Tulisan ini berawal dari postingan di forum kompas yang mengklaim kalau pada produk nata de coco itu mengandung bahan ZA atau pupuk urea. Memang sih sudah ada tulisan di Kompasiana yang sudah membantah kebenaran informasi itu. Bagi yang tahu proses pembuatan nata pasti akan menganggap postingan tersebut berupa informasi sampah alias hoax.

Pada tulisan saya ini mungkin hanya bermaksud menambahkan upaya pelurusan informasi sesat yang menyatakan ada urea dalam nata de coco. Tentu saja nata de coco adalah produk makanan yang pastinya menyehatkan karena kaya akan fiber / serat sehingga membantu proses pencernaan. Jangan sampai dengan adanya hoax di atas maka masyarakat menurun minatnya untuk makan nata de coco. Terlebih usaha produksi nata de coco ini juga dapat menciptakan banyak kewirausahaan baru. Usaha seperti ini jangan sampai mati hanya karena hoax yang kemudian dipercaya kebenarannya.

Produk nata siap dikonsumsi.

Produk nata siap dikonsumsi.


Mungkin pembaca dapat memahami kebenaran ini kalau membaca informasi proses pembuatan nata. Proses pembuatan ini secara umum adalah diuraikan pada bagian berikut .

Bahan utama pembuatan nata adalah bahan-bahan yang kaya akan gula atau nutrien seperti air kelapa, air limbah tahu, air nira, air perasan buah-buahan dan lain-lain. Catatan adalah dari semua bahan ini akan dihasilkan nata dengan sifat yang relatif sama, hanya penamaannya yang berbeda-beda, seperti nata de coco, nata de soya, nata de pina dan lain-lain.

Bahan–bahan lain yang digunakan adalah starter nata, gula, urea, air bersih dan asam asetat (asam cuka).  Pada prinsipnya bakteri memerlukan makanan atau nutrien untuk pertumbuhannya, yakni meliputi unsur karbon  dan nitrogen. Unsur karbon dapat dipenuhi dari bahan gula. Unsur nitrogen diperoleh dari urea. Jadi urea ditambahkan sebagai salah satu pemasok nutrien guna pertumbuhan dan perkembangbiakan nata.

Urea untuk pemenuhan kebutuhan nitrogen mungkin bisa diganti dari sumber lain, seperti protein. Akan tetapi harganya jauh lebih mahal. Kebutuhan protein dapat dipenuhi dari penggunaan air rebusan kecambah kacang hijau atau limbah proses pembuatan tahu.

Selain itu ditambahkan juga asam cuka untuk memberi suasana asam atau menciptakan kondisi pH rendah sekitar 4-5 yang merupakan kondisi optimum pertumbuhan bakteri tersebut.  Jika tidak ditambahkan asam asetat, maka pH larutan masih bersifat mendekati netral yang akan menyebabkan pertumbuhan bakteri akan sangat lambat, konsekuensinya produksi nata akan lambat juga, bahkan mungkin tidak terjadi.

Untuk membuat nata dibutuhkan peralatan sebagai berikut timbangan, gelas, kompor, kertas koran, kain flannel / saringan, pengaduk dan wadah/baki untuk pembiakan.

Pembuatannya cukup mudah mulai terdiri dari penyiapan air kelapa dengan jalan disaring. Hasilnya ini kemudian ditambahkan gula pasir dan urea (dengan takaran masing-masing 30 g dan 4 g per liter) dan diaduk hingga larut. Bahan direbus dipanaskan dan dibiarkan pada kondisi mendidih selama 15-30 menit untuk tujuan sterilisasi media. Busa dan kotoran yang timbul selama pendidihan dibersihkan. Ke dalam larutan media ini ditambahkan asam asetat glasial dengan perbandingan 10 mL per liter air hasil blenderan, diaduk hingga merata lalu diangkat dari tungku / kompor dan dibiarkan dingin dalam kondisi tertutup. Setelah dingin, ditambahkan starter nata dan diaduk kembali. Selanjutnya cairan media fermentasi ini dituang ke dalam wadah/baki. Kemudian baki tersebut ditutup dengan kertas koran yang bersih, lalu diikat dengan tali karet / rafia. Proses inkubasi dilakukan kira-kira selama 2 minggu. Baki dibiarkan pada ruang kamar dan jangan sampai terkena panas matahari secara langsung. Produk nata yang dapat dipanen setelah mencapai ketebalan 1-2 cm.

Lembaran nata yang ada di permukaan diambil dan dilakukan pencucian berulang kali dengan air mengalir sampai nata tidak berbau asam.  Proses pencucian seperti ini menjamin produk nata bersih dan tidak membawa campuran media pertumbuhannya. Setelah itu nata dipotong-potong dan dimasak dengan air gula. Nata inilah yang siap dikonsumsi dan diperjualbelikan. Jadi pada dasarnya produk nata ini sudah aman untuk dikonsumsi.

Lembaran nata yang sudah dibersihkan dari media dan dijamin bebas urea.

Lembaran nata yang sudah dibersihkan dari media dan dijamin bebas urea.


Proses pencucian nata.

Proses pencucian nata.


Penggunaan urea pada media tumbuh bakteri nata dari sisi safety pada dasarnya tidak masalah. Dosis yang digunakan pun relatif sangat kecil, jauh lebih banyak dosis asam cuka yang digunakan. Perlu diingat bahwa yang nantinya dikonsumsi adalah nata yang merupakan produk metabolisme pertumbuhan bakteri, bukan media pertumbuhan natanya.  Juga dalam proses akhirnya, nata itu dicuci sampai bersih dari media pertumbuhan. Ciri nata yang sudah bersih dan aman dikonsumsi adalah sudah tidak asam lagi.

Sebagai penutup sekali lagi saya menegaskan bahwa meskipun dalam pembuatan nata menggunakan urea, namun produk nata de coco dipastikan aman untuk dikonsumsi. Urea tersebut sudah habis dimakan bakteri untuk menghasilkan nata itu.

Terakhir saya memberi permisalan dengan beras yang kita makan. Beras ini diperoleh dari tanaman padi yang tumbuh subur setelah diberi pupuk urea oleh petani padi. Kita bukan makan tanaman padi ataupun air lumpur yang menggenangi sawah itu. Jadi kita merasa yakin beras kita aman dari urea. Demikian pula pada kasus nata ini, kita makan produk natanya bukan makan air media pertumbuhan bakterinya.

Semoga bermanfaat.

Iklan

27 responses »

  1. Romerro Munthe Carro berkata:

    like…. biar orang orang tau.. klo bahan yg di gunakan sudah tidak berbahaya lagi…. karena setelah di panen (lembaran) kemudian di potong2, kmudian di rendam dalam air bersih selama min 12 jam, kmudian di rebus 2x, dan i rendam lagi dalam air bersih slama min 12 jam… stlh itu di rebus dengan air gula/sirup.. baru lah layak untuk di konsumsi.. jadi bahayanya dimana?? bahkan saya sebagai pengusaha nata pernah salah ambil… ZA saya kira gula, saya me masukkan2 sdm ZA kedalam air teh,, stlh dingin saya minum, saya baru sadar stlh 1/4 gelas masuk ke tenggorokan… mau di muntahkan sudah tdk berhasil…. untuk mengantisipasi keracunan saya minum 1 gelas air putih.. dan tidak terjadi apa2.. hanya sdikit mual dan tidak muntah… saya rasa itu terjadi hanya krna tersugesti bahwa saya telah minum zat yg beracun… tapi fine2 aja tuh….

    • Iqmal berkata:

      pupuk ZA atau urea pada dasarnya bukan bahan makanan atau bahan yang dapat masuk ke dalam tubuh… bahan ini berguna sebagai nutrisi untuk tumbuhan atau mikroorganisme yang memerlukan komponen nitrogen…
      kalau memang terjadi kasus masuk ke dalam sistem pencernaan hendaknya dimuntahkan kembali atau segera minum air banyak-banyak…
      terkait dengan nata de coco, seperti dijelaskan kalau sudah lewat tahap pencucian maka dijamin tidak ada kontaminasi urea dalam produk nata yang dikonsumsi.

  2. Iik berkata:

    bagiammana jka komposisi ZA melebihi dosis, apakah terdapat residu>

    • Iqmal berkata:

      ZA atau urea yang digunakan dengan jumlah berlebihan dalam media pertumbuhan bakteri nata akan memperkaya kandungan nutrien sehingga mungkin dapat mempercepat produksi lapisan nata, namun tentunya hal ini akan dapat memperbesar biaya produksi. Dari sisi residu di produk nata, tentunya tidak ada sepanjang lapisan nata yang dipanen kemudian dilakukan proses pencucian, perendaman dan perebusan dengan air sampai tidak menyisakan sisa-sisa larutan media, biasanya ditandai dengan bau asam. Jadi aman-aman saja.

  3. alfi berkata:

    bisa ngak ya saya pesen stater nata soalnya saya ingin buka usaha nata dan tdk tahu alamat penjual stater nata?

  4. wisma budiana berkata:

    bahasan tentang lebih jaung donk tentang bahan pembuatan nata terutama bhan urea dan cuka,, saya ingin tau lebih jauh sebelum saya menjawab pertanyaan dari guru seminr saya soalnya saya mengambil praktek pembuatan dan pemasaran minuman nata de coco
    tolong ya….

  5. mas, boleh tanya, apa ada bahan yang bisa menggantikan urea dan asam cuka itu?

    • Iqmal berkata:

      Sumber nitrogen untuk keperluan bakteri nata, dapat disupply dari sari kecambah, tapi biasanya kurang mencukupi.
      Untuk membuat suasana asam, dapat dilakukan secara alami, karena pertumbuhan akan mengakibatkan media juga berubah asam, tapi akan sangat lambat. Tetap sebaiknya ditambahkan asam ke media, dan yang paling aman dan murah adalah asam cuka ini. Dapat menggunakan asam dari hasil fermentasi legen (nira kelapa) tapi itu pun secara kimia juga sama saja asam cuka.

  6. saya juga sempat salah paham juga mas, setelah saya membaca posting ini saya mengerti, minta penjelasannya tentang bahan air mira dan starter nata, solnya sya nda mengerti mas,

    • Iqmal berkata:

      Air nira yang sekarang digunakan sebagai bahan pembuatan gula kelapa, sebenarnya dapat secara alami terfermentasi salah satu produk fermentasinya adalah asam cuka atau asam asetat. Secara kimia kalau asam cuka ini dipisahkan dan dimurnikan tentunya sama dengan asam cuka yang tersedia di pasaran hasil sintetis. Asam cuka hasil fermentasi ini dapat digunakan juga untuk membuat suasana asam pada media pertumbuhan nata. Yang penting jangan lupa ikut pada proses sterilisasi juga.

  7. digdo purnama berkata:

    maaf ikut komen, menambahi jwban diatas air mira atau air kelapa tua yg sudah terfermentasi (berbau seperti legen atau air tape) masih hrs ditambah asam asetat untuk memperoleh ph yg tepat untuk pertumbuhan nata, kadar gula dan za juga hrs mencukupi, kalau kurang mungkin tdk terbentuk atu nata yg terbentuk kurang baik. info starter bisa dilihat diweb. ini. dzikx.blogspot.com atau fb. nata de coco madiun. tks. maaf skalian promo pak.

  8. digdo purnama berkata:

    maaf ikut komen, menambahi jwban diatas air mira atau air kelapa tua yg sudah terfermentasi (berbau seperti legen atau air tape) masih hrs ditambah asam asetat untuk memperoleh ph yg tepat untuk pertumbuhan nata, kadar gula dan za juga hrs mencukupi, kalau kurang mungkin tdk terbentuk atu nata yg terbentuk kurang baik. info starter bisa inbox di. digdoyoga@ymail.com

    • Iqmal berkata:

      sipppp….sukses terus usahanya….

      • silva berkata:

        Mks infonya, saya dpt info dr teman dimana temannya bekerja disalah satu industri nata de coco, si pekerja tsb tdk mau memberikan nata de coco tsb kepada anak dan sanak saudaranya krn dlm prosesnya menggunakan urea, sejak saat itu teman saya juga tidak mengkonsumsi nata de coco tsb, sedangkan saya yang baru tahu kasus ini mk coba menjadi di google dan dapat berita ternyata hoax, tp masih was-was.

      • Iqmal berkata:

        jangan khawatir, pada produk nata yang sudah dikemas, kandungan urea dipastikan sudah tidak ada lagi…

  9. Tony berkata:

    Uraian diatas sangat meyakinkan dan masuk akal, tapi jangan lupa bahwa dalam rantai makanan tetap ada unsur yang terbawa dalam proser pertumbuhan. Akan lebih bagus lagi kalau produk yang dimaksud dibuat dengan sistem organik jadi produk tersebut benar2 amam untuk dikonsumsi. Sebab unsur yang terbawa dari rantai makanan tidak bisa hilang dengan dicuci.

    • Iqmal berkata:

      silakan produksi yang organik mas…yang penting sterilisasinya juga tetap dijaga baik, karena mungkin kontaminasi akan lebih besar….

  10. Dwi Suwarno berkata:

    maaf gan, soal media nya. ini dipakai 1x apa bisa berulang kali, misalkan, kalau bisa produksi tp belum banyak, gimana pemasaranya, mohon info nya bos sms ke 0857 2522 4043

    • Iqmal berkata:

      media kalau sudah dipanen pada dasarnya masih ada bakteri yang terus tumbuh dan menghaslkan nata, tapi selalu dilihat volume yang tersisa apa masih memungkinkan atau tidak ?
      Kalau soal pemasaran, saya tidak ada info lebih lanjut, silakan bekerjasama dengan usaha yang sudah ada sebagai pemasok nata atau mencoba membuka pasar sendiri.

  11. gunung berkata:

    Baru tahu klo prosesnya pake Urea,, kasus yg d jogja bagaimana ya?kok d brita hilang

    • Iqmal berkata:

      saya tidak tahu perkembangan kasus tersebut, mudah-mudahan dapat terselesaikan dengan baik dan tidak membuat masyarakat banyak semakin khawatir.

  12. Andreas berkata:

    Saya kebetulan praktisi minuman beralkohol yang pasti melalui proses fermentasi.
    Memang benar bahwa kandungan Urea dan NPK merupakan nutrisi bagi ragi dan mempercepat proses produksi..
    Dalam proses pembuatan alkohol, kita menggunakan bahan bahan yang memang sudah diperuntukkan bagi produksi tersebut, dalam arti bahan bahannya adalah food grade.
    yang menjadi pertanyaan adalah apakah Urea dan NPK ini kelasnya adalah food grade atau bukan.. Bagaimana proses produksinya dan bagaimana proses pengemasannya..
    mungkin itu adalah topik yang perlu kita pertanyakan..
    Semisal proses produksi tempe, di beberapa tempat saya masih melihat proses pencuciannya dilakukan di sungai yang kotor. Saya yakin bahwa hasil akhir dari tempe tersebut juga akan kotor.
    Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa dalam proses produksi bahan bahan food grade, pasti memiliki standar tertentu, baik dari peralatan maupun penanganan.
    Peralatan mungkin tidak ada yang berkarat.. karena mereka tahu bahwa peruntukannya adalah untuk konsumsi manusia.
    sedangkan untuk Urea dan NPK kan jelas jelas ditujukan untuk tanaman, sehingga mungkin penggunaan sekop yang berkarat atau sempat dipakai untuk pindahin pasir atau yang lainnya lalu dipakai lagi untuk nyekop Urea atau NPK tidak akan terlalu bermasalah..

    • Iqmal berkata:

      betul bapak, kata kuncinya adalah seperti yang bapak tuliskan :
      “…sedangkan untuk Urea dan NPK kan jelas jelas ditujukan untuk tanaman…”
      Tanaman untuk tumbuh optimal perlu diberi nutrien, sehingga dapat menghasilkan buah/daun/umbi yang dapat dipanen. Setelah dipanen pasti akan ada PROSES PASCA PANEN yang tentunya akan menghilangkan dan membersihkan semua bahan yang mungkin diberikan pada saat PROSES PENANAMAN/PERTUMBUHAN TANAMAN. Kalau pada tanaman biasa, penambahan pupuk dan pestisida/insektisida (yang ini masuk kategori B3 atau bahan kimia dan beracun) rutin dilakukan, tentu saja dengan pengolahan pasca panen, bahan-bahan tersebut tidak akan terbawa sampai ke konsumen.
      Seperti halnya pada nata, PROSES PENANAMAN/PERTUMBUHAN TANAMAN bakteri Acetobacter xylinium juga memerlukan nutrien (C dari gula, N dari urea atau ZA) dengan dosis relatif rendah, serta dengan dibantu asam asetat untuk pengkondisian pH rendah. Setelah itu PROSES PASCA PANEN berupa pengambilan lembaran nata dan pencucian berulang kali sehingga nata bebas dari sisa media (bakteri, asam, bahan-bahan dalam media termasuk nata).
      Analogi pada tempe, itu SANGAT KURANG TEPAT pak. Pada tempe, jelas tidak ada proses pasca panennya. Semua bagian dari tempe langsung dikonsumsi manusia. Pada Nata, manusia jelas-jelas tidak mengkonsumsi media pertumbuhan bakterinya (ingat pada kasus nasi, manusia tidak mengkonsumsi air sawah/lumpur sebagai media pertumbuhan tanaman padinya).
      Analogi pada produksi minuman keras beralkohol dengan fermentasi, saya kurang tahu sifat-sifat mikroorganisme yang digunakan, sehingga kondisi optimumnya seperti apa saya tidak tahu.
      Yang jelas saya tahu proses pembuatan nata de coco, mulai dari PROSES PENANAMAN/PERTUMBUHAN Acetobacter Xylinium sampai PROSES PASCA PANEN produksi nata.
      Terima kasih banyak komentarnya pak.

  13. Harry H. Funa berkata:

    Klo Za food grade dapetnya di mana, ya, soalnya di Bogor gak ada yg jual. Makasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s