Di Kangar Malaysia sini ada penjual sate macam di tanah air. Di sini penjual sate menawarkan sate ayam dan sate sapi atau lebih dikenal dengan sebutan sate daging. Jangan harap menemukan sate kambing. Saya yang termasuk penggemar makanan dari daging kambing termasuk sate kambing ini kadang merasakan kehilangan dengan makanan satu ini.

Sate yang dijual di Kangar sini selalu ditawarkan dua jenis daging tadi. Penjual memiliki tempat pembakaran dengan menggunakan kipas yang terbuat dari daun pohon palem lokal/ daun siwalan. Sate dibakar dalam tungku dengan arang kayu sebagai bahan bakarnya. Untuk dapat terbakar baik, penjual sering melumasi bagian sate yang sedang dibakar ini dengan minyak masak.

Sate biasa disajikan dalam wadah ditambah bumbu kacang yang sangat berminyak. Kalau bagi saya bumbu kacang ini kadang terasa kurang mantap, yang jelas rasa pedasnya tidak terlalu terasa. Selain bumbu, hidangan sate masih ditambah dengan irisan ketimun dan kadang ada juga penjual yang menambahkan irisan bawang merah mentah. Sebagai pelengkap tentunya ketupat, tetapi di sini dijual dengan sebutan nasi impit yakni ketupat yang dibungkus dengan plastik.

Harga sate yang ditawarkan umumnya adalah 40 sen atau sekitar 1200 rupiah per tusuknya. Harga untuk sate ayam atau sate daging sama saja. Dalam satu tusuk terdapat lima potongan daging yang dibakar merata. Orang biasanya membeli 10 tusuk untuk sekali makan ditambah dengan nasi impit sesuai selera.

Sate ayam siap makan.

Sate ayam siap makan.

Di satu tempat ternyata ada juga penjual sate yang memproklamirkan dengan sebutan penjual sate ekonomis. Sate ini dijual hanya dengan 20 sen per tusuknya meliputi sate ayam dan sate daging juga. Isi potongan daging dalam tiap tusuknya tentu saja lebih sedikit. Ukuran potongan daging lebih kecil dan jumlah potongan hanya empat bagian saja per tusuk. Jadi memang ukuran ekonomis karena harganya juga lebih murah.

Daging ditusuk dengan menggunakan bilah bambu yang dijual jadi buatan pabrik. Hal ini karena umumnya bentuknya seragam dan dipotong rapi. Kalau untuk sate biasa, maka penggunaan bilah bambu untuk tusukan ini tidak masalah, akan tetapi untuk sate ekonomis terlihat sangat mubazir. Jumlah daging yang berada dalam tusukan sate relatif tidak seimbang dengan ukuran bambu yang digunakan.

Kalau saya satu tusuk sate ekonomis ini bisa untuk sekali masuk ke mulut. Memang ukuran potongan dagingnya kecil-kecil jadi sekali gigit semua potongan daging bisa habis tertelan di mulut. Sekali beli biasanya 15 tusuk dengan harga 3 ringgit. Jadi kalau dipikir-pikir kalau beli sate ekonomis ini jumlah batangan bambu untuk tusuk sate jauh lebih banyak padahal daging yang dimakan lebih sedikit. Kadang melihat tusukan bambu ini merasa sayang juga, tetapi juga namanya budaya orang yang berbeda. Mungkin biaya pengadaan batang bambu ini bisa dialihkan untuk menambahkan daging dalam setiap tusuknya.

Pokoknya tidak ekonomis lah sate ekonomis ini. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya…..

Tusuk sate dari bambu.

Tusuk sate dari bambu.

Membakar sate.

Membakar sate.

One response »

  1. […] menulis soal sate ekonomis yang tidak ekonomis akibat penggunaan tusuk sate yang dirasa mubazir (Baca tulisan ini) maka terpikir untuk menulis artikel yang satu ini. Kira-kira akan ada lomba kesadaran akan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s