Gara-gara lapar menunggu pesanan datang disajikan terlalu lama, maka sering pikiran mengembara kemana-mana dengan mengamati lingkungan sekitarnya saat itu. Salah satunya adalah hasil iseng memperhatikan cara makan seorang kawan belum lama ini.

Cara makan yang saya maksudkan di sini adalah dalam hal urutan menghabiskan isi piringnya. Sebenarnya setiap orang memiliki kebiasaan sendiri untuk menghabiskan isi piring yang akan dimakannya. Jadi tidak ada maksud untuk mempermalukan yang bersangkutan karena saya sendiri juga sering melakukannya tanpa saya sadari.

Cara makan yang ingin saya tuliskan sesuai judul di atas adalah cara makan yang mengikuti pola penabuh gong. Untuk diketahui seorang penabuh gong baru akan beraksi hampir di setiap akhir deretan nada pentatonis yang sedang dimainkan. Tidak mungkin penabuh gong membunyikan alat yang ditabuhnya di awal lagu atau di pertengahan baris nada. Jadi bunyi gong ini sebagai penutup baris nada yang dimainkan. Ibaratnya bunyi gong yang memiliki suara berat itu sebagai klimak untuk menutup sajian dalam baris nada itu. Demikian pula cara makan ala penabuh gong ini juga sama, memberikan aksi di bagian penutup saat waktu makan itu berlangsung.

Aksi penabuh gong untuk tutup baris nada....

Aksi penabuh gong untuk tutup baris nada....



Sebagai penutup saat makanan mau habis itu tentu saja bukan sembarang jenis isi piring yang ada. Tentu saja harus berbeda dan merupakan sesuatu yang utama dibandingkan isi lauk yang lainnya. Seperti halnya bunyi gong yang terasa berbeda dan berat dibandingkan suara alat musik lainnya yang ditabuh, maka jenis makanan yang disantap di bagian akhir ini merupakan lauk utama yang dimilikinya saat itu.

Seperti contoh cara makan ala penabuh gong ini ternyata sering saya alami sendiri dan juga saya jumpai pada beberapa teman makan saya. Kalau pada pengalaman saya adalah saat makan dengan nasi lauk kepala ayam baik dengan ayam goreng (favorit saya Ayam Goreng Bu Tini Yogyakarta) atau ayam dimasak gudheg Yogya (favorit saya Gudheg Bu Sri Yogyakarta). Kalau makan dengan lauk ini SOP-nya adalah makan dimulai dari kulit leher kemudian diikuti makan bagian leher tersebut, selanjutnya adalah leher dan baru bagian otaknya. Tentu saja makan otak ini dilakukan pada saat terakhir kali sebagai ritual gong-nya. Jadi setelah nasi terakhir habis, maka barulah otak ini dimakan sebagai acara pamungkas terakhir kalinya. Cara makan serupa jika kebagian lauk ayam bagian gendhing yang sambung ke brutu (ekor ayam). Bagian brutu inilah yang dijadikan sebagai gong penutup makanan.

Kalau yang soal makan bakso ini sering dilakukan kawan saya sejak kuliah sampai sekarang jadi dosen di almamater yang sama. Cara makan bakso yang dilakukan adalah dengan urutan mi, tahu atau pangsit sambil menghabiskan kuah bakso yang ada. Lha makan bulatan baksonya kapan ? Ya itu untuk dijadikan gong di akhir makan jika semua yang lain sudah habis. Kalau baksonya sama ukuran dan jenisnya yang dijadikan gong dengan dimakan satu per satu. Jika ada bakso urat, maka yang dihabiskan adalah bakso halus terlebih dahulu baru bakso uratnya yang dijadikan gong. Jika makan bakso tenis atau bakso yang berukuran lebih besar, maka bakso yang besar inilah yang dijadikan gong. Pokoknya mantap sekali kalau sedang makan bakso bersama kawan satu ini.

Namanya Mie Bandung nih... Udang merah itulah yang dijadikan gong-nya....

Namanya Mie Bandung nih... Udang merah itulah yang dijadikan gong-nya....

Udang dimakan terakhir sebagai gong penutup.

Udang dimakan terakhir sebagai gong penutup.


Cerita yang sama ternyata berulang saat makan saya dari negeri jiran ini. Jika makan siang bersama dengan menu mie kuah atau di sini terkenal dengan sebutan mie bandung (hehe…. padahal saya yakin di Bandung sendiri tidak dikenal sebutan makanan mi bandung), acara makan ala menabuh gong terjadi lagi. Mi yang direbus dengan kuah kental ini disajikan dengan sayuran dan irisan daging sapi, serta diberi dua atau tiga ekor udang. Kalau saya makan menu lauk ini, pokoknya semua yang terlihat dekat sendok itulah yang diambil dan terus dimakan. Tetapi untuk kawan saya ini melakukan dengan cara penabuh gong tadi. Udang yang terdapat di dalamnya akan disisihkan terlebih dahulu untuk kemudian dijadikan santapan terakhir saat semua isi mangkoknya habis. Barulah saat itu udang yang merah padam (mungkin berwarna merah karena kesal menunggu tidak dimakan-makan juga, hehe….) itu baru dinikmati dengan lahapnya.

Tentu saja sah-sah saja orang untuk menikmati makan mereka dengan cara apapun. Saya menuliskan ini juga iseng saja, daripada tidak punya ide untuk menulis. Satu cara makan yang tidak diperbolehkan adalah asyik makan bakso sambil mengambili bulatan bakso dari mangkok sebelah atau makan sepuas-puasnya ambil kerupuk tujuh biji bilangnya hanya dua. Terakhir cara makan yang paling parah dan sama sekali tidak dianjurkan adalah makan di warung kemudian terus langsung lari secepat-cepatnya tidak bayar, walaupun anda seorang atlet sprinter.

Ning nong ning gong,
Lunga mbengi akeh garong….
Lambe-ne jebul monyong….
ning nong ning nong ning goooong….
Tuku sate nganggo lonthong…..
Batuk-e rada cunong….
ning nong ning nong ning goooong….

2 responses »

  1. yeti2010@yahoo.co.kr mengatakan:

    haha… very funny….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s