Pengaruh modernisasi sering digunakan untuk menunjukkan kemajuan dan keunggulan teknologi dalam membantu kehidupan manusia. Akan tetapi dalam kenyataannya sering beberapa kearifan lokal dan budaya yang selama ini diterapkan masih memiliki aspek keunggulan lain. Tidak jarang keunggulan ini sering tersembunyi dan menjadi hilang saat diterapkan suatu penggantian teknologi baru.

Saya merasakan hal ini pada produk di sekitar kita yang sering dijumpai sehari-hari yaitu makanan tempe. Tempe merupakan bahan olahan dari bijih kedelai yang dibuat dengan penumbuhan jamur tempe. Dalam proses pembuatannya, bijih kedelai dikupas dari kulitnya, dicuci dan direbus, setelah itu ditambahkan starter jamur tempe untuk kemudian diinokulasi. Proses selama inokulasi ini yang memerlukan waktu sekitar 8 jam lebih biasa dilakukan dengan pembungkusan.

Kalau selama ini menggunakan bahan tempe tadi biasa dibungkus dari daun pisang. Bahan ini banyak terdapat di pedesaan dengan menggunakan jenis pisang kluthuk yang berdaun lebar dan cukup kuat saat dilipat. Memang pasokan daun pisang seringkali terhambat terlebih jika produksi tempe cukup banyak. Seringkali ada modifikasi dari pembuat tempe dengan menggunakan kombinasi bungkus tempe dari daun pisang di lapis dalam dan kemudian di lapis terluar menggunakan kertas.

Tempe dibungkus daun pisang.

Tempe dibungkus daun pisang.

Tempe dibungkus daun pisang dan kertas bekas.

Tempe dibungkus daun pisang dan kertas bekas.

Tempe dibungkus plastik.

Tempe dibungkus plastik.

Dengan penemuan bahan baru dalam dunia polimer maka ditemukan berbagai jenis plastik. Saat ini banyak ditemukan macam-macam plastik di pasaran dari berbagai jenis, berbagai ketebalan dan ukuran. Harga yang ditetapkan pun relatif murah dan terjangkau. Penggunaan plastik inipun akhirnya sampai juga untuk keperluan pembungkusan tempe saat diinokulasi. Jadi bahan tempe yang sudah siap ditumbuhkan jamurnya, dimasukkan dalam plastik tipis untuk kemudian dibiarkan terjadi proses inokulasi. Dengan penggunaan bahan ini, tempe tetap dapat dihasilkan dengan baik. Bahkan sering dipromosikan dengan keunggulan aspek sanitasi karena plastik relatif lebih bersih.

Namun bagi beberapa orang yang fanatik akan rasa tempe, dikatakan ada perbedaan rasa tempe yang dibungkus dengan daun pisang dan yang dibungkus plastik. Rasa tempe lebih enak dari yang dihasilkan dengan pembungkusan menggunakan daun pisang. Kalau saya sih tidak bisa membedakan kedua rasa tempe ini. Pokoknya tempe sudah digoreng matang mau dijadikan mendoan atau sekedar tempe goreng mesti tandas, yang penting bukan tempe sudah terlalu masak dan jadi tempe bosok.

Soal keunggulan tempe yang dibungkus dengan daun pisang ini adalah jika dilihat dari aspek lingkungan. Daun pisang merupakan bahan organik yang diperoleh dari bahan sekitar dan bersifat terbarukan. Selain itu bahan ini setelah tempe diambil maka saat dibuang akan dapat terdegradasi secara cepat dengan proses pengomposan menjadi humus. Lain halnya jika menggunakan plastik untuk pembungkus, plastik yang terbuang dapat menambahkan jumlah sampah yang tertimbun lama karena tidak terdegradasi cepat.

Bagi pembuat tempe yang menggunakan kertas untuk lapisan luar pembungkus tempe pun dikatakan ikut peduli lingkungan. Saya yakin kertas pembungkus yang digunakan selalu adalah kertas bekas, bisa menggunakan kertas dari buku, kertas hvs dari kantor/sekolah, atau kertas koran / majalah. Dengan demikian terjadi juga prinsip daur ulang atau penggunaan kembali kertas bekas. Hanya saja untuk keperluan ini yang penting ditekankan adalah aspek kebersihan dari bahan yang digunakan. Meskipun untuk digunakan sebagai lapis terluar, tetap saja kertas harus dibersihkan sebelum digunakan.

Saya sendiri yang orang Banyumas merupakan pecinta makanan olahan dari tempe yakni mendoan, biasanya kurang begitu memperhatikan apakah tempenya dibungkus dengan daun pisang atau plastik. Pokoknya tempe sudah digoreng dengan selimut tepung beras diberi potongan daun bawang atau kucai, dengan aroma bawang-ketumbar yang khas, biasanya selalu disantap sampai habis. Biarlah jadi disebut ‘bangsa tempe’, karena memang kenyataannya hobbynya makan tempe kok….

Tempe goreng.

Tempe goreng.

4 responses »

  1. bu d' Ima mengatakan:

    apa maning nganggo sambel kecap….

  2. anjar mengatakan:

    selamat malam pak iqmal, dosen kimia dasar saya dulu. Hehe…
    menurut bapak, dari segi kesehatan, apakah tempe dengan pembungkus plastik sama amannya dengan pembungkus daun? Kan selama proses pematangan tempe ini dihasilkan panas juga.

    • Iqmal mengatakan:

      Kalau gunakan plastik baru ya aman, khususnya kalau digunakan plastik jenis HDPE yang tahan panas, walaupun sebenarnya panas yang dihasilkan selama feremntasi tentunya tidak sampai sangat tinggi sekali untuk menyebabkan degradasi polimer plastik… yang patut diperhatikan tentunya adalah plastik jangan dibungkus rapat sekali termasuk untuk sirkulasi panas…
      kalau temperatur naik juga proses fermentasi mungkin bisa berlangsung lebih cepat efeknya ya tempe lebih cepat matang dan segera busuk, kecuali mau produksi tempe bosok buat bumbu masakan sih, hehe….
      salam juga, dulu kuliah di mana memang nih ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s