Tempat tinggal kami terletak di daerah pinggiran kota Yogyakarta bagian barat. Sebenarnya kalau dari pusat kota, misal ke Malioboro, tidak terlalu jauh, hanya saja tidak ada jalan besar yang tersedia menghubungkan daerah kami ke sana. Jadi kalau mau ke pusat kota harus memutar dulu lewat jalan Godean atau Jalan Wates. Ada juga jalan pintas yang memang jadi membuat jarak sangat dekat karena relatif tinggal lurus sejajar jalan rel kereta api. Namun jalan pintas ini hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda dua saja. Jalan ini harus melewati beberapa areal persawahan dan sungai dengan jembatan kecil yang harus naik turun tebing. Jalan juga sebagian masih berupa jalan tanah. Saat melewati sungai ini untunglah sudah tersedia jembatan kecil, sehingga pengguna jalan mudah saja menyebrang.

Jembatan ini tentunya dibangun dengan tujuan untuk memudahkan pengguna jalan lewat. Namun dalam prakteknya kemudian disalahgunakan untuk tempat duduk atau kongkow-kongkow oleh orang-orang tertentu. Memang ada juga para petani yang habis dari sawah atau penggembala hewan ternak yang menggunakannya untuk duduk. Seiring waktu banyak juga anak muda dan remaja, khususnya dari jenis laki-laki, yang menggunakan untuk tempat kongkow-kongkow. Hal ini dilakukan sepanjang waktu bahkan saat waktu sekolah pun sudah ada pelajar yang mungkin membolos sekolah dan duduk di sana.

Kalau sekedar duduk mungkin tidak apa. Akan tetapi ternyata kemudian banyak perilaku negatif yang dilakukan mereka di atas jembatan kecil ini. Mulai dari yang iseng menggoda pengguna jalan yang lewat atau hanya sekedar melihat iseng. Mengingat ini jalan terobosan dengan lebar sekedarnya kalau ada orang mau lewat tentu merasa sungkan dengan keberadaan gerombolan orang yang ada di jembatan.

Jembatan kecil di tepi kampung.

Jembatan kecil di tepi kampung.


Seiring waktu, ada juga yang mulai mengarah ke kasus kriminal yaitu minta uang dengan agak memaksa pada orang yang lewat. Anak saya yang sering menggunakan jalan ini pun pernah jadi korban dipalak oleh sekelompok orang yang ada di situ. Akibatnya sekarang tidak mau lewat jalan itu lagi kalau bepergian sendirian. Keresahan yang lain adalah saat sering di waktu pagi di dekat jembatan dijumpai botol-botol bekas minuman keras yang betebaran. Kalau sudah seperti ini tentu saja sudah menimbulkan keresahan  karena kondisi rawan yang mungkin ditimbulkan mereka.

Gerombolan remaja yang liar ini diketahui ternyata bukan dari daerah setempat, melainkan dari daerah tetangga dan didatangi juga oleh teman-teman mereka dari daerah lain. Biasanya kalau mereka diminta untuk pergi baik secara baik-baik ataupun dipaksa sering tidak terima. Warga setempat pun mungkin enggan untuk mengusir gerombolan karena takut ada efek atau balasan dari mereka. Dengan demikian gerombolan remaja ini tetap dapat menggunakan jembatan kecil ini untuk tempat mereka berpesta ria.

Sadar kalau untuk mengusir mereka tidak mudah, ternyata warga setempat punya cara unik untuk membuat jembatan tidak disalah gunakan. Cara yang dilakukan juga ternyata sangat gampang dan saya sendiri hampir tidak menyangkanya. Mereka melumuri bahu jembatan dengan oli bekas sampai merata. Jadi bahu jembatan yang merupakan pembatas tepi supaya orang tidak jatuh sekarang menjadi berlumuran oli. Orang yang tadinya dapat memanfaatkan untuk tempat duduk maka sekarang tentu akan enggan duduk di sana, kecuali harus rela berlumuran oli di bagian pantatnya.

Bahu jembatan hitam dan basah karena dilumuri oli bekas.

Bahu jembatan hitam dan basah karena dilumuri oli bekas.


Jembatan sekarang lenggang tidak untuk lokasi kongkow2 lagi.

Jembatan sekarang lenggang tidak untuk lokasi kongkow2 lagi.


Cara ini ternyata sangat efektif terbukti sekarang hampir tidak pernah lagi ada orang yang duduk-duduk di jembatan tersebut. Kalau sudah seperti ini mungkin bagi para pengguna jalan yang lewat pun jadi merasa nyaman dan aman untuk lewat di jalan ini. Unik memang.

 

7 responses »

  1. sukraeni mengatakan:

    ini dimananya kanoman pak..? jembatannya kok mencurigakan..😀

    • Iqmal mengatakan:

      ya itu jembatan kecil untuk jalur terobosan langsung dari kanoman ke soragan…. memang tahu daerah situ ya ? Sukraeini tinggal di mana memang ?

  2. sukraeni mengatakan:

    rumah ibu sy di janten pak… klo sekarang di sidorejo… deket pak.. tetangga desa.. bukan jembatan yg menghubungkan ke sutopadan itu ya pak?

    • Iqmal mengatakan:

      hehe… itu tadinya sering untuk duduk-duduk penggembala kambing atau bapak-bapak yang habis dari sawah sambil memandikan kerbau di bawahnya… tetapi lama-lama dianeksasi oknum anak muda untuk nongkrong dan minum-minum… akhirnya dilumuri oli saja tuh…

  3. bram mengatakan:

    Ide bagus pak. Kondisi kami lebih parah. Anak2 umur 8-15 berganti2 nongkrong pas di depan rumah kami. Kami gak bisa lumuri oli, karena turap got yg dijadikan tempat duduk, kami gunakan buat kluar masuk mobil. Bahkan kami yg permisi untuk akses keluar masuk. Selain merokok, kata jorok, melecehkan teman perempuan, mabuk, banyak banget yg memperlihatkan prilaku buruk ke anak kami sendiri. Pusing kami. Ada ide pak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s