Sebenarnya ini berita lama dan banyak terjadi di beberapa tempat, namun menarik lagi kalau ditulis dalam bentuk lain. Hal yang penting adalah menjadikan kesadaran kita untuk selalu waspada akan ancaman keracunan yang tidak kita sadari.

Saat ini banyak orang yang memelihara dan melakukan upaya penggemukan sapi di areal Tempat Pembuangan Akhir (TPA) beberapa kota di pulau Jawa. Tercatat yang cukup besar ditemukan adalah  kasus penggembalaan di TPA Mojosongo Solo dan TPA Jatibarang Semarang Jawa Tengah. Di TPA Semarang terdapat ribuan sapi yang tumbuh kembang di lokasi TPA tersebut dan sudah berlangsung lama dengan memakan apa saja yang mereka temukan. Jadi setiap truk sampah datang untuk menurunkan sampah, maka akan langsung dikerumuni oleh sapi dan pemulung.

Kondisi seperti ini telah berlangsung beberapa waktu. Sikap pemerintah setempat pun sepertinya membiarkan fenomena yang dianggap tak lazim tersebut. Sangat besar peluang sapi-sapi tersebut untuk terkontaminasi zat-zat berbahaya. Bahkan dikhawatirkan akan mempengaruhi daging sapi yang ujung-ujungnya berbahaya bagi manusia jika dikonsumsi.

Kegiatan penggembalaan sapi di TPA seperti ini sebenarnya hendaklah dihindari karena banyak dampat negatif yang  akan dihasilkan. Selain membahayakan sapi terkait terkena penyakit sapi, juga akan menimbulkan risiko bahaya sendiri bagi manusia jika daging sapi-sapi itu dikonsumsi. Beberapa penyakit pada sapi atau bahkan berujung pada kematian sapi telah dijumpai pada beberapa kasus sapi yang dibiarkan hidup di TPA.  Penelitian terhadap hewan ternak sapi, yang digembalakan di TPA sudah dilakukan TPA Mojosongo. Para sapi yang digembalakan di lokasi itu terindikasi terkena pencemaran logam timbal (Pb) dan sangat berbahaya bagi kesehatan sapi dan manusia yang mengkonsumsi daging sapi tercemar.

Sapi di TPA (gambar dari detik.com)

Sapi di TPA

Sapi di TPA (gambar dari detik.com)

Sapi di TPA

Pihak Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) pun menegaskan, apapun alasannya, dengan menggembala sapi di areal TPA merupakan tindakan yang menyalahi ketentuan. Meskipun sapi memiliki manfaat dengan kemampuan mengurai sampah organik di TPA, namun akan tetap berbahaya jika dibiarkan. Meskipun sapi dapat memenuhi pasokan makan dan terjadi efek penggemukan, namun dampak negatifnya lebih banyak dari positifnya. Sapi sangat boleh jadi akan ikut terkontaminasi pestisida atau B3 (bahan berbahaya dan beracun) lain. Dengan demikian hal ini beraakibat hasil daging sapi yang tak berkualitas.

Penggemukan sapi di TPA sebenarnya mungkin saja dilakukan dengan menggunakan bahan sampah sebagai pakan sapi. Namun terntunya harus ada upaya sortir selektif dari tingkat hulu, misalkan hanya sampah yang berasal dari pasar ataupun rumah makan. Itupun sudah terpisahkan khusus hanya jenis sampah organik saja.

Sampah yang diangkut ke TPA biasanya dibawa dari TPS-TPS yang berada di berbagai tempat. TPS ini menampung sampah dari lingkungan rumah tangga, pasar dan kawasan hunian lain. Sampah jenis ini umumnya bercampur baur satu jenis dengan jenis yang lain. Sampah rumah tangga berupa sampah dapur umumnya masih mendominasi persentase jenis sampah ayng terbuang. Jenis sampah inilah yang akan dimakan sapi. Namun demikian sampah ini masih bercampur dengan jenis sampah lain. Boleh jadi sampah kering akan diambil oleh para pemulung. Akan tetapi dalam prakteknya percampuran berbagai jenis sampah akan mengakibatkan penyebaran berbagai jenis B3 yang banyak terjadi dalam sampah. Banyak sampah yang dibuang masyarakat begitu saja meliputi obat-obatan kedaluwarsa, bekas insektisida, batere, plastik dari banyak jenis, styrofoam, dan lain sebagainya. Sampah jenis ini relatif mengandung banyak B3 dan tentunya walaupun tidak dimakan oleh sapi namun proses kontaminasi tetap sangat tinggi.

Sapi di TPA (gambar dari detik.com)

Sapi di TPA

Sapi di TPA (gambar dari detik.com)

Sapi di TPA

Sapi di TPA (gambar dari detik.com)

Sapi di TPA

Jadi kalau melihat kondisi TPA saat ini yang merupakan tempat penimbunan sampah dari berbagai sumber tanpa ada pemisahan, maka secara umum lokasi TPA bukan tempat yang memadai untuk penggemukan sapi.  Sampah di TPA dibiarkan saja untuk terjadi proses degradasi sesuai konsep tujuan pembangunan TPA itu sendiri.

Jenis sapi di tanah air yang digembalakan bebas itu banyak dipelihara untuk diambil dagingnya. Jika sapi itu sendiri sudah terkontaminasi maka B3 yang ada pun akan ikut terbawa dalam rantai makanan sehingga akan ikut mengkontaminasi konsumen pemakan daging sapi. Hal seperti inilah yang seharusnya diperhatikan dan kemudian dihindari dari awal.

2 responses »

  1. bmertani mengatakan:

    Tulisan bagus dan bermanfaat !

    • Iqmal mengatakan:

      terima kasih pak sudah berkunjung… sekarang kalau pas harga daging sapi sedang tinggi, ya sapi-sapi yang dipelihara di tpa pun ikut untung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s