Saya secara tidak sengaja menemukan satu gambar menarik di internet. Bagi orang awam mungkin tidak ada hal khusus yang bisa diambil dari gambar ini. Tetapi bagi beberapa orang kimia mungkin cukup menarik juga. Tidak apalah daripada tidak ada bahan tulisan maka dari gambar itu saja yang diangkat jadi postingan di blog ini.

Di beberapa daerah dengan posisi areal yang memiliki area miring biasanya sering diatasi dengan pengerukan di satu bagian kemudian menguruk bagian yang lain. Setelah itu akan diperoleh satu kawasan yang relatif rata. Konsekuensi dari hal ini maka akan terdapat satu bagian yang berupa tebing yang tegak atau kemiringan yang curam. Untuk mengatasi tebing supaya tidak longsor maka dibuat tebing beton atau tebing buatan dari batu. Hal ini dapat membantu mengatasi risiko tanah longsor akibat terkena hujan. Tebing buatan seperti ini kadang juga dibuat pada sungai atau saluran irigasi sebagai dinding sungai.

Soal pembuatan tebing inilah yang saya katakan terlihat unik. Ternyata membuat tebing ini juga dapat memiliki rasa seni juga. Batu disusun dan ditata dengan menggunakan adukan semen sehingga setelah kering dapat kuat dan rapat tidak tembus air. Terkadang penyusun memunculkan pola tertentu dari susunan batu-batu tersebut. Akan tetapi mengingat batu sering acak maka pola tersebut tidak akan menghasilkan gambar yang cukup rapi. Lain halnya kalau tebing batu tersebut dibuat dengan menggunaan conblok hasil buatan. Dengan bentuk yang sama maka pola gambar yagn dihasilkan pun akan seragam.

Contoh dari tebing yang dibuat dengan menggunakan conblock atau paving block ini saya tunjukkan pada gambar berikut. Gambar tersebut saya peroleh dari tebing yang berlokasi di sekolah smp di daerah Wonogiri. Gambar saya peroleh dari website sekolahan tersebut.

Tebing tembok di smp Wonogiri.

Tebing tembok di smp Wonogiri.

Kalau dilihat secara seksama seperti yang saya perbesar pada gambar berikutnya, maka struktur tersebut terlihat cukup rapi. Terdapat pola khusus pada sambungan semen yang menghubungkan satu batu dengan batu lainnya. Mengingat tebing dibuat dari paving block berbentuk segi enam atau heksagonal, maka hal ini di kimia mengingatkan pada struktur heksagonal pada cincin karbon.

Pola menyerupai grafen.

Pola menyerupai grafen.

Model struktur dari molekul grafen.

Model struktur dari molekul grafen.

Ternyata setelah terpasang rapi, susunan itu sangat mirip dengan struktur kimia dari molekul grafen. Bahan ini adalah salah satu bentuk alotrof dari senyawa karbon selain grafit, intan dan fullerene. Grafen ini semakin terkenal setelah peneliti yang menekuninya mendapatkan hadiah nobel bidang kimia tahun 2010 untuk Andre Geim dan Konstantin Novoselov. Grafen berbentuk lembaran karbon tersusun heksagonal yang membentuk lapisan dua dimensi sangat besar menyerupai sarang lebah. Grafen adalah lapisan-lapisan penyusun grafit yang bertumpukan.

Kebetulan di grup saya ada yang sedang meneliti bahan grafen sebagai bahan sensor. Jadi lihat gambar tadi langsung terbersit pada struktur grafen. Dari sini dapat juga untuk keperluan pembelajaran ya, kalau ingin tahu struktur molekul grafen seperti apa maka diminta saja melihat tembok dari paving segi enam itu saja, hehe….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s