Pada tulisan sebelumnya, saya menulis tentang kebiasaan rombongan bebek saat berbelok. Rombongan bebek ini ternyata diatur mengikuti perjalanan yang mematuhi aturan berlalu lintas, seperti contohnya saat berbelok harus menggunakan isyarat tanda berbelok.

Untuk diketahui jika bebek digembalakan maka akan berjalan dari satu petak sawah ke petak lainnya termasuk juga dari kandang ke lokasi persawahan dengan melewati jalan. Rombongan bebek ini dikendalikan oleh si penggembala dengan menggunakan tongkat panjang untuk mengatur laju dan arah jalan rombongan bebek.

Penggembala bebek inilah yang bertugas mengatur jalan dan arah rombongan. Tongkat panjang yang digunakan merupakan sarana efektif untuk mengendalikan perjalanan rombongan bebek ini. Jadi pada saat bebek dikumpulkan, disuruh berjalan atau berhenti, disuruh berbelok dan lain-lainnya, semua dapat dilakukan dengan perintah menggunakan tongkat panjang tersebut.

Mau belok kanan, tapi tongkatnya teracung ke kiri.

Mau belok kanan, tapi tongkatnya teracung ke kiri.

Satu hal yang unik adalah tanda untuk berbelok. Kalau orang atau pengguna jalan, saat berbelok ke arah kanan maka isyarat yang diacungkan adalah menunjuk arah kanan. Demikian juga kalau mau berbelok ke arah kiri, maka tangan yang diacungkan juga ke arah kiri. Pokoknya sesuai dengan arah yang akan dituju. Namun kalau untuk rombongan bebek akan berbelok, tanda yang diacungkan ternyata kebalikannya.

Untuk rombongan bebek ini jika akan berbelok ke kiri, maka tongkat panjang diacungkan tinggi-tinggi ke arah kanan. Kalau akan berbelok ke kanan, tongkat justru diacungkan ke arah kiri. Jadi terbalik kan ?

Ternyata hal ini adalah karena fungsi tongkat ini bukan sebagai isyarat melainkan untuk pengatur arah bagi bebek-bebek itu sendiri. Jadi kalau diacungkan tinggi-tinggi ke arah kanan, berarti bebek disetop ke arah kanan dan digiring ke arah kiri. Demikian juga sebaliknya. Kalau sudah seperti ini hendaknya para pengguna jalan lainnya yang maklum.

Kenyataan di jalan, saya malah sering menjumpai perilaku pengemudi yang bertingkah seperti bebek. Dalam artian cara berbelok yang membingungkan akibat pemberian tanda dan cara berkendara yang kurang tepat.

Satu contoh yang saya berikan adalah saat satu kendaraan akan berbelok ke kanan. Pengemudi kendaraan hendaknya memberi tanda akan berbelok ke kanan. Pada saat yang bersamaan mestinya pengemudi membawa kendaraannya melambat dan menepi di ruas jalan dengan menepi ke tengah, menunggu situasi lalu lintas dari arah berlawanan memungkinkan untuk berbelok. Posisi seperti ini memungkinkan para pengguna jalan di belakangnya untuk menyalip dari arah kiri sesuai dengan isyarat lampu tanda berbelok yang telah diberikan. Tetapi ternyata ada juga pengemudi yang sudah memberi isyarat lampu berbelok ke kanan, dia malah membawa kendaraannya menepi ke pinggir sebelah kiri. Hal ini jelas membingungkan para pengguna jalan yang berada di bagian belakangnya. Kebiasaan seperti ini mungkin terbawa saat berjalan di jalan perkampungan dan kemudian terbawa saat mengemudikan kendaraan di jalan besar.

Kalau saya menjumpai ulah pengemudi yang seperti ini, maka spontan selalu saya katakan ini mesti yang mengemudikan adalah penggembala bebek. Hehe…. Saya yakin kalau pembaca sekalian sih bukan termasuk anggota pengguna jalan tipe penggembala bebek kan ???

Awas, rombongan bebek mau belok.

Awas, rombongan bebek mau belok.

Iqmal Tahir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s