Bagi semua orang yang bergerak dalam bidang edukasi, rasanya cita-cita untuk menjadi seorang guru besar adalah hal yang selalu dipastikan. Memang terkadang melihat bekal persyaratan untuk meraih jabatan itu sangat berat, sehingga dari sisi waktu banyak orang yang lambat untuk meriah kesempatan tersebut. Guru besar sebanding jabatan tertinggi untuk profesi pengajar di perguruan tinggi dengan gelar khusus profesor. Jabatan ini cukup menggiurkan sebagai suatu prestasi tersendiri sekaligus sebagai prestise bagi yang bersangkutan. Demikian menggiurkannya bahkan bagi seorang peneliti non pengajar pun akhirnya tertarik untuk meraih gelar profesor ini sebagai “profesor peneliti”. Saya tidak tahu untuk kategori ini apakah juga termasuk sebagai seorang guru besar atau tidak.

Profil profesor.

Profil profesor.

Bagi seorang guru besar dituntut untuk memiliki prestasi ilmiah yang besar. Rasanya hal ini sebanding dengan tunjangan profesi yang diperolehnya. Seorang guru besar harus mampu menjadi pemimpin di lingkungannya serta dapat mengembangkan pengetahuan ilmunya guna kepentingan umum, di sisi lain dia harus bergerak menularkan dan mengajarkan ilmunya kepada para mahasiswanya. Tuntutan seperti inilah yang harus dikerjakan oleh para guru besar itu.

Melihat beban yang harus ditanggung dan persyaratan yang diperlukan untuk meraih jabatan guru besar itu, seharusnyalah hanya orang-orang tertentu yang dapat meraihnya. Kalau di Indonesia mungkin para dosen terpilih dengan prestasi yang berkilat dan publikasi yang melimpah yang dapat menjadikan mereka diangkat menjadi seorang guru besar. Namun soal ini di negeri jiran ternyata saya melihat banyak guru besar yang terlihat bersahaja. Mereka bahkan berasal dari kalangan guru sekolah, bahkan seorang guru sekolah dasar pun dapat menjadi seorang guru besar.

Guru sekolah di negeri ini lebih dikenal dengan sebutan cikgu. Ingat kan cerita Ipin Upin yang selalu memanggil cikgu untuk sebutan bapak dan ibu gurunya. Di sekolah selalu harus ada salah seorang guru yang diangkat untuk menjadi sebagai seorang kepala sekolah. Kepala sekolah di sini kemudian mendapat jabatan baru sebagai seorang guru besar. Jadi arti guru besar di sini adalah seorang kepala sekolah. Tentu saja jabatan guru besar yang ini bukan berarti menjadi seorang profesor, apalagi seorang profesor riset. Sebutan ini untuk membedakan seorang kepala sekolah dengan cikgu atau guru biasa.

Cikgu Ipin Upin pun boleh jadi profesor.

Cikgu Ipin Upin pun boleh jadi guru besar.

Omong-omong soal guru besar, sepertinya ada persyaratan khusus juga terkait dengan sebutan ini. Guru besar tentunya melekat pada seseorang yang memiliki tampilan khusus. Hal ini akan tampak dari kejauhan, sehingga jika seseorang melihatnya dari jauh maka akan langsung terlihat dengan sosok yang berukuran tubuh super maka yang bersangkutan itu adalah seorang guru besar. Syarat ini tentunya berupa bawaan fisik yakni tinggi badan di atas rata-rata dan badan yang besar. Jadi kalau yang ini adalah guru besar juga alias guru dengan badan yang besar. Wah orang kurus seperti saya, jelas langsung tidak memenuhi persyaratan ini.

Jangan ditanya soal saya lho ya…. Lha gimana bisa, wong kebanyakan nulis artikel cuma di blog !
Iqmal Tahir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s