Beberapa waktu lalu, saya bersama isteri memenuhi undangan dari seorang kolega terkait hajatan perkawinan yang mengunduh mantu. Pesta resepsi yang dilaksanakan di auditorium universitas yakni di Grha Sabha Pramana sudah menunjukkan kalau resepsi itu berlangsung besar dan meriah. Jumlah pengunjung yang cukup banyak cukup menunjukkan kalau resepsi benar-benar dilaksanakan secara besar-besaran. Hal ini dapat dimaklumi karena yang punya hajat adalah seorang dosen terpandang dengan banyak kolega dan relasi.

Mengingat resepsi dilaksanakan oleh seorang berlatar belakang akademisi dan juga tempat resepsi dilaksanakan di auditorium universitas, maka bayangan tentang sosok-sosok yang hadir pun mestinya mayoritas dari kalangan terdidik pula. Namun tidak demikian, dalam kenyataanya terselip pula tingkah yang justru kurang pantas kalau dilakukan oleh orang yang terdidik. Situasi ini terlihat pada beberapa undangan yang sedang antri untuk menghormati pengantin dan orang tua pengantin.

Dengan jumlah undangan yang sangat banyak maka jelas antrian untuk memberikan ucapan selamat akan sangat panjang. Pihak panitia pun cukup rapi dengan mengatur mulai dari pengisian buku tamu yang ringkas, pemberian souvenir yang diberikan melalui kupon untuk ditukar saat pulang, pengaturan rute antrian, termasuk panitia khusus untuk menyambut tamu-tamu khusus sehingga tidak bersama dengan antrian tamu lainnya. Kami sebagai tamu undangan biasa pun harus mengikuti antrian hadirin tak terkecuali. Meskipun cukup panjang tetapi jelas harus sabar mengikuti deret antrian tersebut.

Ternyata ada saja tamu undangan yang tidak sabar dalam berderet untuk antri memberi ucapan selamat kepada pengantin ini. Ada juga beberapa pasangan suami isteri yang cuek saja menyalip deretan tamu yang antri untuk segera sampai di bagian depan tepat mau masuk naik tangga ke panggung pengantin. Jelas mereka bukan tamu khusus karena tidak diantar oleh pihak panitia lewat jalur khusus. Tentu saja para undangan yang tetap sabar mengantri sebagian menoleh menatap pasangan tersebut termasuk kami, meskipun sebagian lain juga membiarkan saja.

Saya dan isteri termasuk yang sama-sama merasa aneh dengan aksi nekad menyalip antrian oleh pasangan suami isteri tersebut. Saya pun komentar kecil ke isteri atas aksi tersebut, “Mungkin mereka terburu-buru akan menghadiri undangan resepsi di tempat lain yang bersamaan”.

Ilustrasi antre salaman di hajatan perkawinan.

Ilustrasi antre salaman di hajatan perkawinan.


Akhirnya sampai juga kami memberikan ucapan selamat kepada pengantin dan orang tua masing-masing dan kemudian menikmati hidangan yang disediakan. Saat itulah kami berjumpa lagi dengan penerobos antrian yang ternyata juga sedang asyik menikmati hidangan juga. Berarti asumsi kami soal mereka yang terburu-buru untuk menghadiri undangan lain adalah salah. Tadinya kami berpikiran demikian karena memang saat itu banyak undangan perkawinan jadi sangat mungkin beberapa orang mendapatkan undangan yang bersamaan.

Kami pun senyum-senyum sendiri karena langsung ingat akan kebiasaan salah para sopir bus malam di jalan raya. Mengingat kami sering bepergian dan kadang menjumpai antrian mobil yang terhalang pintu lintasan kereta api, maka jadi tahu beberapa kebiasaan sopir bus malam itu. Saat pengendara mobil lain sedang antre dan tertib untuk antre menunggu kereta api lewat dan pintu lintasan dibuka kembali, maka sopir bus ini dengan seenaknya langsung menyalip kendaraan yang sedang antre itu untuk langsung berada di bagian depan antrian. Jadi begitu pintu lintasan dibuka maka mereka akan segera langsung masuk pertama kali sementara kendaraan lain yang sudah antre terlebih dahulu mau tidak mau harus mengalah memberi jalan.

Jadi begitulah komentar usil kami kalau melihat orang-orang yang seenak sendirinya menyerobot antrian untuk mau menangnya sendiri. Termasuk pada kejadian malam itu, langsung otomatis muncul komentar, “Wow ada juga sopir bus malam di hajatan ini….”.

Ilustrasi bus saat antre kendaraan.

Ilustrasi bus saat antre kendaraan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s