Di Yogyakarta, kalau dalam acara layatan seseorang terkadang dijumpai satu tradisi tersendiri. Hal yang umum kepada para hadirin yang datang takziyah diberikan sekedar kue atau air minum dalam kemasan. Sering juga ada piring yang diedarkan berisikan permen. Namun ternyata ada hal lain lagi berupa dibagikan sapu tangan yang dilipat rapi.

Bagi beberapa umat Islam, memakan hidangan di tempat orang yang sedang berduka cita sering dihindari. Akan tetapi karena pihak keluarga yang meninggal itu tetap menyediakan dalam bentuk sajian yang dikemas dalam kotak, maka terpaksa harus diterima. Alternatifnya adalah mereka membawa pulang kotak kemasan itu untuk dibawa pulang. Saat dimakan di rumah pada intinya sebenarnya terkesan sama saja hanya berbeda lokasi saja. Cara yang paling baik adalah menolak dengan halus untuk tidak menerima kotak kemasan itu. Tetapi lebih lucu lagi saat di depan pintu sudah menolak, kemudian ada pihak keluarga yang melihat kita duduk tanpa memegang kotak kemasan, maka salah seorang dari yang bertugas akan mengantarkan kotak kemasan itu ke yang bersangkutan. Kalau sudah seperti ini ya mau bagaimana lagi.

Tulisan ini sebenarnya bukan mau mengungkap hal itu tapi tentang sapu tangan yang diberikan pada para pengunjung. Orang datang melayat memang tujuannya adalah ikut memberikan ungkapan belasungkawa atas kepergian jenasah untuk menghadap pada Allah kembali. Bagi kebanyakan orang, proses kematian memang diiringi dengan rasa duka yang mendalam. Tidak jarang orang akan menangisi kepergian jenasah untuk selama-lamanya. Tanda-tanda duka cita berupa suasana berkabung ini yang khas adalah suasana warna hitam dengan hiasan bunga kubur, bacaan ayat suci, dan beberapa perangkat lain.

Untuk menghibur pihak keluarga yang ditinggal tentu saja harus dilakukan dengan ucapan yang membesarkan hati. Air mata kesedihan harus dihapuskan dan salah satunya adalah dengan menggunakan sapu tangan ini. Peran sapu tangan inilah yang kemudian dimunculkan dalam satu tradisi di layatan ini.

Sapu tangan dan snack ringan untuk dibagikan pada para pelayat.

Sapu tangan dan snack ringan untuk dibagikan pada para pelayat.

Di dalam lipatan sapu tangan, terdapat uang koin.

Di dalam lipatan sapu tangan, terdapat uang koin.

Pihak keluarga menyiapkan banyak sapu tangan yang dilipat rapi. Di beberapa tempat daerah, sapu tangan ini terlipat dan di dalam lipatan itu ternyata disediakan uang koin. Sapu tangan ini kemudian dibagikan kepada para takziyah yang datang melawat. Dengan memegang sapu tangan tersebut mungkin dimaksudkan kalau para takziyah bersedih dan menangis maka dapat memanfaatkan sapu tangan itu untuk menghapus air mata yang keluar. Tetapi memang ini hanya berupa simbol saja. Lagi pula orang melayat tidak mungkin menangis keras-keras dan mengeluarkan air mata yang bercucuran. Kecuali itu memang dari pihak keluarga dekat atau seseorang yang sangat dekat dengan jenasah.

Pemanfaatan sapu tangan yang paling jelas adalah digunakan untuk membasuh air saat yang bersangkutan berwudlu. Bagi jenasah umat Islam, memang dianjurkan bagi para takziyah untuk datang melayat dan ikut mensholatkan almarhum. Seringkali pelayat datang langsung dari suatu tempat dan belum bersiap mengambil air wudlu. Untuk itu yang bersangkutan melaksanakan wudlu di tempat layatan. Selesai berwudlu inilah sapu tangan tersebut dapat digunakan.

Untuk soal uang koin ini dugaan saya mungkin sekedar berbagi. Tetapi masalahnya tradisi ayng berlaku adalah pihak keluarga juga membuka kotak sumbangan sekedarnya dari para hadirin. Kotak ini disediakan dalam bentuk kotak sumbangan tertutup atau dengan menggunakan baskom air yang ditutup taplak. Jadi dugaan saya uang sumbangan yang dimasukkan dalam lipatan sapu tangan itu hanya sekedar untuk menjaga agar sapu tangan tidak terbang tertiup angin saat ditata di meja.

Satu catatan khusus adalah soal kualitas sapu tangan ini. Memang upacara layatan adalah satu hal yang menjadi kejadian berkabung bagi keluarga yang ditinggalkan. Kadang kala mereka mengalami hal ini secara tiba-tiba. Untuk itu jelas tidak ada persiapan khusus akan hal ini. Dengan demikian persiapan pelaksanaan upacara layatan dan pemakaman menjadi terburu-buru dan serba tergesa. Persiapan dana untuk pelaksanaan hal ini juga sering menjadi masalah. Faktor kendala dana inilah yang menjadikan alasan bahwa penyiapan uba rampe tetap harus dilaksanakan namun kualitas uba rampe itulah yang menjadi kurang diutamakan. Termasuk dalam hal ini adalah kualitas sapu tangan yang disediakan bagi pengunjung adalah bukan kualitas yang relatif baik.

Bagi pengunjung menerima sapu tangan seperti ini mungkin tetap akan diterima untuk penghormatan bagi pihak keluarga ahli waris. Namun setelah di rumah, saya yakin yang bersangkutan tidak akan menggunakan sapu tangan sebagaimana fungsinya. Sapu tangan normalnya diletakkan dalam saku untuk mengelap muka atau tangan. Jadi mungkin fungsi dan keberadaan sapu tangan ini akan terabaikan.

Untuk menjaga agar sapu tangan tetap dapat dipakai oleh para penerima mestinya sapu tangan yang diberikan agar yang lebih representatif. Sapu tangan dipilihkan dari jenis sapu tangan yang baik, namun untuk itu tentu saja harga sapu tangan menjadi mahal. Kalau sudah seperti ini saya yakin penerima sapu tangan akan selalu menyimpan dan menggunakannya secara rutin. Mereka akan enggan untuk membuang sapu tangan yang baik seperti ini. Langkah seperti ini tentu saja bukan menjadi pilihan yang baik bagi keluarga ahli waris, kecuali memang mereka berasal dari keluarga yang sangat berada.

Sebenarnya ada alternatif lain untuk menjaga tradisi layatan ini dengan memberikan fasilitas serupa sapu tangan. Fungsi sapu tangan dapat digantikan dengan kertas tissue tangan. Saat ini di pasaran tersedia banyak produk kertas tisue yang dikemas untuk lima lembar atau sepuluh lembar. Rasanya produk kertas tisue seperti ini dapat dipertimbangkan untuk dipilih menggantikan sapu tangan di acara layatan itu.

Harga kertas tissue dalam kemasan kecil seperti ini jelas setara dengan harga sapu tangan dengan kualitas sekedarnya. Kertas tisue yang wangi dan halus ini relatif dapat diterima oleh para pelayat dan digunakan sebagaimana mestinya.

Saya juga pernah menulis soal pengunaan sapu tangan sebagai pengganti kertas tisue (baca di sini). Sekilas hal ini menjadi satu hal yang kontradiksi. Akan tetapi kalau dilihat lebih lanjut maka hal ini justru lebih ramah lingkungan. Sapu tangan yang kualitas rendah, mungkin cenderung tidak dimanfaatkan atau dibuang setelah diterima. Sapu tangan ini jelas juga menjadi bahan buangan dan menjadi sampah. Untuk kertas tissue apabila dibagikan kemungkinan besar tetap dapat dimanfaatkan oleh penerimanya. Jadi dalam pilihan-pilihan seperti ini maka pembagian kertas tisue jelas akan lebih bermanfaat.

Iqmal Tahir

One response »

  1. […] Ah saya penasaran, dan penasaran sayapun hilang ketika saya baca di sini […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s