Tulisan soal seragam batik dalam acara Dies Natalis FMIPA UGM ini berlanjut. Ini hasil pengamatan iseng saja dan kebetulan diamati juga oleh teman duduk waktu acara ini. Topik yang dibicarakan adalah bentuk tampilan baju seragam batik  yang digunakan para staf setelah dibagikan bakalan kain batik.

Makna seragam adalah dimaksudkan untuk menyamakan tampilan dalam format yang sama. Dalam hal ini yang ingin diseragamkan adalah baju yang dikenakan para staf. Dengan memberikan kain batik dengan motif yang sama maka diharapkan seluruh staf akan mengenakan baju batik yang seragam.

Akan tetapi dalam kenyataannya keseragaman ini tidak benar-benar terjadi seratus persen. Memang sebagian besar staf sudah mengenakan baju batik yang telah dibuat dari kain batik yang dibagikan itu. Keseragaman yang dihasilkan masih berupa baju dengan warna yang sama. Batik dengan nuansa hijau dan kuning ini memang mampu memberikan pemandangan yang berbeda pada perayaan Dies Natalis tahun 2012 ini. Akan tetapi jika diperhatikan dengan lebih detail lagi, ternyata baju yang dikenakan para staf itu masih belum seragam. Ternyata masih tampil dengan beraneka ragam dan variasi baju yang muncul akibat motif batik yang digunakan.

Variasi tampilan ini muncul akibat selera atau pemilihan para penjahit untuk mengatur motif batik yang diberikan dalam bentuk jahitan baju. Untuk diketahui motif kain batik ini bercorak gaya Madura dengan aksen garis diagonal. Dari hasil yang ditampilkan maka variasi yang dihasilkan dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok tampilan akhir, yakni bentuk kerucut menghadap ke atas (huruf V), kerucut menghadap ke bawah, diagonal miring ke kanan dan diagonal miring ke kiri. Gambar-gambar berikut mungkin sedikit mewakili kelompok-kelompok tersebut.

Variasi baju seragam batil staf tampak saat acara Dies Natalis.

Variasi baju seragam batil staf tampak saat acara Dies Natalis.



Motif kerucut

Motif kerucut


Motif huruf V

Motif huruf V


Motif diagonal / miring

Motif diagonal / miring


Motif untuk baju perempuan

Motif untuk baju perempuan


Ketidak seragaman yang lain adalah soal bentuk baju. Untuk staf pria, maka terdapat pilihan baju lengan panjang atau lengan pendek atau variasi bentuk dan jumlah saku baju. Baju seragam saya sendiri berupa baju lengan panjang dengan satu buah saku di dada sebelah kiri.

Seragam memang pada dasarnya dapat lebih mudah kalau menggunakan bahan dasar kain yang tidak bermotif alias polos. Kain seperti ini dapat diatur oleh penjahit dengan mudah dan menghasilkan baju yang sama. Selain itu tentunya diatur juga ketentuan lain seperti bentuk, jenis lengan, jumlah dan posisi saku. Akhirnya akan diperoleh baju yang seragam.

Penggunaan seragam yang bermotif sebenarnya juga banyak dilakukan di berbagai instansi lain. Contohnya adalah seragam pramugari maskapai penerbangan nasional atau perusahaan lain. Namun untuk mereka bisa diperoleh hasil baju yang juga seragam. Hal ini mungkin karena telah diatur dari awal mengenai bentuk baju tersebut.

Variasi dari baju seragam ini kemungkinan juga karena dilakukan oleh penjahit yang berbeda-beda. Masing-masing punya pemikiran yang berbeda untuk mengatur pemotongan posisi kain untuk baju tersebut. Apabila pembuatan baju dilakukan pada penjahit yang sama, kemungkinan besar akan menghasilkan baju yang lebih seragam lagi.

Jadi akhirnya memang yang diperoleh adalah ketidak-seragaman untuk seragam fakultas MIPA ini. Tidak apa-apa yang penting tampil bergaya baru untuk meraih kemajuan institusi.

2 responses »

  1. bu d' Ima mengatakan:

    kreatip mennn…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s