Satu perasaan kurang bahkan mungkin bisa disebut kesedihan apabila berkunjung ke komplek candi yang ada di sekitar Yogyakarta. Banyak hal yang terlihat kurang sempurna saat melihat-lihat bagnunan dan detail beberapa candi yang ada, jadi mungkin lebih tepat disebut bekas candi. Beberapa detail batu ataupun bahkan relief pun tidak sempurna karena sudah tidak lengkap lagi utuh terbentuk.

Ketidakutuhan bagian candi tersebut dapat diakibatkan karena banyak batu yang hilang seperti tertimbun tanah atau berpindah ke tempat lain. Sering juga terjadi karena digunakan untuk kepentingan lain oleh orang yang tidak tahu, misal untuk bahan bangunan. Kasus ini dijumpai batu untuk landasan pondasi rumah atau pada kasus candi yang tersusun atas batubata dimana batu digunakan untuk dinding rumah.

Detail candi kadang terlihat cantik dengan ornamen patung atau arca batu serta relief di dinding. Kerusakan candi juga dapat terjadi akibat kerusakan pada arca dan relief ini. Kerusakan dapat terjadi akibat pertumbuhan lumut, jatuh, atau sebab lain.

Namun ada satu penyebab kerusakan yang sangat disayangkan lagi adalah berupa kerusakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Atas alasan ekonomi benda budaya seperti ini dapat memiliki nilai ekonomi yang tinggi di pasar gelap. Walaupun dilindungi undang-undang yang melarang perdagangan gelap atas benda cagar budaya seperti ini, tetap saja terjadi penjualan karena iming-iming harga penjualan yang tinggi.

Patung korban mutilasi.

Patung korban mutilasi.

Arca Prajnaparamita tanpa kepala

Arca Prajnaparamita tanpa kepala

Patung Budha hasil mutilasi.

Patung Budha hasil mutilasi.

Jika satu patung batu sering berukuran besar dan berat, sehingga tidak mungkin dibawa dengan mudah. Ada aksi lain yang tetap nekad dengan mengambil bagian patung batu itu. Pelaku ini nekad memenggal patung sehingga diperoleh potongan kepala arca yang tetap bernilai jual. Kepala arca ini diketahui banyak diperjualbelikan sebagai barang antik yang berharga tinggi. Hasil tinggalan tindak pemenggalan ini tentu saja berupa sosok patung arca batu yang tidak sempurna lagi karena sudah tidak berkepala lagi.

Mutilasi arca batu seperti ini ternyata memperlihatkan peran para oknum kolektor benda seni yang tidak bertanggung jawab. Atas nama kecintaan pada benda koleksi atau bahkan lebih pada ketamakan untuk memperoleh keuntungan dari investasi pada kepemilikan benda koleksi budaya seperti arca patung batu ini, maka mereka mau membeli bagian patung hasil penggalan di pasar gelap. Patung seperti ini walaupun tidak utuh lagi tetap memiliki nilai jual yang tinggi. Sudan bukan rahasia lagi kalau banyak kolektor benda seni yang juga memiliki koleksi arca patung dengan penyimpanan khusus.

Selain kepemilikan patung secara personal, sebenarnya ada lagi bentuk penguasaan yang jauh lebih parah. Benda-benda budaya seperti patung ini diperoleh melalui penjarahan massal. Hal ini sudah berlangsung sejak lama oleh bangsa-bangsa Eropa sejak beberapa ratus tahun lalu. Bangsa penjajah itu selain menjajah bangsa lain dengan menjadikan perasan ekonomi, mereka juga melakukan perampokan besar-besaran pada benda budaya yang ada sebagai kekayaan bangsa yang dijajahnya. Tidak hanya di Indonesia, tetapi praktek penjarahan massal ini juga terjadi di bangsa-bangsa kaya budaya seperti di Mesir, Chili dan lain-lainnya. Benda budaya yang dijarah ini sekarang banyak hilang karena dikoleksi secara pribadi dan juga ada sebagian yang disimpan untuk pajangan pada museum-museum terkemuka di Eropa. Padahal jelas kalau benda budaya tersebut bukan merupakan kebudayaan asli bangsa mereka.

Dalam rangka pengembalian benda budaya seperti ini, pemerintah negara asli perlu melakukan pendekatan untuk dapat mengembalikan kembali sehingga dapat ditempatkan kembali di negara asalnya. Kerjasama pengembalian barang cagar budaya ini perlu dilakukan terus menerus. Bentuk yang sudah terjadi antara lain pengembalian mummi di Mesir. Untuk itu pemerintah RI perlu terus melakukan penelusuran patung-patung asli dan benda budaya lain dari Indonesia yang sekarang berada di negara lain untuk dikembalikan.

Pembuatan replika benda budaya perlu juga dilakukan dalam rangka membuat benda budaya dapat dilihat oleh khalayak lebih banyak. Replika dapat dibuat dengan ukuran asli dan menggunakan bahan yang mirip. Untuk diketahui banyak seniman tanah air yang cukup terampil untuk membuat berbagai bentuk dari olahan batu atau bahan lain. Dari sisi sejarah, tidak diperkenankan untuk menempatkan replika pada lokasi aslinya. Dengan demikian perlu pengaturan dan penempatan produk-produk replika ini untuk museum atau kawasan wisata tertentu lainnya.

Kembali pada soal antisipasi benda budaya seperti patung batu yang terdapat di lokasi aslinya, seringkali terbentur pada ancaman pencurian dan kerusakan karena faktor alam atau manusia. Untuk itu faktor pengamanan barang di lokasi secara in situ perlu dilakukan semaksimal mungkin. Kendala yang terjadi adalah kepedulian masyarakat sekarang yang relatif rendah. Tenaga untuk pelaksanaan hal ini relatif masih belum diprioritaskan. Untuk itu aspek penjagaan dapat dilakukan melalui keterlibatan masyarakat sekitar. Penjaga dan pelaksana situs-situs sejarah dapat direkrut dari masyarakat sekitar dengan pelatihan khusus. Selain itu juga diperlukan upaya sosialisasi untuk membangkitkan kesadaran masyarakat untuk pelestarian akan benda sejarah.

Sisi lain adalah keberadaan benda budaya juga masih banyak yang tersembunyi akibat tertutup atau tertimbun tanah. Penemuan seperti ini seringkali tidak sengaja misal saat mengolah tanah untuk sawah. Penemuan seperti ini perlu segera diberitahukan kepada pihak terkait sehingga dapat segera ditindaklanjuti untuk penggalian dan rekonstruksi. Kepada para penemu terus diberikan tali asih atas penemuan barang sejarah. Dengan demikian tidak terjadi penemuan benda budaya yang kemudian dilakukan dengan penjualan ke pasar gelap termasuk juga aksi pemenggalan.

Sungguh bangsa kita itu memang bangsa yang kaya memang. Sayang banyak dari kita yang belum sadar untuk mewujudkan kesejahteraan kita bersama. Termasuk juga dalam hal perlindungan benda budaya seperti patung arca sisa-sisa kebudayaan kita jaman dulu. Semoga tidak terjadi kasus mutilasi-mutilasi patung lagi.

Sekarang sudah ada kepalanya.

Sekarang sudah ada kepalanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s