Daya tarik wisata di Bali selain atraksi budaya yang sangat kental adalah panorama alam yang sangat cantik dan indah. Salah satu wisata alam yang sangat saya sukai adalah panorama sawah yang bertingkat dengan struktur terasering yang sangat cantik. Wisata alam seperti ini terdapat banyak di daerah Ubud dan Kintamani. Hamparan tanaman padi memberikan suguhan khas yang terlihat seperti lukisan di atas kanvas. Dominasi warna hijau terlihat saat mulai musim tanam padi dan kemudian akan berubah menjadi warna kuning keemasan saat padi mulai berbuah sampai menjelang panen. Pemandangan seperti ini bahkan sampai menjadi suguhan wisata yang sangat indah untuk dipertontonkan bagi para turis untuk dilihat dan diambil gambarnya.

Bagi saya yang tinggal di Yogyakarta dan berasal dari Purbalingga, sebenarnya pemandangan serupa juga dapat dinikmati di daerah sekitarnya. Lokasi paling cantik adalah di daerah Pringsurat Temanggung atau di daerah Bukateja-Klampok Banjarnegara.

Saya menulis kali ini lebih terkait dengan kondisi persawahan yang ada di daerah Banjarnegara ini, terutama karena soal keindahan yang mulai berkurang. Di sana-sini wajah persawahan yang terdapat di sana sudah mulai bopeng-bopeng. Sawah yang berada di sini sebenarnya cukup subur karena berada di lembah perbukitan sepanjang alur sungai Serayu. Terlebih setelah dibangun beberapa waduk seperti di Selomerto dan Mrican, sehingga pasokan air untuk perairan sawah terjamin melalui saluran irigasi yang tertata bagus. Dengan demikian petani dapat melakukan tanam padi minimal dua kali dalam semusim. Dengan kontour alam yang berlembah dan berbukit maka pemandangan sawah ini di beberapa tempat dapat menjadi cukup indah untuk dipandang.

Pemandangan sawah di pulau Bali.

Pemandangan sawah di pulau Bali.



Pemandangan sawah yang cantik.

Pemandangan sawah yang cantik.


Satu lokasi yang juga indah adalah areal persawahan dekat dengan Bukateja/Purwonegoro. Daerah ini serupa dengan yang saya ceritakan di atas. Namun ternyata saat ini pemandangan sawah ini mulai berubah. Di beberapa tempat tampak bangunan bedeng sederhana untuk pembuatan dan pembakaran batu bata. Produk batu bata ini diproduksi secara manual oleh beberapa orang di beberapa tempat. Produksi ini sebenarnya berlokasi di banyak tempat di daerah Banjarnegara, tetapi di daerah Klampok dan Bukateja ini relatif cukup banyak dan mengumpul di satu areal.

Bangunan ini berdiri di tengah sawah di tanah yang mereka miliki. Kemudian dengan menggunakan bambu untuk konstruksi serta daun tebu/kelapa untuk atap, mereka dapat membangun konstruksi sederhana untuk bangunan pembakaran batu bata. Batu bata dibuat di sekeliling bangunan untuk pencetakkan dan penjemuran sebelum akhirnya ditumpuk untuk dilakukan proses pembakaran. Bahan baku yang digunakan adalah tanah liat yang digali langsung dari lokasi serta abu sekam dan air sebagai perekat. Untuk bahan bakar proses pembakaran batu bata sampai diperoleh batu bata berwarna merah maka digunakan sekam padi. Sekam padi ini adalah kulit buah padi yang umumnya diperoleh dari pabrik penggilingan padi yang banyak tersebar di banyak tempat. Saat sedang berlangsung proses pembakaran maka tampak kepulan asap tebal membumbung keluar dari bangunan-bangunan pembakaran batu bata ini.

Pemandangan sawah yang berkurang keindahannya karena keberadaan tobong bata.

Pemandangan sawah yang berkurang keindahannya karena keberadaan tobong bata.


Rumah tobong bata di tepi sawah.

Rumah tobong bata di tepi sawah.


Dari sisi pemenuhan pasokan tanah liat inilah yang sebenarnya cukup mengganggu kelestarian lingkungan. Penggalian tanah liat dari lokasi sawah untuk mengambil tanah subur tentu saja akan menghasilkan galian di lokasi tersebut. Jika proses berlangsung terus menerus maka yang tersisa adalah lubang yang relatif dalam dan tertinggal di areal persawahan yang subur dan cantik tersebut. Tetapi memang kondisi itulah yang saat ini terjadi.

Dengan semakin terbatasnya lapangan pekerjaan, sementara bekal pengetahuan yang kurang maka pilihan untuk menjadi pengolah batu bata ini tetap menjadi satu alternatif. Pemerintah pun tidak bisa mengatur hal ini karena tidak bisa menyediakan lapangan kerja lainnya. Terlebih mereka melakukan penggalian tanah di wilayah mereka sendiri. Sementara pasar juga banyak memerlukan pasokan batu bata yang sangat banyak. Jadi memang usaha produktif pembuatan batu bata ini tidak mungkin untuk dihentikan karena menyangkut banyak orang.

Tumpukan bata siap dibakar.

Tumpukan bata siap dibakar.


Tumpukan batu bata di tobong bata.

Tumpukan batu bata di tobong bata.


Abu sekam sisa pembakaran batu bata.

Abu sekam sisa pembakaran batu bata.


Sebenarnya masih ada alternatif untuk pemenuhan pasokan tanah liat untuk keperluan produksi batu bata ini. Untuk diketahui persyaratan tanah liat bagi batu bata tidak setinggi kualitas tanah liat untuk keramik. Syarat yang penting adalah kadar silika yang tinggi dan tidak banyak mengandung kotoran organik. Dengan melihat syarat seperti ini maka sebenarnya para pembuat batu bata ini dapat mengalihkan pemenuhan tanah liat ini dari penggunaan tanah tanah di endapan sungai saat kemarau. Tanah ini merupakan hasil erosi yang terjadi di pegunungan dan kemudian terbawa air hujan. Saat kemarau tiba, endapan tanah ini muncul dan mengendap membentuk gundukan yang luas di beberapa wilayah sungai. Sebenarnya hal ini dapat mengganggu aliran sungai dan berakibat rawan banjir karena aliran sungai menjadi tidak lancar lagi. Kondisi endapan seperti inilah yang sebenarnya dapat dimanfaatkan para pembuat batu bata untuk digali dan dijadikan bahan baku pembuatan batu bata.
Lumpur sungai jika dibersihkan bisa untuk bahan baku batu bata.

Lumpur sungai jika dibersihkan bisa untuk bahan baku batu bata.


Dengan demikian endapan erosi yang berada di sungai ini dapat dimanfaatkan. Aliran sungai menjadi lancar kembali, sementara para pembuat batu bata pun tetap dapat melakukan pekerjaan produksinya. Hanya saja, memang akan muncul biaya produksi tambahan berupa transportasi pengambilan bahan baku dari sungai ke tempat produksi. Hanya kalau dipikir maka mereka dapat melakukan langkah bagus dengan memindahkan tempat produksinya ke lahan bukan sawah yang berada di tempat lain dan berdekatan dengan pengambilan tanah liat di sungai, sementara sawah yang tadinya untuk lahan pembuatan batu bata dapat dialihkan kembali untuk lahan pertanian.

Kalau masih kurang lagi maka tanah liat pun dapat dibuatkan dari lumpur Lapindo. Kawasan yang saat ini merupakan bencana bagi penduduk sekitar, maka bahan lumpur ini pun bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan batu bata.

Lumpur lapindo yang melimpah, potensial untuk bahan baku batu bata.

Lumpur lapindo yang melimpah, potensial untuk bahan baku batu bata.

Daripada areal sawah habis hanya untuk memenuhi kebutuhan perumahan warga perkotaan, maka kalau yang sedikit-sedikit seperti ini dikritik berarti saya kurang adil. Saya harusnya lebih kritik untuk menyuarakan lahan sawah yang mulai habis disedot para developer untuk dibangun komplek perumahan yang semakin menjamur. Ok lah hal ini saya tuliskan di lain kali.

5 responses »

  1. yeti2010@yahoo.co.kr mengatakan:

    Memang sumber tanahnya harus dicarikan dari tempat lain begitu ya pak ? Biar sawahnya tetap hijau dan produktif.

    • Iqmal mengatakan:

      Untuk bahan bangunan kan tidak harus bata merah, sekarang sudah banyak batako yang terbuat dari pasir dan semen, hanya saja memang biayanya lebih tinggi.

  2. nasih mengatakan:

    Salah satu kesulitan yang timbul jika memanfatkan sedimen sungai adalah tekstur bahan yang tidak seragam, hal ini berbeda dengan tanah sawah yang lebih homogen.

    • Iqmal mengatakan:

      Hehe… begitu ya pak…Tapi kan berarti tetap bisa dibuat hanya kualitas batu batanya jadi rendah ya… Atau untuk tanah pertanian saja keliahtannya kan malah kaya akan zat-zat nutrien….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s