Pernahkah kita berpikir bahwa kendaraan bermotor di Indonesia juga berpotensi menghasilkan limbah buangan ? Hal ini hampir tidak pernah terpikirkan oleh kita. Coba kita tengok lagi bahwa setiap kendaraan bermotor menggunakan pelat nomor yang harus diganti selama selang waktu tertentu. Pelat nomor ini ternyata dapat menjadi suatu barang terbuang yang tidak dapat dimanfaatkan kembali oleh si pemilik kendaraan. Mestinya harus ada upaya untuk meminimalisir jumlah limbah pelat nomor kendaraan bermotor ini.

(CMIIW) Dan parahnya lagi, penggantian pelat nomor kendaraan yang harus dilakukan setiap periode tertentu ini hanya ada di Indonesia !!!

Di negara lain, umumnya pelat nomor kendaraan berlaku selamanya dan diganti kalau pecah atau mengalami kerusakan. Hal ini berbeda kalau di Indonesia dimana dulu pelat nomor hanya berlaku selama setahun. Dalam sepuluh tahun terakhir kebijakan ini berubah dengan peraturan bahwa pergantian dilakukan setiap lima tahun sekali mengikuti pergantian STNK.

Macam-macam pelat nomor dari berbagai negara.

Macam-macam pelat nomor dari berbagai negara.

Sebelumnya mungkin perlu diuraikan juga tentang pelat nomor kendaraan ini. Tentu saja keberadaan pelat nomor ini digunakan dalam rangka identifikasi kendaraan secara resmi. Kalau kendaraan itu sendiri sebenarnya sudah diidentifikasi menggunakan nomor rangka kendaraan dan nomor identifikasi mesin. Untuk keperluan kepemilikan dan penggunaan di jalan raya maka diperlukan identifikasi tambahan yang diberlakukan secara resmi di setiap negara. Dalam hal ini setiap negara memberlakukan nomor identifikasi ini. Sebagai contoh di Indonesia, urusan ini dilakukan oleh kepolisian lalu lintas.

Pelat nomor di Indonesia, dengan identitas masa berlaku.


Nomor kendaraan dituliskan menggunakan pelat dari plastik atau logam yang dipasangkan setiap saat pada kendaraan tersebut. Nomor identifikasi ini dilakukan dengan menggunakan kode kombinasi huruf dan angka yang unik untuk setiap kendaraan dan dikelola dalam suatu database yang berlaku untuk setiap negara. Pelat kendaraan ini umumnya diwajibkan bagi kendaraan bermotor. Pelat ini harus dipasang pada bagian depan dan belakang kendaraan. Dari jauh harus tampak identifikasi nomor yang tertera. Nomor kode yang diberlakukan di setiap negara akan berbeda tergantung dari domisili atau wilayah tempat kendaraan itu didaftarkan. Pada dasarnya pemberian nomor ini juga akan dibedakan berdasarkan tahun produksi kendaraan, tahun pendaftaran kendaraan, jenis dan model kendaraan, ukuran mesin dan jenis bahan bakar yang digunakan. Bahkan dalam perkembangan selanjutnya dibedakan kembali berdasarkan pemakainya dari kendaraan umum, kendaraan milik pemerintah / dinas, polisi atau militer, termasuk juga nomor khusus untuk kalangan diplomatik. Ada juga nomor yang digunakan untuk membedakan kendaraan pribadi dan kendaraan untuk transportasi umum.

Macam-macam pelat nomor kendaraan dari AS.

Penggunaan kendaraan bermotor di setiap negara selalu diatur dengan kebijakan tertentu. Selain pengenaan identifikasi kendaraan dengan nomor, pemilik kendaraan juga dikenakan kewajiban lain seperti penggunaan aksesoris pendukung keselamatan (spion , lampu, klakson, lampu isyarat belok, lampu rem, dan lain-lain), serta dikenakan pajak dan asuransi. Terkait dengan pembayaran pajak ini akan dikeluarkan surat bukti pembayaran pajak. Pada banyak negara dikeluarkan juga stiker tanda bukti pembayaran pajak ini untuk dilekatkan pada bagian kendaraan.

Hal yang berlaku di Indonesia agak berbeda dari negara lain, dimana polisi dan kantor dispenda akan menerbitkan surat bukti pembayaran pajak kendaraan bermotor, stiker yang berfungsi sama, dan masih ditambah identitas berlakunya batas ijin penggunaan kendaraan yang melekat pada pelat nomor kendaraan. Informasi nomor ini sekarang menyesuaikan dengan lama waktu surat tanda nomor kendaraan (STNK). STNK ini berlaku selama lima tahun dan sesudahnya dapat diperpanjang kembali. Informasi yang terpasang berupa angka yang merujuk bulan dan tahun saat berakhir STNK. Oleh karena itu setiap lima tahun sekali tentu saja akan ada pelat nomor yang terbuang sebagai limbah buangan.

Cara mengatasi hal ini yang terbaik adalah dengan menghilangkan informasi batas waktu pada pelat nomor. Dengan demikian pelat nomor akan berlaku selamanya, kecuali jika pelat nomor menjadi rusak atau patah. Informasi batas waktu STNK ini hanya tercantum pada lembaran STNK saja, sementara informasi pembayaran pajak dilakukan dengan menggunakan stiker saja.

Hal yang memprihatikan lagi adalah terungkap dari isi surat pembaca di harian lokal terbitan Yogyakarta, tentang adanya limbah pelat nomor kendaraan yang dibuat polisi justru karena tidak diambil oleh pemiliknya. Pergantian pelat ini sebenarnya ditanggung oleh pemilik kendaraan dengan pembayaran sejumlah biaya tertentu, namun dalam prakteknya pemilik tidak bisa langsung memperoleh pelat nomor tersebut. Mereka harus menunggu dua minggu atau sebulan lebih. Mungkin karena takut terkena rasia atau tidak sabar menunggu, mereka terkadang memesan pelat nomor dari tukang cetak yang memang bisa langsung ditunggu dan dibantu pemasangannya. Dengan demikian akan terjadi penumpukan jumlah pelat nomor yang tidak diambil dan hal ini akan menjadi limbah. Upaya mengatasi hal ini tentu saja adalah proses pelayanan pembuatan nomor secara cepat sehingga pemilik kendaraan dapat langsung mengambilnya. Atau jika memang langkah penghilangan identitas bulan dan tahun dari pelat nomor sudah dihilangkan maka hal ini juga sudah langsung teratasi.

Sebagai penutup maka dapat disampaikan himbauan agar pihak yang berwenang untuk cepat tanggap pada kebijakan masalah pelat nomor ini. Mungkin saja dengan adanya sistem pelat nomor yang seperti berlaku sekarang ini dapat memberi pendapatan tambahan bagi negara atau pihak kepolisian, namun dengan prinsip mengutamakan pelayanan pada rakyat, hal ini sedapat mungkin perlu diubah. Reformasi pelayanan oleh kepolisian perlu dilakukan. Pada sisi lain, akan ada manfaat tersembunyi dalam bidang pelestarian lingkungan karena jumlah limbah pelat akan berkurang.

Humor nomor unik yang tidak cocok dengan pengendaranya.

Soal pemanfaatan kembali limbah pelat nomor ini, saya kira konsep recycle atau daur ulang dapat diterapkan, khususnya untuk pelat yang terbuat dari aluminium atau logam. Dalam jumlah besar limbah pelat yang terkumpul akan diolah di pabrik untuk dilebur dan dijadikan lempengan bahan aluminium kembali.

Ternyata selain proses daur ulang oleh pabrik, ada pihak lain dengan memanfaatkan kreativitas mereka, dapat mengolah limbah pelat nomor kendaraan menjadi suatu barang seni. Bahan pelat nomor ini diolah dengan seni kikir maka akan dapat diubah menjadi benda seni yang bernilai tinggi. Pelat ini ternyata dapat dibuah menjadi vas bunga, tempat buah, replika mobil dan helikopter, tempat pensil dan lain-lain.

Namun tentu saja tidak semua pelat nomor yang menjadi limbah ini dapat diolah, mesti akan ada saja yang terbuang. Jadi lebih baik tindakan preventif lebih layak untuk dipertimbangkan.

Intermezzo :

  • Saat ini juga ada pembatasan pengguna lalu lintas di jalanan tertentu dengan pembatasan kendaraan dengan nomor kendaraan genap dan ganjil. Dalam prakteknya hal ini memancing oknum pemilik kendaraan untuk membuat pelat nomor palsu yang akan digunakan sehingga yang bersangkutan memiliki dua nomor yang satu asli dan yang satunya palsu.
  • Para penjahat jalanan juga ikut memberi kontribusi dalam hal penyumbang limbah pelat nomor kendaraan. Hal ini karena sering dalam menjalankan aksi mereka, kendaraan dipasang dengan pelat nomor palsu.
  • Limbah pelat nomor dapat dimanfaatkan untuk identitas nomor rumah.

Iqmal Tahir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s