Gara-gara menulis soal sate ekonomis yang tidak ekonomis akibat penggunaan tusuk sate yang dirasa mubazir (Baca tulisan ini) maka terpikir untuk menulis artikel yang satu ini. Kira-kira akan ada lomba kesadaran akan kepedulian pada lingkungan dari para penjual sate.

Penjual sate dari berbagai daerah masing-masing diundang untuk menunjukkan bagaimana peran mereka untuk ikut peduli lingkungan dalam kaitannya dengan profesi mereka sebagai penjual sate. Sebagaimana diketahui sate adalah makanan yang terbuat dari daging dan dipanggang umumnya dengan bumbu kacang atau bumbu pedas. Sate biasanya menggunakan beberapa jenis daging hewan yang dipotong kecil-kecil. Sate yang paling popular adalah jenis sate ayam dan satu kambing, namun ada juga jenis daging lain yang digunakan untuk bahan sate seperti sate sapi, sate kuda atau sate kelinci.

Pada ajang lomba kepedulian lingkungan ini kemudian masing-masing nominasi penjual sate menunjukkan peran mereka masing-masing. Hal ini terutama dari sisi jumlah sampah yang dihasilkan selama beraktivitas dalam berjualan sate. Para nominasi ini terpilih dari hasil survey awal soal teknik penjualan sate yang selama ini dilakukan dari sisi upaya 3R (reduce, reuse dan recycle) di masing-masing tempat usahanya. Kebanyakan tempat sate yang gagal adalah karena selalu menggunakan tusuk sate yang kemudian setelah selesai digunakan akan dibuang menjadi sampah serta penggunaan tusuk sate yang terbuat dari batang bambu.

Peserta pertama :

Penjual sate dari daerah Kuncen Yogyakarta yang melayani penjualan sate kambing. Ibu penjual sate ini bercerita kalau dia memang menggunakan tusuk sate dari batang bambu. Daging kambing ditusuki dengan sate dan dibakar seperti biasa, namun saat disajikan daging yang telah matang dilepasi dari tusuk sate. Kemudian tusuk sate ini masih dapat digunakan selama beberapa kali asal masih cukup kuat dan belum terbakar.

Sate kambing muda.

Sate kambing muda.


Peserta kedua :

Penjual sate ayam dari daerah Ambal Kebumen ini bersemangat dengan logat ngapak-ngapaknya. Mereka membuat sate dengan tusuk yang terbuat dari lidi daun kelapa. Diceritakan dengan bersemangat kalau sate ini bersifat sekali pakai jadi setelah itu dapat dibuang. Namun diberikan argumentasi kalau lidi diperoleh dari pohon kelapa yang banyak terdapat di sekitar rumah mereka, jadi tidak perlu beli. Sampah lidi ini juga dapat diolah atau terbakar sehingga tidak menimbulkan polusi.

Sate Ambal dnegan tusuk dari lidi kelapa.

Sate Ambal dnegan tusuk dari lidi kelapa.

Peserta ketiga :

Peserta ketiga ini adalah penjual sate klathak dari jalan Imogiri, Yogyakarta. Mereka berjualan sate kambing dengan menggunakan tusuk sate dari ruji roda sepeda. Bahan ini terbuat dari kawat besi yang dipertajam di bagian ujungnya persis tusuk sate biasa. Saat penyiapan sate, daging ditusuk dengan ruji ini kemudian dibakar di atas tungku pembakaran. Dalam penggunaannya tusuk sate ini jelas dapat digunakan ulang lebih lama lagi karena awet dan tidak mudah rusak. Bahan ruji roda dari stainless sehingga dijamin dari aspek hieginitasnya.

Sate klathak dengan tusuk dari ruji sepeda.

Sate klathak dengan tusuk dari ruji sepeda.

Peserta keempat:

Finalis lomba ini yang terakhir adalah penjual sate kambing yang membuka warung di Kronggahan, Sleman. Dia mengatakan bahwa selama berjualan sate dia tidak pernah menghasilkan sampah tusuk sate apapun sampai sekian lama. Ternyata yang bersangkutan adalah penjual sate goreng, yakni jenis sate yang bukan dibakar tapi dimasak dengan bumbu terik. Jadi memang tidak menggunakan tusuk sate apapun.

Sate goreng tidak perlu tusuk sate.

Sate goreng tidak perlu tusuk sate.

Setelah keempat finalis selesai menyampaikan uraian masing-masing para juri berdiskusi untuk menyatukan nilai dan menetapkan pemenangnya. Tetapi setelah sekian lama para juri ini masih belum bisa menentukan pemenangnya. Mereka ternyata saat itu sudah sangat kelaparan akibat mendengar promosi keenakan masing-masing penjual sate itu sehingga belum sempat menentukan pemenangnya sudah pulang duluan.

Nah mungkin kita bisa minta tolong kepada para pembaca sekalian. Kalau pembaca diminta jadi juri dari lomba antar penjual sate tadi, kira-kira pemenangnya siapa ya ? Tulis jawabannya di bagian kolom komentar ini ya…. Terimakasih.

Iklan

3 responses »

  1. Kapten Piccard berkata:

    Sedikit komentar,
    Sekali waktu mampir ke Surabaya … disini ada sate “Laler” / Lalat tapi bukan lalat beneran tapi sate daging spt yg di Malaysia (sate ekonomis) dan ada juga sate “Klopo” / Kelapa (bukan kelapa yang disate tapi daging.

    Patut dicoba

    Kalau saya pasti yang menang “Sate Klopo”

  2. adit berkata:

    kalo nyang kering 15000/kg gi mana kalo saya yng beli sama situ malah bisa saya naikin harga nya jd 18000/kg gi mana setujuh ga?

    kalo setujuh ni no hp saya 0219420 2765

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s