Ada satu catatan yang termasuk agak menggelikan dalam acara Dies Natalis Fakultas MIPA UGM tahun 2012 ini. Untuk tahun ini panitia membagikan sehelai kain batik untuk dijadikan baju seragam yang dikenakan pada acara pidato dies dan pembacaan laporan dekan 2008-2012.

Kain batik dominan warna hijau dengan motif batik Madura dibagikan kepada seluruh staf akademik fakultas baik tenaga kependidikan maupun yang non kependidikan. Tujuan pembagian kain batik ini agar dijadikan baju seragam fakultas MIPA dan secara khusus akan dikenakan pada acara puncak dies yang dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 19 September 2012.

Namun ternyata kebijakan ini tidak diterima oleh seluruh pihak, ternyata masih ada seorang dosen yang menentang hal ini. Menurut beliau, pihak fakultas melakukan kesalahan dengan pembagian kain batik ini yang diadakan dengan dana yang tidak sedikit sementara di sisi lain fakultas belum mampu menyediakan fasilitas riset di laboratorium dengan baik. Aksi penentangan ini diikuti dengan aksi tidak mengambil kain batik yang disediakan dan pada saat menghadiri acara dies mengenakan baju batik biasa.

Staf FMIPA berseragam batik mendengarkan pidato Dies Natalis.

Staf FMIPA berseragam batik mendengarkan pidato Dies Natalis.


Menurut saya pribadi, kebijakan batik seperti ini sih tidak masalah. Hal ini relatif bagus untuk kebersamaan dan juga untuk keperluan identitas pada acara-acara tertentu. Pemilihan  kain batik sekaligus untuk menggalakkan penggunaan warisan budaya bangsa kita berupa kain batik itu sendiri. Namun memang ada beberapa hal yang patut menjadi catatan tersendiri. Terlebih di saat yang bersamaan, di unit instansi Jurusan Kimia juga membagikan kain batik juga untuk dijadikan seragam Jurusan. Untungnya yang terakhir ini tidak ada kewajiban memakai secepatnya.

Kebijakan pembagian kain ini meskipun diterima banyak orang dengan senang hati, namun pada prakteknya akan menjadi beban tersendiri. Masing-masing orang harus membawa kain batik itu ke penjahit untuk dijadikan menjadikan baju atau kemeja. Tentu saja hal ini akan memerlukan biaya tersendiri untuk ongkos jahit baju tersebut. Di Yogya, biaya membuat baju relatif masih terjangkau yakni minimal empat puluh lima ribu rupiah, tergantung model yang diinginkannya. Selain itu dari sisi waktu antara pengambilan kain batik dan penyerahan order ke penjahit juga harus diatur seawal mungkin sehingga dapat selesai sebelum jadwal acara ini. Saya sendiri termasuk cepat mengambil kain tapi kemudian punya penyakit lupa dan penyakit ini kambuh sehingga lupa membawa kain baju ini secepatnya. Awalnya dibawa ke penjahit langganan yang sudah jadi rujukan isteri saya dan dijanjikan baru bias jadi 2 minggu. Mengingat akan terlambat maka pindah ke penjahit lainnya yang untungnya dapat jadi sebelum hari H-nya.

Sampai pada acara pada tanggal 19 September ini, kemudian kisah baju batik ini berlangsung lebih menarik. Memang suasana menjadi lebih cantik dengan kehadiran hampir seluruh peserta yang mengenakan baju batik seragam ini.  Panitia inti dan beberapa tamu undangan tidak mengenakan baju seragam ini. Termasuk yang tidak mengenakan baju seragam ini adalah beliau dosen yang menilai hal ini sebagai kebijakan yang salah.

Lucunya soal baju batik ini menjadi bahan yang diperbincangkan secara khusus. Pertama kali disampaikan oleh bapak Dekan FMIPA yang meminta maaf secara khusus soal kebijakan pembagian seragam ini di awal penyampaian laporan Dekan. Mengingat disampaikan dengan tidak begitu formal di sela-sela pidato resmi maka suasana menjadi lebih cair. Masalah baju seragam ini kembali muncul saat Dekan menyampaikan laporan perkembangan fasilitas laboratorium. Terakhir masalah seragam ini disinggung kembali saat pembacaan doa yang kebetulan dibacakan oleh sekretaris senat fakultas. Yang disorot adalah ketidakkompakan antara baju yang dikenakan oleh Ketua dan Sekretaris Senat fakultas. Saat itu memang bapak Sekretaris Senat mengenakan baju batik seragam sementara Ketua Senat seperti pejabat dekanat lain mengenakan baju jas formal.

Jadi kalau pihak yang jadi sorotan dalam acara Dies Natalis FMIPA UGM kali ini siapa lagi kalau bukan seragam batik warna hijau ini.

Selamat merayakan Dies Natalis FMIPA UGM, semoga selalu maju berkembang serta sukses mewujudkan misi dan visinya. Tidak lupa, selamat berbatik ria…

Pidato Dies Natalis oleh Dekan FMIPA UGM

Pidato Dies Natalis oleh Dekan FMIPA UGM


 

ps. Kalau ingin tahu soal acara Dies Natalis itu sendiri silakan langsung masuk ke website resmi Fakultas MIPA, jadi tulisan ini tidak ada kaitannya. Gambar-gambar diambil dari halaman FB pak Bambang Prastowo-JIKE MIPA UGM.

2 responses »

  1. Ryan Septyanto mengatakan:

    Salam SUKSES untuk kita semua.
    Batik is Amazing!!! apalagi kalo udah punya baju atau batik sendiri.

    agan/sist yg terhormat, kami dari pemegang merk dagang Batik aqila Menyediakan berbagai Produk BATIK murah dan berkualitas.

    BATIK – ANEKA batik-BAJU batik – KEMEJA batik – kaos BATIK – batik SARIMBIT- TOPI batik – CELANA batik – BLOUSE batik –

    JAKET batik – JUAL batik – batik MURAH – GROSIR batik – PAKAIAN batik – ACCESSORIS batik – batik PEKALONGAN
    JUAL ANEKA macam BATIK, TOPI, KAOS, BAJU, KEMEJA, CELANA, PAKAIAN, HARGA MURAH DAN GROSIR, terima PARTAI BESAR DAN KECIL

    silahkan kunjungi kami di toko online kami http://www.kaosbatikpekalongan.wordpress.com
    Batik Aqila For Smart Fashion
    Kepuasan Anda berbelanja di tempat kami, adalah kebanggaan bagi kami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s