Awal Juni 2012 ini visa kunjungan saya hampir habis sementara visa pelajar belum jadi. Akhirnya diputuskan untuk keluar dulu dari Malaysia menuju Thailand. Kebetulan kota tempat saya belajar  ini di Kangar, Perlis,  relatif dekat dengan perbatasan jadi kepergian ke sana tidak begitu jauh. Kali ini kami naik kereta api dari Arau menuju Hatyai.

Hatyai ibukota dari Songklha yang merupakan propinsi di kawasan Thailand selatan. Wilayah ini berbatasan dengan propinsi Phatani yang saat ini dikenal sebagai kawasan rawan konflik separatis. Hatyai ini sendiri merupakan kota terbesar di kawasan Thailand selatan dan relatif aman untuk kunjungan wisata para turis. Dari sini biasanya pengunjung satu paket untuk kemudian berkunjung ke kawasan Phuket yang merupakan daerah wisata pantai yang cukup terkenal.

Berangkat pagi masih gelap bersama kawan saya Amri menuju setasiun kereta api di Arau. Kami waktu itu diantar Mokhzani. Sampai di stasiun tidak menunggu lama karena memang waktu itu dari rumah juga sudah mepet, jadi langsung naik. Waktu itu loket belum buka dan sore sebelumnya saat ke stasiun pun disarankan untuk langsung beli tiket di kondektur. Di kereta kami langsung naik gerbong terdepan yang memang gerbong untuk lintas negara.

Lucunya waktu itu ternyata malah akhirnya tidak bayar tiket kereta api Arau-Padang Besar. Kota terakhir ini merupakan kota di perbatasan Malaysia-Thailand yang merupakan check point kedua negara apabila bepergian menggunakan kereta api. Jadi sewaktu diperiksa kondektur kereta api, kami hanya ditanya dan kemudian disuruh bayar di stasiun Padang Besar saja. Tak sampai 30 menit pun kami sudah sampai di stasiun ini. Kemudian langsung mengurus ke bagian imigrasi Malaysia dan kemudian masuk ke bagian imigrasi Thailand. Setelah itu barulah kami mencari loket pembayaran tiket yang ternyata malah diarahkan ke peron pengelola kereta api milik Thailand. Di sini pun kami hanya dikenakan bayaran tiket untuk rute Padang Besar-Hatyai saja. Tadinya diminta bayar pakai uang bath tapi karena belum ada persediaan jadi masih dibayar dengan uang ringgit saja.

Kami harus menunggu sekitar 1 jam lebih di stasiun untuk sampai keberangkatan kereta api karena harus menunggu lokomotif siap. Waktu itu kami habiskan sambil sarapan pagi di kafetaria stasiun. Akhirnya kami pun naik kereta api dengan gerbong yang sama tetapi berbeda lokomotif untuk berjalan menuju Hatyai.

Di stasiun kereta api Hatyai.

Di stasiun kereta api Hatyai.



Pintu keluar

Pintu keluar


Gerbong kereta antik pun masih digunakan.

Gerbong kereta antik pun masih digunakan.


Suasana dan pemandangan di tepi jalan memang berbeda di kedua negara ini. Di sisi Malaysia masih tampak geliat pembangunan, khususnya karena sedang dalam taraf pembuatan jalur kereta api double track. Di wilayah Thailand waktu itu lebih banyak melewati kawasan perkebunan karet dan diselingi kebun-kebun liar. Perjalanan sejauh 45 menit waktu itu melewati beberapa kawasan kota kecil sebelum akhirnya sampai di stasiun kota Hatyai ini.

Suasana stasiun Hatyai atau disebut sebagai Hatyai Junction terkesan seperti stasiun di kota-kota di Jawa beberapa tahun lalu. Banyak pedagang asongan yang berada di komplek stasiun. Begitu keluar dari pintu gerbang stasiun langsung disambut dengan tawaran untuk naik tuk-tuk atau ada juga tawaran sewa mobil untuk wisata di daerah tersebut. Kami waktu itu segera berjalan ke kawasan kota untuk mencari tempat penukaran uang untuk menukar Ringgit kami dengan uang Bath. Nilai tukarnya untuk 1 ringgit sekitar 10 bath.

Di depan stasiun kereta api.

Di depan stasiun kereta api.


Tuktuk - kendaraan angkutan andalan.

Tuktuk – kendaraan angkutan andalan.

Salah satu sudut kota Hatya.

Salah satu sudut kota Hatya.


Setelah itu barulah kami kembali ke kawasan stasiun untuk mencari warung makan Melayu yang menyediakan makanan halal. Di Hatyai sebenarnya juga ada beberapa restauran muslim namun harganya kadang relatif tinggi, dan kami sebelumnya sudah tahu warung makan muslim yang berada di depan stasiun ini, jadinya langsung ke sana saja. Meskipun yang jual orang melayu siam, namun masakan yang dijual sudah memiliki rasa bumbu yang khas Thailand yakni pedas asam. Jauh berbeda dengan masakan melayu di Kangar yang pedasnya sangat tanggung.

Setelah perut terisi maka barulah perjalanan kaki diteruskan untuk mencari hotel untuk tempat menginap. Akhirnya dapat juga hotel yang cukup bersih yakni hotel Kings. Hotel di Hatyai relatif lebih murah daripada di Kualalumpur atau di Penang. Di sini cukup dengan 650 bath atau setara dengan 65 ringgit sudah dapat hotel berbintang 2 atau 3, dengan fasilitas ac, double bed, televisi, kamar mandi dalam, sabun dan handuk. Lokasi hotel pun berada di kawasan downtown jadi cukup jalan kaki sebentar saja sudah sampai di pusat keramaian kota Hatyai.

Setelah membongkar tas berisikan bekal pakaian dan beristirahat sebentar, kami pun bersiap berjalan-jalan menyusuri kota Hatyai. Tujuan pertama adalah masuk ke downtown untuk melihat-lihat suasana kota. Berbagai penjual souvenir tersedia sebagai kaki lima di pinggir jalan. Setelah jalan beralih menuju ke kawasan pasar, maka barang-barang yang dijual mulai beralih seperti makanan ringan, buah-buahan dan baju. Memang baju yang dijual di kawasan Hatyai ini relatif menjadi daya tarik komoditi bagi pelancong untuk datang ke sini karena harganya relatif murah. Jadi mirip-mirip dengan kota Bandung atau di Yogyakarta sendiri. Bahkan di Hatyai ini sendiri pun ada satu pasar khusus untuk tempat jual beli sandang ini. Berbagai jenis sandang tersedia di sini, seperti baju atau celana modern baju tradisional, kaos-kaos souvenir, baju anak-anak dan lain-lain.

Waktu itu paling hanya sekedar berjalan-jalan dan window shopping saja. Baru setelah berjalan dengan berdasarkan peta kota maka perjalanan berlanjut menuju kantor pos kota Hatyai. Di sana ternyata cukup menarik karena tersedia counter philatelis yang cukup representatif. Jadi langsung saja memilih berbagai jenis perangko Thailand. Harga perangko yang tersedia pun relatif lebih urah daripada perangko baru yang dikeluarkan Indonesia atau Malaysia. Desainnya pun cukup bagus dengan tampilan gambar yang sangat variatif. Akhirnya melayang juga ratusan bath untuk menukar kepingan perangko yang sudah dipilih. Tapi cukup puas juga.

Persembahan di altar kuil.

Persembahan di altar kuil.


Makanan siap saji yang banyak dijual di Hatyai

Makanan siap saji yang banyak dijual di Hatyai


Enak-enak lho...

Enak-enak lho…


Setelah itu perjalanan dilanjutkan lagi dengan berkeliling pusat kota dan menikmati istirahat di warung makan muslim ala Kelantan. Menjelang malam kami balik ke hotel untuk membersihkan diri. Saat itu saya juga menunggu kawan dari Indonesia yang sedang menempuh S3 di Prince Songkla University. Amin akhirnya datang juga menjelang sore hari setelah mengobrol sebentar kemudian dilanjutkan mencari makan malam yang akhirnya di restauran muslim dekat hotel. Sambil makan kami bertiga mengobrol panjang lebar tentang suasana Hatyai ini.

Kemudian malamnya jalan-jalan lagi menyusuri dan menikmati suasana malam kota Hatyai. Semakin malam semakin ramai juga suasana kota ini. Aktivitas malam juga samar-samar terlihat. Kalau yang paling wajar adalah tawaran untuk melakukan pijat atau massage. Aktivitas yang lain pun sebenarnya  juga cukup mudah tersedia di sini kalau memang berniat. Akhirnya setelah kaki lelah kami pun balik ke hotel.

Kalau saya di mana-mana biasanya ya segera terus pergi tertidur. Amri yang biasa begadang mungkin masih terjaga menikmati sajian televisi yang relatif banyak channel yang biasa diakses.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s