata atau membuat kios berjualan. Mereka dapat berjualan makanan kecil dan minuman, selain itu juga menjual pernik-pernik produk yang terkait bencana seperti kaos, foto, CD dokumentasi bencana dan lain-lain.

Kalau dilihat di lokasi sisa bencana baik daerah yang terkena awan panas maupun yang dialiri banjir lahar dingin, ternyata menyisakan banyak sisa pohon-pohon yang terbakar dan bertumbangan. Batang dan cabang pohon yang telah mati ini tertumpuk di banyak tempat. Pohon ini telah roboh atau sebagian masih berdiri tegak, namun di banyak tempat sepertinya pohon sudah dalam kondisi mati. Memang untuk beberapa jenis pohon dimungkinkan untuk dapat hidup kembali. Untuk jenis pohon tertentu yang memiliki kayu bernilai ekonomi, maka oleh penduduk setempat dapat langsung ditebang untuk dijual. Namun banyak juga pohon kecil yang menyisakan batang pohon berukuran kecil dan belum bernilai untuk dijual, selain juga banyak cabang dan ranting pohon yang dibiarkan di lokasi.

Sisa-ssa ranting dan kayu yang bisa dimanfaatkan untuk bahan baku arang.

Sisa-ssa ranting dan kayu yang bisa dimanfaatkan untuk bahan baku arang.

Bagian pohon seperti kayu berukuran kecil seperti ini sebenarnya dapat dimanfaatkan lebih lanjut. Jika untuk kepentingan sendiri maka mungkin dapat digunakan kayu bakar. Namun sebenarnya bahan seperti ini dapat diolah lebih lanjut untuk diolah menjadi arang. Untuk diketahui arang ini cukup bernilai jual karena dapat digunakan untuk bahan bakar serta untuk media tanam anggrek.

Penduduk setempat dapat mengumpulkan kayu dari batang pohon kecil dan cabang ranting untuk dibuat menjadi arang. Cara pembuatan arang sebenarnya relatif tidak sulit. Kayu dipotong berukuran kecil-kecil untuk memudahkan proses pembuatan arang. Pembuatan ini dilakukan dalam liang yang digali dengan kedalaman 1-1,5 meter. Di sekeliling liang ditumpuk batu dan dirapatkan dengan tanah liat supaya tidak ada udara yang masuk. Proses pembuatan arang pada dasarnya adalah proses karbonisasi biomassa yakni pembakaran dengan udara seminimal mungkin.

Ke dalam liang selanjutnya kayu ditumpuk secara rapat. Kemudian proses pembakaran awal dapat dibantu dengan penggunaan minyak tanah supaya mulai ada pembakaran. Segera setelah terjadi bara api pada kayu kemudian di atas tumpukan kayu ini ditutup dengan dedaunan. Setelah proses pembaraan dimungkinkan berlangsung cukup lama maka di atasnya disiram dengan tanah liat kembali sehingga udara tidak dapat masuk ke dalam tumpukan kayu. Pada kondisi ini proses karbonisasi terus dapat berlangsung sampai seluruh bahan biomassa pada kayu membara dan berubah menjadi arang.  Proses seperti ini bisa berlangsung sampai 3-5 hari, tergantung dari jumlah biomassa yang terdapat di dalam liang.

Proses pembuatan arang selesai setelah semua kayu berubah menjadi arang. Liang tidak boleh langsung dibongkar secara cepat karena arang dapat terbakar habis apabila terkena udara bebas. Jadi di atas liang ini dibuka sedikit demi sedikit dan disiramkan dengan air agar bara dapat mati. Setelah selesai dan arang dingin, maka arang dipecah sesuai ukuran tertentu dan dijemur di bawah sinar matahari. Arang ini siap dikemas dalam karung untuk dijual ke pasar atau ke pengepul.

Tentu saja usaha arang ini akan dapat memberikan penghasilan bagi para pembuatnya. Usaha seperti ini dapat dilakukan secara sambilan, karena proses pembuatan arang tidak memerlukan waktu khusus.

Proses pembuatan arang 1 : Tumpukan kayu untuk dibuat arang.

Proses pembuatan arang 1 : Tumpukan kayu untuk dibuat arang.

Proses pembuatan arang 2 : Liang galian untuk tempat pembuatan arang.

Proses pembuatan arang 2 : Liang galian untuk tempat pembuatan arang.

Proses pembuatan arang 3 : Tumpukan arang setelah dibongkar.

Proses pembuatan arang 3 : Tumpukan arang setelah dibongkar.

Saat ini jumlah kayu yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan arang relatif tersedia cukup banyak. Hanya saja memang kelanjutan produksi ini di masa depan harus disosialisasikan untuk tidak  menggunakan pohon yang masih produktif. Setelah biomassa yang melimpah dari sisa letusan habis maka arang kayu dapat dibuat dengan menggunakan cabang pohon kayu yang besar yang diperoleh dari pemangkasan secara selektif. Pohon ini juga diperoleh dari kawasan perkebunan atau di lingkungan tempat tinggal, bukan yang diperoleh dari kawasan hutan.

Dengan demikian usaha seperti ini dapat diperoleh dengan memanfaatkan bahan yang tersedia melimpah sebagai bahan tak termanfaatkan di lingkungan lokasi bekas bencana alam. Di sisi lain hal ini juga ikut membantu proses pembersihan kawasan untuk ditanam pohon-pohon baru.

Jika proses reboisasi dan pemulihan lahan sudah berlangsung maka para pembuat arang dapat diarahkan untuk ikut menjaga kelestarian dengan jalan penggunaan bahan biomassa yang mudah diperoleh seperti ranting dan dedaunan melalui jalan pembuatan briket arang. Proses yang ini relatif juga mudah diterapkan dan akan saya tulis pada kesempatan lain. Semoga bermanfaat.

Iqmal Tahir

2 responses »

  1. devi mengatakan:

    thanks infonya gan kunjungi web saya juga ya thaks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s